Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta Widiyanto membenarkan jika implementasi dokumen delivery order (DO) online di Pelabuhan Tanjung Priok, belum berjalan 100%.
“Sampai sekarang yang sudah berjalan hanya antara pelayaran dan terminal petikemas, sebaliknya antara pelayaran dengan forwarder belum berjalan. Mestinya bisa terintegrasi antara perusahaan pelayaran, operator terminal, dan pemilik barang (forwarder),” kata Widiyanto kepada Ocean Week, di kantornya, Jakarta Utara, Senin (14/1).
Menurut Widiyanto, pihaknya sudah beberapa kali diundang rapat oleh pihak Otoritas Pelabuhan (OP) untuk membahas masalah DO Online ini, namun hasilnya sampai sekarang belum optimal. “Mestinya, antara pelayaran dengan forwarder dibuatkan juga sistem, dan forwarder menjadi membernya, sehingga pada saat forwarder mau mengambil DO ke pelayaran, pelayaran bisa mengecek kalau forwarder bersangkutan adalah membernya,” ungkap Widiyanto.
Dia juga mengungkapkan bahwa supaya DO Online dapat berjalan full, kenapa pelayaran tidak membuat sistem tersendiri khusus dengan forwarder. “Jadi nantinya tidak ada yang disembunykan lagi,” ucapnya.
Sekretaris ALFI DKI Jakarta Adil Karim juga menyatakan DO online di pelabuhan Priok saat ini baru sebatas menguhubungkan kepentingan antara terminal dan pelayaran, belum melibatkan pemilik barang atau forwarder sebagai wakil pemilik barang.
Makanya, untuk pengambilan DO ke pelayaran atau agennya masih menggunakan kurir, atau cara manual.
Waktu itu, ujar Adil, PT ILCS pernah menginisiasi untuk mengintegrasikan tiga kepentingan yakni pelayaran, terminal, dan pemilik barang dalam kaitan DO online di Priok melalui portal MyCargo.
“Dalam portal MyCargo sudah sangat gamblang pengintegrasian DO online dengan berbagai kepentingan itu. Sayangnya, sampai kini tidak bisa dioptimalkan. Oleh karena itu, regulator dalam hal ini otoritas pelabuhan dan operator pelabuhan mesti mendorong pengimplementasian sistem ini,” harapnya.
Dirut PT ILCS Jati Widagdo menyatakan untuk mengoptimalkan portal MyCargo, pihaknya sedang melakukan pelatihan kepada sekitar 200 perusahaan forwarder untuk bisa menggunakan sistem tersebut yang di dalamnya juga tersedia DO online. “MyCargo sudah bisa dimanfaatkan untuk vessel booking internasional yang terhubung ke 50 negara,” ungkapnya. (***)






























