Kemacetan lalu lintas di sekitar Cilincing Marunda cukup memusingkan usaha trucking maupun pengguna jasa pelabuhan (Priok dan Marunda).
Karena itu, pada Senin (13/7) telah dilakukan pertemuan di kantor KSOP Tanjung Priok antara pemerintah, Pelindo, para terminal petikemas dan pelaku bisnis pelayaran, membahas distribusi petikemas dari perusahaan pelayaran ke depo petikemas di wilayah Jakarta Utara.
Sunarno (akrab dipanggil Nano) dari PT Tresnamuda Sejati mengatakan bahwa pertemuan tersebut untuk mencari solusi mengenai kemacetan di sekitar Tanjung Priok. “Semua depo sudah penuh, untuk mengatasi itu, disarankan supaya penumpukan petikemas kosong kalau bisa ke wilayah Cikarang. Tapi, disana pun penuh,” ujar Nano saat dihubungi Ocean Week, per telpon, kemarin.
Dirut Depo Logistik milik Temas Tbk, Teddy Arief Setiawan juga pernah menyatakan kepada Ocean Week kalau saat ini semua depo yang ada di sekitar Cilincing dan Marunda penuh.
Pengurus DPC INSA Jaya ini juga mengungkapkan kalau kegiatan bongkar muat petikemas di terminal-terminal di pelabuhan Tanjung Priok lancar-lancar saja. “Yang macet itu di luar pelabuhan,” ungkapnya.
Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Aris Wibowo menyampaikan bahwa antrean kendaraan logistik yang sempat menghambat pelayanan pembongkaran kontainer di kawasan Marunda, Jakarta Utara, mulai terurai setelah berbagai pemangku kepentingan menyepakati langkah percepatan operasional.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah pemanfaatan area operasional PT Karya Citra Nusantara (KCN) sebagai lokasi sementara pembongkaran kontainer guna membantu menjaga kelancaran arus logistik.
Kepadatan tersebut terjadi seiring meningkatnya aktivitas logistik di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok yang mendorong kenaikan kebutuhan pelayanan peti kemas.
Akibatnya, kapasitas pelayanan peti kemas kosong di Depo PT Global Terminal Marunda (GTM) mencapai batas optimal sehingga memicu antrean kendaraan di akses menuju kawasan Marunda.
Sebagai tindak lanjut atas aspirasi sejumlah pengemudi trailer yang tergabung dalam Keluarga Besar Sopir Indonesia (KBSI), dilakukan mediasi dengan melibatkan PT GTM, PT Quad Kontena, PT KCN, Polres Pelabuhan Tanjung Priok, pemerintah daerah, Dinas Perhubungan, serta perwakilan pengemudi.
Dalam mediasi tersebut disepakati pemanfaatan area operasional PT KCN sebagai lokasi tambahan untuk kegiatan pembongkaran kontainer sementara. Langkah ini membantu mempercepat pelayanan sehingga antrean kendaraan berangsur terurai dan aktivitas logistik kembali berjalan lebih lancar.
Pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa ketika kapasitas pelayanan di satu titik mengalami tekanan, kolaborasi antarsimpul logistik menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran distribusi barang.
Kapolres Aris Wibowo mengatakan, pendekatan dialog menjadi langkah yang ditempuh agar penyampaian aspirasi berlangsung kondusif sekaligus menghasilkan solusi yang dapat segera dijalankan.
“Pendekatan seperti ini dilakukan agar seluruh pihak dapat menemukan solusi bersama sehingga pelayanan logistik dapat kembali berjalan dengan baik,” ujar Aris dikutip dari Antara.
Koordinator Keluarga Besar Sopir Indonesia (KBSI), Isnen, mengapresiasi seluruh pihak yang membuka ruang dialog untuk mencari penyelesaian atas kepadatan pelayanan pembongkaran kontainer.
“Kami mengapresiasi semua pihak yang sudah mau duduk bersama mencari solusi. Harapan kami, hasil kesepakatan ini bisa dijalankan dengan baik sehingga antrean dapat segera terurai dan pelayanan pembongkaran kontainer ke depan semakin tertata. Yang paling penting bagi kami adalah operasional kembali lancar sehingga para pengemudi bisa kembali bekerja dengan normal,” ujar Isnen.
Kolaborasi
Support and Development Manager PT Global Terminal Marunda (GTM), Yan Rizal Supardi, mengatakan kepadatan pelayanan yang terjadi beberapa waktu lalu menjadi pembelajaran bahwa sistem logistik tidak dapat hanya bertumpu pada satu simpul pelayanan.
Sebelum memanfaatkan area operasional PT KCN, GTM juga telah bekerja sama dengan sejumlah depo di sekitar kawasan untuk mengurangi beban pelayanan.
Namun, kapasitas yang tersedia saat itu belum mampu mengakomodasi lonjakan kendaraan sehingga diperlukan dukungan kapasitas dari kawasan sekitar.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa kelancaran sistem logistik tidak dapat hanya bertumpu pada satu simpul pelayanan. Ketika volume pelayanan meningkat, diperlukan kolaborasi antarpelaku logistik agar kapasitas yang tersedia dapat saling melengkapi. Dukungan area operasional PT KCN menjadi salah satu solusi yang membantu mempercepat pelayanan sehingga antrean kendaraan dapat segera terurai,” ujar Yan.
Dia menambahkan, keberadaan kawasan penyangga (supporting port) di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas layanan logistik. Dengan sinergi antarpelaku logistik, distribusi barang dapat tetap berjalan lancar meskipun terjadi peningkatan volume pelayanan.
Senada dengan hal tersebut, Humas PT KCN Bella Mardiana mengatakan, penanganan kepadatan di Marunda menunjukkan pentingnya keberadaan pelabuhan penyangga yang memiliki kapasitas operasional memadai untuk mendukung kelancaran sistem logistik nasional.
“Keberadaan pelabuhan penyangga tidak hanya penting dalam membantu mengurai kepadatan pelayanan ketika terjadi peningkatan aktivitas logistik, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan sistem logistik nasional agar semakin efisien, tangguh, dan berdaya saing,” jelas Bella.
Sebagai Badan Usaha Pelabuhan (BUP), ia menerangkan bahwa PT KCN sejak awal dikembangkan untuk mendukung ekosistem logistik di kawasan Marunda sebagai supporting port bagi Pelabuhan Tanjung Priok.
Ke depan, PT KCN berkomitmen terus memperkuat kapasitas layanan kepelabuhanan melalui pengembangan fasilitas dan peningkatan layanan guna mendukung kebutuhan logistik nasional yang terus berkembang. (**/ant)






























