Saat ini Pemerintah sedang menyiapkan skenario New Normal dengan Protokol kesehatan yang ketat untuk menggerakkan kembali perekonomian dimasa pademi Covid-19.
Seperti diketahui bahwa sejak Corona melanda dunia termasuk Indonesia sekitar 3 bulanan, Pademi Covid telah memporak-porandakan sebagai besar kegiatan usaha, termasuk di sektor logistik.
Bank Indonesia melaporkan adanya penurunan kinerja industri pengolahan domestik pada kuartal I 2020 yang berada di fase kontraksi dengan indeks sebesar 45,64%, turun daripada triwulan IV 2019 sebesar 51,50%.
Penurunan terjadi pada seluruh komponen pembentuk prompt manufacturing index (PMI) bank Indonesia, dengan penurunan terdalam pada komponen volume produksi. Penyebabnya yaitu penurunan permintaan dan gangguan pasokan akibat covid 19.
Yukki Nugrahawan Hanafi, Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengiyakan jika saat ini usaha logistik dan Forwarder juga terdampak dari wabah Corona ini.
Oleh sebab itu, usaha logistik sudah menyiapkan berbagai strategi untuk menyongsong era new normal.
“DPP ALFI berpendapat untuk back to normal akan terjadi pada kuartal akhir di tahun 2020 atau bahkan di tahun 2021. Kita juga perlu membuka diri menata ulang usaha kita secara struktural, mendasar dan menyeluruh,” kata Yukki kepada Ocean Week, di Jakarta, Sabtu pagi.
Untuk menyiasati new normal, menurut Yukki, perlu menyusun strategi baru, bahkan visi dan misi baru.
“Kegiatan Logistik itu sangat luas jenis kegiatannya dimana tidak hanya kegiatan perpindahan barang ( komoditi),” ujarnya.
Menurut dia, kegiatan logistik yang diklasifikasikan berdasarkan komoditas yang dikelola seperti bahan baku industri, produk jadi hasil industri, bahan kebutuhan pokok, barang-barang export, import, e-commerce dan pertambangan. Sedangkan yang dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk transaksinya antara lain, perdagangan internasional dan perdagangan nasional (domestik).
Yukki mengakui, adanya pembatasan sosial dalam pandemi Covid-19 di seluruh dunia telah menurunkan supply/demand atas komoditas yang berimbas pada aktivitas produksi sektor industri hulu yang berdampak pada penurunan kapasitas (volume).
Dia menyatakan, pola transaksi kegiatan Logistik yang terdampak sangat berat dimasa pandemik ini dapat dipastikan terjadi terhadap pola transaksi yang berbasis B to B , sedangkan pola C to C masih dapat bertahan bahkan ada yang mengalami pertumbuhan.
“Pelaku Industri juga harus mengeluarkan biaya ektra (tambahan) yang sangat besar untuk dapat menjalankan operasional di masa wabah terkait dengan protokol pencegahan penyebaran Covid-19,” ungkapnya.

Ketua AFFA ini juga mengungkapkan, bahwa ruang gerak pekerja terbatasi sehingga terjadi penurunan produktivitas dibanding sebelum masa wabah ini.
Sekarang ini, kata Yukki, yang menjadi isu utama perusahaan adalah manusia yang kompeten. “Maka sudah waktunya kita merancang ulang termasuk penyesuaian struktur organisasi agar perusahaan dapat segera mulai dan menjalankan re- design agar perusahaan dapat bertahan dan terus berkembang, termasuk merumuskan ulang produk, marketing dan bahkan juga struktur keuangan yang mengadopsi inovasi dan teknologi,” katanya. (***)





























