Isyu mengenai dikalahkannya layanan terhadap kapal-kapal kargo swasta oleh kapal-kapal Sabuk Nusantara (Sanus) dan kapal Tol Laut tak dibenarkan pihak perhubungan.
Konon, tambatan kapal-kapal kontainer dan kargo lain di mayoritas pelabuhan Indonesia Timur selalu dianak-tirikan jika datang kapal Sanus dan kapal Tol Laut.
Namun isyu tak sedap itu dibantah Kepala Kantor UPP Kelas II Saumlaku Capt. Hasan Sadili. “Kapal kargo non Sanus dan tol laut tetap dilayani. Bukan berarti kapal kargo juga tidak prioritas karena kapal penumpang kan membawa manusia ga bisa di tunda, sedangkan Tol Laut juga sangat di butuhkan Masyarakat, tetapi tetap Kapal Kargo ada dan keluar masuk bergantian,” katanya kepada Ocean Week, Minggu pagi (10/1/2021) melalui sambungan telepon.
Hasan bercerita bahwa kemungkinan kapal kapal kargo kalau bongkar bisa sampai 1 bulan, sehingga tidak mungkin harus menunggu selama itu. Sementara banyak kapal penumpang masuk, jadi kapal tadi (non Sanus dan tol laut) dikeluarkan sebentar setelah kapal penumpang keluar, baru kapal tadi masuk lagi.
“Tapi, khusus di Saumlaki sampai saat ini masih terkendali dan disepakati oleh para pemilik kapal kargo disini. Kita sudah rapat dengan Pemilik Kapal, operator dan TKBM. Sampai saat ini masih dapat dikendalikan dengan baik,” ujarnya menjelaskan.
Menurut Hasan mencontohkan, untuk Kapal penumpang rata rata membutuhkan sandar 6 jam, sedangkan Tol Laut paling lama 2 hari, kapal kargo bongkar paling sebentar 14 hari. “Ini yang terjadi di Saumlaki,” ungkapnya.
Lagi pula, kata Hasan, kapal kargo yang berkegiatan di Saumlaki juga tidak terlalu banyak, karena rata-rata milik pengusaha Pribumi.
Sebelumnya, informasi yang diperoleh Ocean Week dari pengusaha pelayaran di Surabaya menyebutkan bahwa di sebagian besar Indonesia timur tambatan kapal didominasi oleh kapal-kapal Sabuk Nusantara.
Sedangkan kapal kontainer dan kargo lain selalu di kalahkan oleh kapal Sanus dan kapal tol laut.
“Kalau mereka sudah datang, semua kapal harus minggir. Pertanyaannya emang apa perbedaan dengan kapal-kapal kontainer dan kargo, alasannya karena itu ada penumpang dan tol laut,. Lho, kapal-kapal kami ini mengangkut kebutuhan puluhan ribu orang juga,” ungkapnya minta kepada Ocean Week agar tak disebut jatidirinya.
Para pelayaran di Jawa Timur tersebut minta supaya tidak menganak-tirikan kapal-kapal non Sanus dan tol laut. “Siapapun dia, kecuali kapal-kapal kenegaraan khusus, seperti kapal perang, kapal tamu kenegaraan, kalau sabuk nusantara kan sama urgentsinya dengan kapal-kalal kontainer dan kargo,” ujarnya balik bertanya.
Dia berharap agar layanan menggunakan system first come first berthing.
Hasan sendiri mengaku tak tau untuk di luar pelabuhan Saumlaki. Apakah kondisinya seperti di Saumlaki atau beda. (***)






























