Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) akan terus meningkatkan perannya dalam rangka menuju indonesia emas 2045.
Untuk meningkatkan perannya itu, asosiasi ini akan mewujudkan “ALFI Incorporated”.
Apa dan bagaimana fokus asosiasi ini kedepan, Ocean Week (OW) berhasil mewawancarai Ketua Umum ALFI Akbar Johan (AJ) untuk mengetahui berbagai hal seputaran bisnis logistik di masa depan, berikut petikannya.
OW : apa fokus ALFI untuk Tahun 2024 ini?
AJ : sesuai dengan tema Musyawarah Nasional (Munas) Dewan Pengurus Pusat (DPP) ALFI/ILFA pada tanggal 14 Desember 2023 lalu di Hotel Westin Jakarta, kami akan meningkatkan peran Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) atau Indonesian Logistics and Forwarders Association (ILFA) guna meningkatkan kinerja logistik nasional dan investasi menuju Indonesia Emas 2045.
Untuk meningkatkan perannya, kami akan mewujudkan “ALFI Incoporated”, yakni mengoptimalkan peran anggota ALFI di seluruh Indonesia yang saat ini berjumlah 4.113, yang tersebar dari Aceh hingga Papua.
OW : maksudnya?
AJ : yah..Potensi perusahaan anggota di seluruh wilayah akan kita integrasikan dan kolaborasikan untuk memperlancar lalu lintas perdagangan di dalam negeri maupun perdagangan internasional (ekspor dan impor). Kolaborasi antar perusahaan anggota ALFI tersebut diharapkan dapat meningkatkan standar layanan yang lebih efektif, efisien dan produktif, yang akhirnya dapat memperbaiki kinerja logistik nasional. Namun hal itu tidaklah mudah, karena dalam memberikan layanan logistik dan forwarder kepada pengguna jasa berhubungan dengan 15 Kementerian dan 3 Lembaga Negara serta pemangku kepentingan lainnya, sehingga ALFI pada tahun ini juga menginventarisir segala peraturan di tingkat pusat dan daerah yang masih menghambat kegiatan logistik untuk dicarikan solusinya. Misalkan, selama lima tahun lebih, terutama di daerah luar Jawa, armada angkutan barang/logistik sulit mendapatkan BBM solar bersubsidi. Untuk mendapatkan BBM solar bersubsidi harus antre 1-2 hari dan jumlah pembeliannya dibatasi maksimum 100-200 liter per hari. Hal ini sangat menghambat pendistribusian barang di berbagai daerah.
OW : jadi?
AJ : maka dari itu, ALFI bersama asosiasi lain terkait dan KADIN Indonesia akan segera menyampaikan usulan solusinya misalkan disparitas harga BBM solar bersubsidi dengan BBM solar industri diperkecil, mengusulkan BBM solar satu harga atau mengusulkan penambahan kuota BBM ke wilayah yang kekurangan.
OW : seberapa besar potensi bisnis logistik dan forwarder di tahun ini mengingat perekonomian global yang kurang bagus?
AJ : ALFI tetap optimis bisnis logistik dan forwarder akan terus eksis dan berkembang, walaupun saat ini penuh dengan ketidakpastian perekonomian global akibat perang Ukraina-Rusia dan perang Palestina-Israel, sehingga mengakibatkan krisis energi, krisis pangan, dan lain-lain. Sebagai contoh, saat pandemi Covid-19 melanda dunia, sektor logistik tetap eksis dan justru berkembang pesat, tumbuh hingga 35%, terutama bagi anggota yang menangani perdagangan elektronik (e-commerce). Sepanjang perekonomian Indonesia terus bergerak, investasi langsung baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA) terus bertambah, Pemerintah melakukan belanja negara serta konsumsi masyarakat terus tumbuh, maka bisnis logistik dan forwarder pada tahun ini akan tetap tumbuh dan berkembang. GDP Indonesia tahun 2023 mencapai sekitar US$ 1.400 miliar (ranking 16 besar dunia) dan pada tahun 2024 perekonomian Indonesia diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,2 – 5,7 persen, sehingga GDP Indonesia pada tahun 2024 akan mencapai US$ 1.472 miliar (bila perekonomian tumbuh 5,2%). Dengan asumsi bahwa biaya logistik di Indonesia mencapai 14,29% (Perhitungan Bappenas), maka potensi logistik di Indonesia pada tahun 2024 ini bisa mencapai US$ 210,4 miliar.
