Para Pengusaha yang berkegiatan di pelabuhan Tanjung Priok, terutama PBM dan Trucking mulai mengeluhkan kenaikan harga BBM non subsidi. Mereka juga mulai terkena dampak akibat perang AS-Israel-Iran yang hingga sekarang belum selesai.
Keluhan itu disampaikan Ketua Aptrindo Jakarta Dharmawan Witanto (Akong sapaan akrabnya) dan Suwondo (ketua umum DPW APBMI Jakarta, kepada Ocean Week, di Jakarta, Kamis ini.
“PBM cukup berat saat ini, karena untuk mendukung kinerjanya, PBM menggunakan alat mekanik sebagai pendukung. Padahal alat tersebut menggunakan solar industri, dan harganya mahal sekali, tapi 0PP/OPT tidak naik,” ujar Suwondo mengeluh.
Oleh karena itu, ungkap Suwondo, pihaknya bersama pengurus DPW APBMI Jakarta mulai membuat kajian, apakah ongkos bongkar muat akan menyesuaikan atau belum. “Kami masih membuat kajian,” tegasnya.
Di tempat terpisah, Akong menyampaikan bahwa ongkos trucking belum ada kenaikan.
Hanya saja, ucapnya, truck saat ini kesulitan untuk memperoleh BBM solar. “Belum lagi kemacetan yang selalu kami (truk) hadapi dikarenakan depo petikemas di wilayah Cilincing, Marunda,” kata Akong.
Untuk diketahui bahwa sekitar jam 11 siang (Kamis, 30/4/2026), Ocean Week juga melihat antrean truk petikemas di jalan raya mulai dari depan pool Pertamina menuju Pertigaan Cilincing.
Kemacetan juga tampak di jalan raya Cilincing keluar tol JORR Marunda, Cilincing.
Sementara itu, Abdul Yaqub (Ketua Asdeki Jakarta) menampil jika kemacetan truk di wilayah Cilincing, areal Tanjung Priok dna Marunda, disebabkan oleh depo petikemas di wilayah itu.
“Bisa saja depo petikemas tersebut bukan anggota Asdeki. Karena saat ini tak sedikit depo anggota Asdeki turun sampai 50%,” katanya.
Kata Yaqub, saat ini usaha depo petikemas pun ikut terdampak situasi global. “Kami berharap situasi ini bisa cepat kembali normal,” kata Yaqub. (***)






























