PT Pelabuhan Indonesia (Persero) melalui PT Pelindo Multi Terminal (SPMT), Subholding yang bergerak pada operasional terminal non-petikemas, mencatat pertumbuhan positif arus bongkar muat komoditas liquefied natural gas (LNG) di SPMT Branch Benoa.
Data mencatat hingga April 2026, realisasi arus bongkar muat LNG tercatat sebesar 5.482.991 MMBTU atau meningkat 5,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5.204.272 MMBTU.
Tahun 2023 twrcatat 13.188.849, tahun 2024 naik jadi 13.972.159 MMBTU.
Kebutuhan listrik di Bali 1200 mega watt, dari LNG SPMT 200 mega watt, kurangnya disupply dari Paiton, dan PLTU Celukan Bawang.
Rencana relokasi terminak LNG Benoa katena zonasi, tahun ini sudah dibangun, sebab dermaga yang sekarang akan digunakan untuk kapal-kapal cruise.
Pertumbuhan tersebut turut memperkuat tren positif kinerja layanan LNG di SPMT Branch Benoa dalam mendukung distribusi energi nasional, khususnya untuk wilayah Indonesia tengah dan timur.
Secara tahunan, kinerja bongkar muat LNG di SPMT Branch Benoa juga menunjukkan peningkatan signifikan. Sepanjang tahun 2025, arus bongkar muat LNG tercatat mencapai 15.943.575 MMBTU atau tumbuh 14,3 persen dibandingkan realisasi tahun 2024 sebesar 13.971.183 MMBTU.
Peningkatan kinerja tersebut didukung oleh optimalisasi layanan operasional, kesiapan fasilitas terminal, serta kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kelancaran distribusi energi melalui pelabuhan.
Branch Manager SPMT Branch Benoa, Herfianto Bayu menyampaikan bahwa pertumbuhan arus LNG menjadi indikator meningkatnya aktivitas logistik energi serta kepercayaan pengguna jasa terhadap layanan operasional pelabuhan.
“SPMT Branch Benoa terus berkomitmen menjaga keandalan layanan bongkar muat LNG melalui penguatan aspek operasional, keselamatan, dan efisiensi layanan guna mendukung kelancaran distribusi energi nasional,” ujarnya.
Sebagai bagian dari ekosistem logistik nasional, SPMT terus mendorong peningkatan kualitas layanan dan pengembangan operasional terminal nonpetikemas agar mampu mendukung kebutuhan distribusi komoditas strategis secara aman, andal, dan berkelanjutan. (***)
Seperti diketahui bahwa operasional terminal itu dilakukan melalui sub-holding PT Pelindo Multi Terminal bersinergi dengan afiliasi BUMN Pertamina yang tergabung dalam sub-holding Gas, PT Pertamina Gas Negara (PGN) melalui PT Perta Daya Gas dengan membentuk konsorsium Midstream LNG Bali.
PT Pelindo sangat mendukung pemerintah dalam pemenuhan energi bersih, termasuk untuk mendorong peningkatan perekonomian dan pariwisata di wilayah Bali. “Itu diwujudkan dengan terus melakukan optimalisasi infrastruktur pelabuhan, termasuk melakukan penataan dan peningkatan terminal LNG di Pelabuhan Benoa,” imbuhnya. Pihaknya mencatat terminal gas alam cair yang beroperasi sejak 2016 di Pelabuhan Benoa itu memiliki luas 1.050 meter persegi. Terminal itu memiliki kapasitas regasifikasi mencapai 50 MMSCFD atau satuan standar juta kubik per hari yang dikonversi ke satuan ukuran panas atau MMBTU ( millions of british thermal unit ) menjadi rata-rata 53.500 MMBTU.
Selama 2024, penyerahan gas ke pembangkit listrik pada 2024 mencapai 13,9 juta MMBTU. Sedangkan hingga Juli 2025, penyerahan gas mencapai 9,2 juta MMBTU. Sebelumnya, Komisi XII DPR RI mengunjungi fasilitas energi bersih itu untuk mengetahui pengelolaan, operasional, serta kontribusi terminal tersebut terhadap ketahanan energi bersih di wilayah Bali dan sekitarnya. Ketua Rombongan Komisi XII DPR RI Putri Zulkifli Hasan menekankan pentingnya dalam setiap implementasi, tetap menjaga lingkungan hidup sekitar. “Kami mendukung transisi energi yang lebih bersih namun dalam implementasinya diharapkan tetap harus menjaga lingkungan hidup, khususnya untuk kelangsungan hidup biota laut,” kata Putri Zulkifli Hasan, Senin (11/8).




























