Pemerintah saat ini masih mengkalkulasi dampak penyebaran virus Corona bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, termasuk kegiatan ekspor dan impor. Sebagaimana diketahui, arus barang dari China berkontribusi sebesar 27 persen terhadap total angka impor Indonesia. Sementara Pelayaran memperkirakan keterisian angkutan ekspor impor menurun 10 persen.
GM Pelindo II Tanjung Priok, Suparjo menyatakan secara umum arus barang melalui pelabuhan Tanjung Pirok belum terlihat angka detilnya, apakah terjadi penurunan atau tidak. “Yang lebih konsentrasi adalah pada pemeriksaan crew kapal saja sehingga penambatan di lakukan setelah KK melakukan pemeriksaan fisik,” katanya saat dihubungi Ocean Week, Jumat pagi (21/2).
Suparjo mengaku masih terus memonitor dan berkoordinasi dengan berbagai pihak dalam hal ini. “Selasa alu dirapatkan juga di kementerian BUMN bersama Pelindo 1 sampai 4. Sifatnya masih koordinasi dan antisipasi antar instansi terkait,” kata dia.
Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tanjung Priok Brata Sugema menyatakan kalau sampai saat ini virus corona masih belum terdeteksi di pelabuhan ini. Semua crew kapal asal China yang diperiksa, belum terindikasi. “Alhamduliullah tidak ada masalah di pelabuhan Priok. Ribuan crew dari China yang masuk kesini setelah kami periksa, aman saja,” ujar Brata menjawab pertanyaan Ocean Week soal kapal-kapal asal China yang masuk ke Priok.
Beberapa waktu sebelumnya, Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Ditjen Bea Cukai Syarif Hidayat menyatakan, memang ada penurunan impor, beriringan dengan mewabahnya virus corona.
Namun penurunan tersebut belum tentu disebabkan dampak virus Corona, karena memang biasanya saat Hari Raya Imlek ekspor dan impor memang turun.
“Kalau lihat tren dari Januari ke Desember nggak ada perubahan signifikan. Penurunan terjadi karena memang biasanya 2 pekan sebelum dan setelah Imlek, impor dan ekspor mengalami penurunan,” ungkapnya.
Menurut data Ditjen Bea Cukai, pada minggu ke-5 bulan Januari 2020 terjadi penurunan impor secara keseluruhan sebesar 39,6 persen (yoy) karena lonjakan impor komoditas minyak mentah, mesin, alat berat dan telepon pada Januari 2019.
Lalu pada minggu ke-1 Februari 2020, penurunan impor dari China mulai terlihat sebesar 28,62 persen di semua kategori BEC (bahan baku kain, part elektronik, bahan baku plastik, komputer dan furnitur).
Hanya saja, penurunan impor ini berbarengan dengan saat-saat dimana virus Corona mewabah, sehingga belum bisa dipastikan kalau impor turun disebabkan oleh Corona.
“Biasanya para importir sudah mempersiapkan, jadi belanja besar-besaran pas Desember untuk stok Imlek, sehingga saat Imlek, arus impor turun,” jelas Syarif.
Namun, jika dalam beberapa bulan ke depan penurunan terus terjadi, maka pemerintah akan segera melakukan penanganan karena kemungkinan besar memang disebabkan hal lain selain siklus.
“Kami akan tinjau dalam beberapa bulan ke depan nah kalau masih turun artinya memang bahaya, harus ada penanganan,” ujar Syarif.
Mulai Berkurang
Sementara itu, Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto menyatakan, volume barang impor yang diangkut kapal kargo dari Cina ke Indonesia mulai menurun akibat wabah virus corona. Hal itu terlihat pada keterisian ruang muat kapal yang mulai berkurang, khususnya para produk pangan impor.
Memang, kata Carmelia, larangan baru diberlakukan pada impor hewan hidup asal Cina. “Akan tetapi, importir juga berhati-hati untuk impor bahan pangan lainnya, karena khawatir tidak ada yang beli alias tak laku disini,” katanya.





