OW : untuk usaha logistik, apa yang sebenarnya masih menarik di bisnis ini?
AJ : semua bisnis forwarder atau pengelolaan logistik dan rantai pasok menarik, karena proses penerimaan barang hingga pengiriman sampai tempat tujuan (penerima barang) melalui 22 kegiatan yang merupakan satu kesatuan jasa layanan. Meskipun demikian, tidak semua perusahaan memberikan seluruh jasa layanan tersebut, walaupun dalam kontrak pengiriman barangnya secara door to door. Ada yang customs broker, trucking, pergudangan atau konsolidator kargo saja. Yang akhir-akhir ini berkembang adalah logistics digital. Sejumlah perusahaan anggota ALFI sudah ada yang mengembangkan bisnisnya sebagai perusahaan logistics digital.
OW : bagaimana ALFI menilai layanan di Pelabuhan Indonesia?
AJ : pelayanan pelabuhan di Indonesia secara umum sudah baik, bahkan digitalisasi layanan pelabuhan juga terus dikembangkan sehingga layanan di pelabuhan saat ini efisien, efektif dan produktif dibandingkan sebelum adanya digitalisasi. Namun demikian digitalisasi di pelabuhan masih parsial. Belum terintegrasi dengan seluruh pemangku kepentingan, terutama dari pihak pengguna jasa Pelabuhan. Untuk itu perlu diintegrasikan agar lebih baik lagi. Persoalan logistik di Indonesia saat ini bukan di Pelabuhan, tapi justru di darat. Sebab, angkutan barang di darat selain ada persoalan BBM solar bersubsidi, kemacetan jalan dan batasan jam operasional armada truk angkutan barang juga masih menjadi penyebab ekonomi biaya tinggi logistik.
OW : persaingan dan dumping tarif yang dilakukan oleh pelaku logistik dan forwarder, bagaimana anda melihat ini?
AJ : Idealnya dalam persaingan usaha di bidang logistik adalah persaingan yang sehat atau berkompetisi kepada layanan, bukan memberikan tarif yang semurah-murahnya. Perusahaan logistik yang memberikan tarif jasa yang rendah, apalagi di bawah biaya produksi, perusahaan seperti ini tidak akan bertahan lama dan dapat dipastikan bangkrut. Kalaupun saat ini ada perusahaan pengiriman barang yang membebaskan biaya pengiriman untuk barang e-commerce. Ini hanyalah trik dagang e-commerce, dimana biaya pengiriman sudah termasuk dalam harga barang tersebut.
Terkait tarif jasa forwarding (Jasa Pengurusan Transportasi), Kementerian Perhubungan saat ini telah menyusun Rancangan Peraturan Menteri Perhubungan tentang Jenis, Struktur dan Golongan Tarif Jasa Pengurusan Transportasi, yang diharapkan dapat diputuskan tahun ini, sehingga persaingan usaha yang tidak sehat dapat dihindari.
OW : apa harapan dan pesan anda untuk pemain logistik dan forwarder di era digitalisasi ini?
AJ : Digitalisasi suatu keniscayaan, sehingga pelaku usaha logistik dan forwarder juga harus melakukan inovasi terus menerus, termasuk mengembangkan sistem layanan digital di perusahaannya masing-masing. Selanjutnya meningkatkan kompetensi usahanya dan kompetensi pekerjanya, agar pelaku usaha logistik dan forwarder Indonesia mampu bertransformasi bisnis sesuai dengan tuntutan zaman yang cepat berubah. Yang tidak kalah pentingnya adalah juga perlu melakukan integrasi dan kolaborasi untuk mencapai tujuan bisnis yang saling menguntungkan. (**)






























