Pelabuhan Marunda di Jakarta Utara menjadi menarik perhatian kalangan usaha kepelabuhanan. Sebab, perkembangannya yang sangat signifikan, bukan hanya dari naiknya kunjungan kapal, namun juga volume barang.
Bahkan, konon Pelindo Tanjung Priok tak berani menaikkan tarif bongkar muat non petikemas, karena takut pasarnya lari ke Marunda yang letaknya tak jauh dari Priok.
Di Marunda terdapat tiga operator terminal yakni MCT, KCN dan Kaliblencong. Ketiga terminal ini selalu ramai dengan kedatangan kapal untuk membongkar muatannya.
Tak kurang dari 40 juta ton barang dibongkar di pelabuhan Marunda. Kepada ocean week, beberapa waktu sebelumnya KSOP Marunda Iwan Soemantri mengungkapkan jika setiap bulan sekitar 700 unit kapal keluar masuk berkegiatan di pelabuhan ini.
Data yang diperoleh ocean week hingga Oktober 2019 saja tercatat 27.259.364 ton (bongkar) dan 13.955.695 ton (muat). Sementara kunjungan kapal mencapai 7054 unit, atau naik 5,60% dibandingkan tahun 2018 periode sama yang tercatat 6680 unit kapal.
Dari angka tersebut, 57,04% terkontribusi dari terminal Kaliblencong, MCT 25,41%, dan KCN 17,55%.
Sementara itu, Aulia Febria Fatwa, Direktur Komersil MCT menyatakan jika terminal yang dikelolanya menangani kegiatan bongkar muat cukup bagus di tahun 2019 lalu. “Kenaikan volume B/M sebesar 45% dari tahun 2018,” kata Febri (panggilannya) kepada ocean week, Senin pagi (6/1).
Menjawab pertanyaan mengenai fokus perseroannya di tahun 2020, Febri mengungkapkan akan fokus mendapatkan cargo international untuk Curah Kering. “Lalu fokus mencapai kapasitas maksimal BOR (berth occupancy ratio) sebesar 70%,” ungkapnya.
Ketua Umum Abupi ini menambahkan, pada tahun 2019, MCT telah mendapatkan penghargaan yakni sertifikasi ISPS Code, dan sertifikasi OSCP (penanggulangan tumpahan minyak).
Iwan Soemantri juga mengatakan kalau penerimaan PNBP pelabuhan Marunda bagus. Sebagai catatan hingga bulan Oktober 2019, sudah mencapai Rp 17,4 miliar. “Targetnya tahun ini Rp 19 miliar,” katanya.
Menurut Iwan, dominasi komoditi yang melalui pelabuhan Marunda yaitu batubara dan pasir. “Tahun ini (hingga Oktober) barang yang dibongkar disini (pelabuhan Marunda) dibandingkan 2018 terjadi penurunan sekitar 4%, dan muat turun 37%,” ucapnya lagi.
Menurut Iwan, penurunan tersebut disebabkan karena pelabuhan Cirebon sudah dibuka kembali untuk bisa menangani kegiatan batubara. Selain itu karena harga batubara yang fluktuatif. “Apalagi karena pembangunan Sumur baru juga menurun, lalu tiang pancang juga berkurang,” kata Iwan.

Melihat kian padatnya lalu lintas kapal dan barang di Marunda, Iwan ingin supaya layanan yang diberikan pihak pemerintah (KSOP) sudah dapat sesuai dengan keinginan para pelanggan dan pengguna jasanya.
“Karena Marunda sebagai pelabuhan tujuan, kami akan terus meningkatkan layanan dan menjaga kelancaran arus keluar masuk barang. Misalnya, proses layanan dokumen lebih dipercepat, dan disini, jika KSOP tak ada di tempat, petugas bisa juga memberikan service, tak harus menunggu saya,” ujar Iwan.
Dia mengakui kalau sistem layanan di Marunda masih manual. Namun, kedepan akan mengarah ke digitalisasi (online). “Namun untuk pembayaran PNBP sudah online,” ujarnya.
Untuk meningkatkan kualitas SDM-nya, Iwan bertekad untuk terus melakukan peningkatan, dengan cara melalui pendidikan dan pelatihan. Misalnya para pegawainya dikirim untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan kesyahbandaran dan keselamatan pelayaran.
“Ada 50 personil di KSOP. Kami berharap kedepan, pelabuhan Marunda lebih baik lagi di semua sisi,” kata Iwan.
Sementara itu, Banu Amza dari pelayaran Berlian Pulau Mandangin (BPM), menyoroti jika belakangan ini angin dan ombak besar sedang melanda pelabuhan Marunda.
Makanya, Banu mengaku sangat hati-hati dalam melakukan kegiatan di pelabuhan ini, terutama di dermaga KCN. “Kalau di Kaliblencong aman, sangat terlindung,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Iwan menyatakan bahwa pihaknya sudah mengeluarkan himbauan kepada para pengguna jasa supaya memperhatikan cuaca yang cukuk ekstrim ini. “Kalau cuaca sedang kurang baik sebaiknya kapal/tongkang berlindung dulu,” ucapnya.
Meski begitu, KSOP akan tetap melakukan yang terbaik untuk semua pengguna jasa pelabuhan Marunda, khususnya untuk kenyamanan, kecepatan dan keamanan. (***)






























