Bisnis pelayaran masih wait and see. Apalagi Indonesia bakal punya hajat nasional yakni Pemilu dan Pilpres pada April 2019. Dalam situasi tahun politik tersebut, tentunya para pengusaha pelayaran masih harus menunggu hasil dari ‘pesta’ demokrasi tersebut. Tapi, bagaimanapun juga, pada era digital sekarang ini, bisnis pelayaran akan menghadapi tantangan dan persaingan yang sangat ketat di tahun-tahun mendatang.
Lalu bagaimana bisnis pelayaran nasional di tahun 2019 ?. Apakah semakin membaik dibandingkan tahun 2018 ini, atau sebaliknya semakin berat. Bagaimana strategi mengantisipasinya, untuk itu, Ocean Week berkesempatan mewawancarai Direktur Samudera Shipping Asmari Herry Prayitno, yang juga Ketua Komite Tetap Perhubungan Kadin Indonesia, dan mantan pengurus DPP INSA ini.
Prediksi Anda untuk bisnis pelayaran 2019 ?
Bisnis usaha pelayaran khususnya angkutan barang melalui laut di era digital seperti saat ini akan terus menghadapi persaingan yang sangat ketat, baik disebabkan karena pengaruh pasar global maupun domestik sebagai akibat dari antisipasi tahun politik, dimana umumnya belanja modal/investasi masih menunggu hasil Pemilu. Oleh karena itu prediksinya pada 2019 tidak jauh berbeda dengan tahun 2018, walaupun secara umum di perkirakan sedikit membaik.

Yakin membaik dan tumbuh, apa penyebabnya?
Sepertinya begitu, karena antara lain disebabkan untuk kegiatan ekspor masih akan tergantung dari pergerakan harga commodity seperti batubara, nikel ore dan product olahan sawit serta barang ekspor andalan lainnya seperti kertas/bubur kertas, garmen /textil. Pertumbuhan volume diharapkan akan sedikit mengalami kenaikan seiring dengan pertumbuhan PDB/economic dimana kenaikannya hampir sama dengan tahun 2018. Sedangkan untuk market domestik tetap akan ditopang oleh konsumsi yang diperkirakan akan terus sebagai motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan asumsi ekonomi Indonesia tumbuh 5,4%, volume kegiatan market domestik akan tumbuh kurang lebihnya sama dengan di tahun 2018, dengan catatan kegiatan Pemilu berlangsung relatif aman, damai dan tertib.
Bagaimana dengan sektor kontainer ?
Untuk sektor pelayaran khususnya bidang kontainer pelayaran domestik yang umumnya mengangkut barang-barang konsumsi pada tahun 2019, diproyeksikan lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya, utamanya karena tidak ada tambahan kapasitas pasang space kapal, sementara volume barang kegiatan domestik tumbuh seiring dengan pertemuan ekonomi tadi.
Untuk non kontainer ?
Proyeksi yang sama juga diperkirakan terjadi untuk angkutan non kontainer seperti barang curah kering baik sebagai energy maupun bahan baku industry pertambangan. Perkiraan tidak bertambahnya kapasitas pasang dikarenakan saat ini sudah over-supply juga proyeksi harga kapal terutama yang bekas akan mengalami kenaikan. Curah kering akan tumbuh cukup menjajikan seiring dengan harga commidity yang membaik, imbas dari suksesnya negosiasi pengambil alihan saham freeport serta mulai beroperasinya tambahan pembangkit listrik baru dan smelting (pengelolohan bahan baku industry tambang), demikian juga dengan curah cair yang stabil dan cenderung membaik terutama kontrak dengan Pertamina yang merupakan close market serta meningkatnya permintaan akibat penerapan B20.
Gemana dengan pelayaran General Kargo ?
Untuk angkutan general cargo akan cenderung turun akibat sebagian muatan dikonversi ke kontainer (seperti pupuk , semen dan beras). Sementara barang-barang proyek tidak cukup untuk mengkonvensasi yang dikonversi tadi, itu sebabnya pada angkutan general cargo para operator tidak mampu untuk melakukan peremajaan armada dan tambahan armada baru, kapal-kapal yang digunakan adalah kapal-kapal yang relatif tua yang memerlukan biaya pemeliharaan cukup besar.
Apa kendala dan tantangannya ?
Kendala dan tantangan yang dihadapi industri pelayaran di masa mendatang, antara lain kapasitas pasang yang berlebihan saat ini terutama di sektor angkutan kontainer dan curah kering akan terus berlanjut walaupun gap-nya menurun seiring dengan perkiraan kenaikan volume barang, tingkat freight akan stabil jika berbagi share pertumbuhan secara proporsional. Penerapan peraturan baru seperti BWM (ballas water management), low sulphur dan B20 akan sedikit banyak berimbas pada kemungkinan kenaikan biaya operasi yang pada ujungnya memungkinkan penyesuaian freight. Lalu sektor off-shore dan angkutan curah cair terutama BBM (Pertamina dan mitra kerjanya) diperkirakan stabil cenderung lebih baik dari sebelumnya.
Jadi ?
Peluang untuk angkutan laut/industri pelayaran domestik diperkirakan kebih baik di semua segmen dilihat dari sisi pasar sepanjang mampu mengatasi tantangan yang diperkirakan terjadi terutama adanya aturan baru baik yang berasal dari IMO maupun kebijakan dalam negeri.

Komentar Anda terhadap pelayaran di Tol Laut ?
Dengan perbaikan system dan komunikasi intensive antara pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan INSA sebagai wakil dari pelaku bisnis pelayaran, kedepannya pelaksanaan tol laut akan menjadi supplement (semacam vitamin) tambahan insentive yang ujungnya tentunya baik buat pelayaran terutama pada para operator yang sudah mempunyai jaringan luas dan memadai dan operator BUMN yang ditinjuk. Harapannya dalam rangka menghemat APBN dan agar tujuan dari penerapan program tol laut mencapai sasaran yang tetap yaitu tersedianya angkutan laut berjadwal secara regular ke setiap pelosok tanah air, maka konsentrasi tol laut hanya untuk jalur perintis saja, sedangkan untuk jalur komersial ya biarkan diserahkan ke bisnis to bisnis saja. (rid/**)































makasih admin artikelnya sangat membantu