Pemerintah menetapkan tujuh pelabuhan sebagai hub internasional. Ketujuh pelabuhan itu yakni Belawan/Kuala Tanjung (Sumatra Utara), Tanjung Priok (Jakarta), Kijing (Kalimantan Barat), Tanjung Perak (Jawa Timur), Makassar (Sulawesi Selatan), Bitung (Sulawesi Utara), dan Sorong (Papua Barat).
Tujuh hub pelabuhan itu, kalau kata Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan, nantinya diintegrasikan dengan trayek tol laut domestik. “Kapal-kapal feeder nantinya membawa muatan dari pelabuhan kecil ke pelabuhan hub untuk dikonsolidasikan, lalu dikapalkan langsung ke negara tujuan. Pola ini bernama integrated sea port,” katanya.
Namun, apa yang dimaksudkan pemerintah mengenai hub port internasional itu memperoleh pandangan berbeda dari praktisi pelayaran.
“Perlu dimengerti dulu tentang terminologi hub pelabuhan tersebut. Dan untuk pelabuhan di Indonesia, apakah maksudnya sebagai hub internasional atau hub domestik, perlu kejelasan,” ungkap Carmelita Hartoto (Ketua DPP INSA) dan Asmary Herri (direktur pelayaran Samudera Indonesia) yang dihubungi secara terpisah, Selasa (23/4).
Asmary menegaskan, kalau hub port internasional, petikemas (muatan) tidak ada hubungannya atau bukan untuk kepentingan negara bersangkutan. Misalnya pelabuhan Singapura, petikemas-petikemas yang masuk dan alih kapal itu bukan untuk kepentingan Singapura. “Jadi hanya numpang singgah kapal saja untuk dilanjutkan ke negara tujuan,” kata Asmary tegas.
Makanya, kalau barang (petikemas) dari pelabuhan yang satu ke pelabuhan yang lain masih di Indonesia, itu lebih tepat sebagai hub domestik. “Dan Indonesia masih pas sebagai hub domestik,” ujarnya lagi.
Sementara itu, pendapat senada juga dilontarkan Carmelita Hartoto. “Kita harus mengerti dahulu dengan terminologi hub tersebut. Hub atau pelabuhan pengumpul ada dua kategory yakni hub international transhipment seperti Singapore maupun Tanjung Pelepas Malaysia yang melakukan transhipment dari/ke berbagai negara, tanpa ada muatan dari/ke pelabuhan untuk kepentingan negara bersangkutan,” tutur Meme (panggilan akrabnya).
Karena itu, ungkap Meme, pengertian hub bagi indonesia adalah pintu gerbang, bukan hub international. “Nah kalau pemerintah mau menentukan Kuala Tanjung, Tanjung Priok, Tanjung Perak dan Bitung sebagai hub pintu gerbang muatan dari/ke indonesia, bisa-bisa saja asalkan didukung dengan produk-produk ekspor dari industri disekitarnya yang cukup memadai untuk mengumpulkan muatan dari industri disekitarnya,” kata Carmelita.
Meme khawatir, bahwa selama ini pemerintah mendeklair ada tujuh hub pelabuhan di Indonesia itu hanya sekedar deklarasi saja, tapi cargo throughput hanya sedikit, atau hanya sekali dua kali call, selanjutnya sepi.
“Global Shipping practice adalah Ship follow the trade, kalau ada muatan yang secara economy scale mencukupi, kapal pasti datang,” ucapnya.
Jadi kalau melihat kondisi pelabuhan-pelabuhan di Indonesia yang sudah ditentukan pemerintah sebagai hub port, Meme pun ikutan bertanya pelabuhan mana yang bisa jadi hub pintu gerbang Indonesia.
IPC Siap Berkompetisi
Direktur Utama PT Pelindo II (Persero) Elvyn G Masassya menyatakan IPC siap berkompetisi dengan Thailand yang juga berambisi menjadi hub ekspor Asean.

