Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) DKI Jakarta dan Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (ASDEKI) DKI Jakarta, pada Senin (17/2), bertempat di Kelapa Gading Jakarta Utara bertemu untuk membahas kemacetan yang masih terjadi di luar pelabuhan Tanjung Priok.
Keduanya bersepakat untuk membuat SOP masing-masing, sehingga bisa menemukan solusi dalam mengatasi kemacetan.
Dalam kesempatan itu, juga mengenai kemacetan yang seringkali terjadi pada saat truk mengambil maupun mengembalikan kontainer kosong ke depo di luar pelabuhan.
Dalam pertemuan itu, hadir dari pihak Asdeki Jakarta yakni Abdul Yacub (Ketua) dan Ikhsan Taufik (sekretaris), sedangkan Aptrindo Jakarta, ada Dharmawan Witanto (ketua karetaker), H. Anas dan beberapa pengurus lainnya.
H. Anas menyampaikan tiga permintaan kepada Asdeki yang perlu menjadi perhatian.
Pertama agar tidak ada lagi pembayaran jasa lift on-lift off (Lo-Lo) yang ditalangi lebih dulu oleh pihak Trucking ke depo, namun pembayaran bisa oleh perusahaan forwarding, serta eksportir importir dengan melalui sistem online. Dan pihak Asdeki diminta mensosialisasikan kepada mereka, juga para pengusaha depo anggotanya.

Kedua, supaya ASDEKI bisa menyebar market share kontainer di depo anggotanya sehingga tidak ada lagi salah satu atau beberapa depo saja yang alirannya berlebih atau over flow.
Ketiga, agar kedepannya tak ada lagi sopir memilih kontainer, namun ditentukan oleh depo, dan kontainer sudah dilakukan cleaning, sehingga saat truk datang ke depo bisa langsung muat kontainer.
Sementara Ikhsan menyatakan akan mempertimbangkan dan membahas permintaan Aptrindo tersebut kepada para pengurus dan anggotanya.
Menurut ASDEKI, karakteristik depo ada dua kategori yakni depo multi customer /shipping line dan yang hanya melayani customer/shipping line tertentu saja.
“Memang kami akui masih ada beberapa depo sebagai penyumbang masalah kemacetan, namun kami sudah berupaya untuk membuat SOP mengatasi itu,” kata Ikhsan.
Dalam pertemuan itu juga terungkap, lamanya layanan pengambilan kontainer ekspor di depo dikarenakan pihak trucking seringkali memilih-milih kontainer. Selain itu dibahas mengenai Standar Operation Prosedur (SOP) minimum Layanan Depo termasuk terhadap layanan pencucian kontainer (cleaning) di depo.
“Kami terbuka kalau ada pelayanan kami yang kurang baik silahkan sampaikan ke kami,” ujar Ikhsan.
Hasil pertemuan itu juga disepakati bahwa ASDEKI akan membuat standard pelayanan minimum (SPM) untuk depo kontainer anggotanya.
Selain itu kedua belah pihak juga sepakat untuk membuat WhatsApp (WA Group) bersama antara ASDEKI Jakarta dan Aptrindo DKI Jakarta, sebagai wadah komunikasi bersama.
Aptrindo juga minta supaya saat cleaning, kontainer tidak dibersihkan diatas truk.
Terhadap masukan tersebut, Asdeki akan mempertimbangkannya.
Keduanya berharap bahwa pertemuan koordinasi tersebut bisa berlanjut. (***)






























