Untuk menggairahkan kembali industri galangan kapal, Badan Pengusahaan (BP) Batam berencana menyiapkan insentif maupun berbagai kemudahan kepada para pebisnis di sektor itu.
Namun sebelum itu, BP Batam akan bertemu dan berdiskusi terlebih dulu dengan mereka (para pengusaha galangan) untuk mengetahui, apakah disebabkan karena mahalnya sewa lahan atau tarif jasa kepelabuhanan yang mahal.
“Nanti akan kami lihat lagi. Apakah insentifnya diberikan di bagian lahan atau tarif jasa pelabuhan, sehingga kebijakan yang akan dikeluarkan sejalan dengan kebutuhan industri galangan kapal,” kata Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo kepada wartawan, di Batam.
Selain itu, BP Batam juga akan segera merevisi Peraturan Kepala (Perka) BP Batam Nomor 17 tahun 2016 tentang Jasa dan Tarif Pelabuhan. Sebab selama ini pengusaha galangan kapal kerap mengeluhkan tarif jasa kepelabuhanan yang diatur dalam perka itu masih terlalu tinggi.
Namun sebelum merivisi Perka 17/2016 itu, BP Batam akan meminta kepada Dewan Kawasan (DK) Batam untuk segera mengajukan revisi PMK 148 ke Kemenkeu yang menjadi dasar dari Perka tersebut.
Lukita menjelaskan, sektor shipyard tetap menjadi industri unggulan di Batam. Ini sejalan dengan moto Presiden Joko Widodo yang menginginkan Batam menjadi salah satu poros maritim nasional.
“Shipyard masih diunggulkan karena merupakan bagian dari rencana poros maritim. Kita butuh kapal-kapal untuk membangun dan pelihara masa depan Batam,” ujarnya.
Karenanya, Lukita mengatakan BP Batam siap mendukung para pengusaha shipyard di Batam untuk berkompetisi. Dan jika ada perusahaan shipyard yang akan melakukan penggabungan perusahaan (merger), maka BP Batam juga akan fasilitasi.
Sebelumhya, Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putra melihat bahwa pemulihan sektor industri galangan kapal dapat dimulai dengan melakukan restrukturisasi industri.
“Misalnya dengan menggabungkan perusahaan-perusahaan shipyard berskala kecil agar lebihi efisien dan memiliki kapabilitas lebih baik untuk memenuhi permintaan,” kata Gusti.
Saran ini juga sudah termasuk dalam melakukan proses maintenance atau perbaikan kapal, serta mendorong penggunaan teknologi tinggi dalam proses produksinya.
“Sehingga memiliki kemampuan dalam memproduksi jenis ragam kapal termasuk termasuk kapal komersial,” katanya lagi. (btp/**)




