“Berkompetisi saja dengan Thailand. Priok sudah menyiapkan infrastruktur dan suprastruktur, melakukan cargo consolidation, menyiapkan digital system, memperbaiki daya saing melalui service dan cost yang lebih kompetitif,” katanya dikutip BI, baru-baru ini.
Seperti diketahui, Thailand sudah mengajukan diri sebagai hub ekspor Asia Tenggara dalam beberapa forum Asean, khususnya untuk kargo ke China, Korea Selatan, dan Jepang.
Indonesia juga ingin menjadi hub internasional. Lewat Pelindo II, BUMN ini telah menyiapkan Tanjung Priok sebagai pelabuhan transshipment kargo ekspor dari berbagai daerah di Indonesia. Begitu pula Pelindo I membangun Kuala Tanjung yang digadang-gadang sebagai hub internasional karena posisinya yang strategis di Selat Malaka.
Tanjung Priok sudah beberapa tahun terakhir ini melayani kapal dengan rute pelayaran langsung (direct call) ke Amerika Serikat, ke Intra Asia, ke Eropa, dan Australia.
Elvyn menuturkan, selain menjadi hub ekspor produk Nusantara, Pelindo II pun sedang mengkaji kemungkinan menjadi pelabuhan transshipment bagi kargo tujuan Australia dan kawasan Pasifik.
Selama ini, dari negara asal, kargo ke kedua kawasan dikirimkan langsung atau alih muat di Singapura. “Priok sedang review untuk transshipment yang dari Eropa, AS, atau China, melalui Jakarta, sebelum ke Pasifik atau Australia,” katanya.
Kuala Tanjung Hub
Beberapa waktu lalu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan keinginannya menjadikan Kuala Tanjung Multi Purpose Terminal (KMTM) atau Kuala Tanjung, Sumatera Utara sebagai pelabuhan hub Internasional.
“Kita ingin melakukan suatu percepatan ekspor dan dijadikan sebagai Hub internasional selain Tanjung Priok,” kata Budi Karya saat berkunjung bersama Menteri Koordinator Maritim Luhut Panjaitan ke Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara bulan Maret 2019 lalu.

Budi mengatakan Pelabuhan Kuala Tanjung sudah beroperasi sejak Desember 2018 dan telah melakukan ekspor perdananya sebanyak 205 TEUs dengan menggunakan Kapal Wan Hai Lines 505. Ekspor kedua dilakukan pada 14 Februari 2019 dengan menggunakan Kapal Wan Hai Lines 507 dan membawa muatan 261 TEUs.
Kata Menhub, semua kegiatan ekspor tersebut dikirim langsung ke berbagai negara di Asia, seperti Cina, Singapura, Malaysia, India, dan negara lainnya tanpa perlu transit.
Pelabuhan Kuala Tanjung, kata Budi, akan menjadi hub bagi pelabuhan-pelabuhan yang terdapat di Pulau Sumatera. Pelabuhan ini memiliki dua fungsi yaitu, sebagai pusat alih muatan kapal (transhipment) dan sebagai pelabuhan industri Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Saat ini, Pelabuhan Kuala Tanjung telah dilengkapi dengan fasilitas modern dan didukung sistem IT yang terintegrasi. Selain itu, untuk meningkatkan layanan kepada pengguna jasa dan meningkatkan kecepatan proses bongkar muat, Pelabuhan Kuala Tanjung akan dilayani Container Crane bertenaga listrik dengan kapasitas 45 Ton dan mampu meng-handle container dengan kapasitas 20 feet, 40 feet hingga 45 feet.
Pelabuhan ini berkapasitas 600 ribu TEUs, juga dilengkapi dengan dermaga 500 x 60 m, trestle sepanjang 2,8 km untuk empat jalur truk selebar 18,5 m serta dilengkapi rak pipa 4 line x 8 inch. Lalu 3 unit Ship to Shore (STS) Crane, 8 unit Automated Rubber Tyred Gantry (ARTG) Crane, 21 unit truck terminal, dan 2 unit MHC serta Terminal Operating System (TOS) Peti Kemas maupun curah cair. (***)






























