PT Terminal Teluk Lamong (TTL) bersama KSOP Tanjung Perak melaksanakan sosialisasi Berthing Priority kepada para pengguna jasa terminal tersebut.
Konsep Berthing Priority yang mengatur jadwal sandar kapal curah kering di dermaga TTL, merupakan bentuk transformasi dari sistem yang sebelumnya menggunakan konsep FIFO (First In First Out), di mana kapal yang tiba lebih awal akan mendapat prioritas sandar terlebih dahulu menjadi penentuan urutan sandar kapal yang mengacu pada jadwal booking yang diajukan oleh cargo owner sebelum atau setelah kapal berangkat dari Port of Loading.
Berthing Priority ini memperoleh apresiasi positif dari Ketua DPC Indonesia National Shipowners Association (INSA) Surabaya Steven Lesawengan.
“Berthing priority sangat terkait dengan truck yang akan lalu lalang di Terminal Teluk Lamong (TTL). Kalau sudah ada booking priority maka truck yang akan masuk d terminal sudah otomatis terschedule juga,” ujar Steven kepada Ocean Week saat dimintai tanggapannya terhadap konsep Berthing Priority yang diterapkan di TTL itu.
Namun, katanya, apakah 1st come 1st berth juga berlaku jika kapal yang sudah masuk booking priority delay. “Prinsipnya konsep itu baik, sebab untuk kapal-kapal petikemas sudah terjadwal dengan baik, mudah-mudahan konsep untuk kapal curah kering juga bisa diterapkan dengan bagus,” ungkap Steven.
Seperti diketahui bahwa konsep baru ini memberikan nilai tambah signifikan dalam perencanaan dan efisiensi operasional terminal.
Konsep Berthing Priority akan memberikan kepastian waktu sandar kapal, sehingga dapat mengurangi risiko denda demurrage yang ditanggung oleh pelayaran atau cargo owner.
Selain itu juga dapat mendorong perencanaan kedatangan kapal yang lebih baik, sehingga proses bongkar muat dapat dilakukan secara optimal dan berpeluang mendapatkan despatch sebagai insentif atas efisiensi waktu.
Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David Pandapotan Sirait, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menciptakan ekosistem logistik yang lebih transparan.
“Kami percaya bahwa digitalisasi dan keterbukaan informasi dalam perencanaan tambat kapal merupakan kunci dalam membangun kepercayaan dan efisiensi layanan. Konsep Berthing Priority menjadi salah satu inovasi untuk mewujudkan hal tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala KSOP Utama Tanjung Perak, Agustinus Maun, mengapresiasi positif atas implementasi Berthing Priority. “Seluruh stakeholder kepelabuhanan harus berkolaborasi untuk mewujudkan ekosistem logistik yang efisien dan efektif, beruntungnya pelabuhan yang ada di wilayah tanjung perak ini memiliki visi yang sama dan terus berinovasi. Kita sudah memiliki TBS (Terminal Booking System), Berthing Priority, dan mewajibkan semua pelabuhan memiliki Bussiness Continuity Plan (BCP) agar operasional pelabuhan dapat terus berjalan lancer,” ungkap Agustinus.
“Evaluasi kinerja dan sosialisasi ini bertujuan untuk membuka ruang diskusi dan mendengarkan secara langsung keluhan/masukan dari para cargo owner dan pihak-pihak lain yang terkait untuk bersama-sama terus melakukan perbaikan kedepannya,” kata Agustinus.
Berthing Priority juga dapat meningkatkan efisiensi operasional secara menyeluruh, baik dari sisi pelayaran, pemilik barang, maupun pengelola terminal.
Kemudian juga memudahkan perencanaan perawatan alat bongkar muat (crane dan peralatan pendukung lainnya), karena pelayanan kapal menjadi lebih terjadwal dan yang terakhir dapat mengoptimalkan utilisasi dermaga dengan perencanaan tambat yang lebih strategis dan berorientasi pada kecepatan layanan.
PT Terminal Teluk Lamong senantiasa berkomitmen untuk menjadi pelabuhan masa depan yang mengedepankan inovasi dan pelayanan unggul.
Untuk diketahui, Throughput Terminal Teluk Lamong tahun 2024 tercapai lebih dari 971.677 twenty foot equivalent units (TEUs), atau tumbuh 8% dibanding periode tahun 2023.
“Untuk target 2024, di TTL mencapai 879.978 TEUs dan di Terminal Nilam 406.533 TEUs,” ujar Direktur Utama Terminal Teluk Lamong (TTL) David P. Sirait.
Sementara untuk kargo curah, David mengatakan TTL melayani 3,5 juta ton lebih. “Kalau melihat kapal curah yang kesini (TTL), hingga akhir tahun 2024 bisa mencapai 4 juta ton, atau naik 11% dibandingkan tahun lalu,” jelasnya. (***)






























