Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) menyampaikan keprihatinannya atas musibah tersanderanya beberapa anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) di kapal tanker MT Honour 25 yang dibajak perompak di Somalia, belum lama ini.
“Kami berusaha membantu untuk itu, tapi ternyata setelah kami lihat data di KPI, mereka bukan anggota, sehingga kami kesulitan,” ujar Mathias Tambing, Ketua Umum KPI saat dihubungi per telepon, Kamis siang (30/4).
Mathias juga mengatakan kalau pihaknya terus mencoba mencari tau, siapa agent yang memberangkatkan para awak kapal tersebut. “Kami cari data agent nya juga ga ketemu, ternyata agent nya ada di Singapura. Jadi mereka (para ABK) itu berangkat melalui agent di Singapura secara mandiri, kami KPI nggak tau menahu,” ujarnya.
Menurut Mathias, tak sedikit pula agent di Indonesia yang kantor nya pindah-pindah, kadang di Jakarta, di Tangerang, begitu ada masalah sudah pindah alamat, jadi KPI sulit melacak kalau terjadi masalah.
Oleh karena itu, KPI menghimbau supaya para pelaut yang akan bekerja di kapal asing supaya menjadi anggota, sehingga KPI bisa mengetahui data si Pelaut kalau terjadi musibah. “Kami tadi ditelpon keluarganya dari Makassar, ya kami nggak bisa kasih penjelasan,” katanya.
Untuk diketahui bahwa ABK WNI di kapal MT Honour 25, antara lain Ashari Samadikun (Kapten kapal, asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan), Adi Faisal (Asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan).
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menjelaskan upaya penyelamatan terhadap empat warga negara Indonesia (WNI) anak buah kapal (ABK) di kapal tanker MT Honour 25 yang dibajak oleh perompak di Somalia, bahwa Kemlu masih berkoordinasi dengan pihak terkait di Somalia.
“Kementerian Luar Negeri melalui KBRI Nairobi terus melakukan koordinasi secara intensif dengan seluruh pihak terkait di Somalia, menindaklanjuti laporan pembajakan kapal MT Honour 25 yang terjadi di perairan sekitar sekitar Hafun, Somalia, pada 22 April lalu,” kata Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, dalam konferensi pers di kantor Kemlu, Jakarta Pusat, Kamis (30/4).
Heni mengatakan kapal tersebut diawaki oleh belasan kru dari berbagai negara. Selain empat orang WNI, terdapat kru asal Pakistan, India, dan Myanmar.
“Berdasarkan informasi yang diperoleh saat ini, kapal tersebut diawaki oleh 4 ABK WNI, 10 ABK Pakistan, dan 1 ABK India serta Myanmar,” katanya. (***)





























