Direktur Utama PT Pelindo IV Farid Padang, menyatakan bahwa perseroan siap membangun Manado Marine Bay untuk mendukung program pariwisata terintergasi di Sulawesi Utara. Selain itu, Pelindo IV juga kembali sedang menyiapkan lintasan Bitung-Davao untuk ekspor langsung ke Filipina.
Farid Padang mengemukakan Kementerian Perhubungan telah meminta kepada Pelindo IV untuk memberikan diskon khusus tarif pelabuhan pada pelayaran Bitung-Davao. “Kami (Pelindo IV) pada prinsipnya setuju untuk memberikan insentif berupa [diskon khusus] tersebut,” kata Farid dalam keterangan persnya, akhir pekan.
Farid menuturkan, untuk memicu peningkatan volume ekspor ke Filipina dan sebaliknya, mestinya harus ada barang balik, misalnya barang kebutuhan rumah tangga dan elektronik yang dapat langsung dikirim dari Filipina ke Bitung. Dan ini diharapkan dapat kontinu, sehingga rute tersebut berlangsung.
Seperti diketahui, lintasan Bitung Davao yang waktu itu diremikan oleh Presiden Jokowi dan Presiden Filipina, sempat terhenti pada 2017, karena sepinya volume barang yang diangkut. Namun, sempat kembali dibuka dan terhenti lagi.
Beberapa bulan lalu, Gubernur Sulut Dondokambey menyatakan akan kembali membuka rute Bitung Davao tersebut. Tapi Kali ini, kendala utamanya adalah biaya angkut peti kemas untuk ekspor yang tiga kali lebih mahal dibanding 2017 lalu.
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Sulut Daniel Pesik mengatakan bahwa sudah ada kapal yang datang ke Bitung. Kapal itu, yakni MV Baltic Summer berkapasitas 250 TEUs), sudah sandar di pelabuhan Bitung pada Kamis (11/7) lalu. “Kapal itu datang dari Labuan, Malaysia. Kargo untuk diekspor sudah ada, tapi biaya angkut terlalu mahal,” ungkapnya.
Dia memisalkan, pengiriman satu kontainer 20 feet ke Davao mencapai 1.600 dolar AS. Padahal menggunakan kapal Ro-Ro pada 2017 lalu, cuma 700 dolar AS. “Itu pun mereka kasih diskon lagi jadi cuma 500 dolar AS,” ujarnya.
Daniel bercerita bahwa biaya transportasi saat itu murah, karena PT Pelindo IV memberikan insentif potongan biaya pelabuhan (port charges).
Tetapi, saat ini perusahaan penyedia kapal Reefer Filipinas menolak menurunkan tarif angkutnya. Sebab perusahaan ini adalah perantara untuk pemilik kapal yang berasal dari Hong Kong. “Biaya transportasi sudah mereka mark up sehingga menyulitkan,” kata Daniel.
Manado Marine Bay
Sementara itu, Farid menuturkan, untuk pembangunan Manado Marine Bay, pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai institusi di wilayah Sulut, termasuk Pemerintan Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara, Pemerintah Kota (Pemkot) Manado dan Pemkot Bitung untuk mendukung pembangunan ini.
Farid menargetkan pembangunan Manado Marine Bay di kawasan wisata Taman Laut Bunaken dapat diselesaikan dalam 2 tahun sejak konstruksi pada 2020. Rencana itu, lanjutnya, juga sudah disampaikan kepada Menteri BUMN Rini M Soemarno, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.
“Masterplan untuk Manado Marine Bay sudah kami siapkan. Pembangunan pelabuhan ini juga untuk mendukung program Pemkot Manado sebagai Kota Pariwisata dan Kota Penyelenggara Kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition),” kata Farid.
Menurut Farid, Pelindo IV juga akan melakukan pengembangan Pelabuhan Manado dengan membangun dermaga 4 ukuran 6 x 10 meter persegi, pengerukan kolam pelabuhan kedalaman -4 LWS, pembangunan terminal penumpang dengan luas 1.600 meter persegi, dan lapangan penumpukan seluas 2.150 meter persegi.
Pelindo IV dan Pemprov Sulut berkomitmen melakukan hal itu dengan menandatangani Nota Kesepahaman untuk mendongkrak kinerja ekspor dan meningkatkan konektivitas Provinsi Sulawesi Utara dan Kawasan Timur Indonesia (KTI).
Kerja sama ini merupakan respons atas kebutuhan infrastruktur pelabuhan umum yang memadai dan pelayanan jasa kepelabuhanan untuk mendukung arus perdagangan barang, termasuk kegiatan ekspor dari Sulut. (ant/**)






























