PT Pelabuhan Tegar Indonesia (PTI) terus berupaya meningkatkan mutu layanannya kepada seluruh pengguna jasanya. Karena itu, perseroan sangat terbuka menerima kritik atau masukan yang bersifat membangun.
“Dari kritikan dan keluhan para pelangganlah kami jadi tahu, dimana kekurangan dan kelemahan kami. Makanya kami cukup fokus terhadap ini, sehingga terus dapat interospeksi untuk perbaikan performa kami, dan kami lebih senang dengan cara kekeluargaan dalam mencari solusi,” ungkap Aulia Febrial Fatwa, direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PT PTI kepada Ocean Week usai acara Morning Gathering 2018 PTI dengan tema Menjalin Keakraban Antara MCT dengan Perusahaan Pelayaran, bertempat di Marunda, Jakarta Utara, Rabu (31/1).

Menurut Ketua Umum ABUPI (Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia) ini, sekarang perseroan sedang merencanakan membangun fasilitas dermaga LCT, mengingat demand-nya cukup tinggi.
“Sebenarnya pada November 2017 lalu, PTI sudah mengajukan ijin ke Kemenhub untuk membangun dermaga LCT, karena kami mentargetkan Mei 2018 sudah dimulai konstruksi, dan November 2018 sudah selesai dan dapat beroperasi,” katanya.
Febri juga menyatakan bahwa dasar membangun dermaga LCT karena adanya permintaan pasar pelayaran dari tahun 2016 lalu, mengingat di pelabuhan Tanjung Priok sudah agak sulit memperoleh fasilitas untuk kegiatan jenis ini.
“Demand untuk kegiatan kapal-kapal LCT cukup besar, makanya kami putuskan untuk menggarapnya,” ungkapnya lagi.
Febri menjelaskan jika kinerja perseroan setiap tahun sejak memperoleh konsesi BUP (Badan Usaha Pelabuhan), terus meningkat. Terbukti pada tahun 2017 lalu, throughput yang ditangani mencapai 3,5 juta ton kargo, atau tumbuh 40% dibandingkan dengan pencapaiam tahun 2016 lalu.
“Tahun 2018, perseroan mentargetkan throughput antara 5,5 juta ton sampai 6 juta ton. Dan target itu kalau dilihat dari kapasitas terpasang MCT yang 8-9 juta ton, berarti masih jauh,” ucap Febri.
Menjawab bagaimana strategi untuk mencapai sesuai dengan kapasitas terpasang, Febri mengungkapkan dan berharap supaya para mitra yang sudah melakukan kegiatan di pelabuhan miliknya ini dapat lebih banyak memasukan kapal dan aktifitasnya kesini. “Tentunya selain kami mencari pasar baru,” ujarnya.
Sementara itu KSOP Marunda Anggiat Douglas Silitonga menyatakan apresiasinya terhadap rencana PTI yang akan membangun dermaga LCT. “Kami sambut baik rencana Pelabuhan Tegar (PTI) membangun dermaga LCT, apalagi di pelabuhan Marunda belum ada terminal yang menyiapkan dermaga LCT,” kata Anggiat.
Anggiat berharap rencana tersebut segera terealisasi.
Di tempat sama, Ketua DPC INSA Jaya Capt. Alimuddin, menyatakan bahwa dermaga LCT tidak memerlukan draft yang dalam, karena untuk kegiatan beaching. “Ini bagus karena pasar untuk LCT cukup baik,” ucap Alimudin.
Seperti diketahui bahwa Marunda Center Terminal dilengkapi dengan dermaga 1 A dan dermaga 1 B. Dermaga (Termial) 1 A mulai melayani operasi sejak 2014, sedangkan 1B mulai Agustus 2017.
Terminal 1A memiliki panjang dermaga 600 meter, dan 1B 1.020 meter. Di 1A bisa disandari kapal berukuran 10.000 DWT, sedangkan 1B dengan 40.000 Dwt. Sementara kedalaman kolam di 1A -6,5, dan 1B dengan -9,5 meter.
Ketika pada Rabu siang (31/1), Ocean Week mendampingi kunjungan sejumlah pebisnis pelayaran ke pelabuhan Marunda Center, tampak pelabuhan ini cukup bersih dan tertata.
Banu Amza dari pelayaran Sayusan Bahari, Capt. Marwoto dari pelayaran Gurita Lintas Samudera, dan Capt. SUwardi dari pelayaran Meratus kepada Ocean Week menyatakan bahwa pengelolaan pelabuhan ini bagus. “Fasilitasnya juga cukup, makanya kami ada kegiatan disini, karena di pelabuhan Priok, terutama untuk kargo umum, fasilitas dermaganya sangat terbatas,” kata ketiganya.
Mereka berharap supaya, pengelola MCT dapat terus menjaga performanya dan memberikan service terbaik kepada para pelanggannya, agar tidak lari dari terminal ini. (***)


























