Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan konsep pelabuhan terintegrasi/Integrated Port Network (IPN) diharapkan dapat menekan biaya logistik hingga 45 persen. Artinya, jika konsep ini terealisasi, dalam kurun waktu lima tahun, biaya logistik bisa turun hingga Rp765 triliun, atau 1,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Dalam rapat dengan Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa (25/6), Luhut menjelaskan bahwa konsep itu diharapkan sudah bisa diimplementasikan pada tahun 2020 mendatang untuk mendukung direct call.
“Sekarang studinya sedang dibuat Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) dan sudah final. Saya pikir dalam satu pertemuan lagi akan selesai. Saya berharap ini sudah bisa diimplementasikan di tahun depan,” katanya.
Menko Maritim Luhut juga mengatakan, meski telah ada pelayaran langsung tanpa transit (direct call) dari pelabuhan-pelabuhan di Indonesia, kapal-kapal pengangkut itu nyatanya masih melakukan transit di Singapura. “Singapura mengakomodasi 32 juta TEUs kontainer setahun, di mana dari angka tersebut, separuhnya atau sekitar 17 juta TEUs merupakan kontainer dari Indonesia,” ujarnya.

Oleh sebab itu, menurut Luhut, sudah saatnya Indonesia membutuhkan hub port tersendiri. “Jadi dengan studi yang dibuat Bappenas, kita sampai pada kesimpulan, kita bikin hub sendiri apakah di Kuala Tanjung, atau Tanjung Priok, atau mungkin Surabaya. Dari situ kita langsung direct call ke luar negeri, tidak lagi melalui Singapura sehingga akan membuat cost kita turun 35-45 persen,” katanya lagi.
Meski begitu, Luhut mengakui masih ada masalah yang terjadi dalam penetapan hub pelayaran direct call, yakni penolakan di daerah. “Tapi saya pikir, national interest kita yang paling penting. Yang penting, daerah-daerah itu tidak dirugikan,” ungkapnya.
Belawan Pelabuhan Ikan
Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan meminta supaya transisi lalu lintas kapal ke Kuala Tanjung dipercepat. Karena sampai saat ini masih banyak kapal beraktivitas di Pelabuhan Belawan. Padahal pemerintah ingin memfokuskan jalur logistik di Sumatera Utara (Sumut) lewat pelabuhan Kuala Tanjung.
“Jadi kita mau konsentrasi kepada Kuala Tanjung, nggak boleh dua-dua jadi tahun ini masa transisi,” kata Luhut.

Menurut Luhut, nantinya Pelabuhan Belawan akan difokuskan sebagai pelabuhan ikan. “Jadi nanti Pelabuhan Belawan itu hanya pelabuhan ikan,” katanya.
Untuk diketahui, pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung tahap I, yakni Kuala Tanjung Multipurpose Terminal (KTMT) sudah rampung dan sudah beroperasi.
Pelabuhan ini (KTMT) memiliki kapasitas 600 ribu TEUs, panjang dermaga 500×60 m, trestle sepanjang 2,8 km untuk empat jalur truk selebar 18,5 m, serta dilengkapi rak pipa 4 line x 8 inch.
KTMT juga didukung berbagai sarana dan prasarana infrastruktur bongkar muat modern dan canggih antara lain 3 unit Ship to Shore (STS) Crane, 8 unit Automated Rubber Tyred Gantry (ARTG) Crane, 21 unit truck terminal, dan 2 unit MHC serta Terminal Operating System (TOS) Peti Kemas maupun curah cair.
Pada Desember 2018 lalu, Pelabuhan ini melakukan uji coba pengoperasian perdana dengan pengapalan ekspor sebanyak 180 box atau 205 TEUs melalui direct call intra Asia.
Sementara itu, Direktur Utama Pelindo I Dian Rachmawan, kepada wartawan mengaku diminta oleh Menko Maritim Luhut untuk mempercepat transisi tersebut. “Tadi cuma ngasih tahu, Kuala Tanjung itu dipercepat. Dipercepat pengoperasiannya, ya kita percepat nanti,” ucapnya.
Dian belum mau banyak bicara mengenai pembahasan Pelabuhan Kuala Tanjung bersama Luhut. (Ant/dtc/**)






























