Senior Vice Presiden Shipping PT. Pertamina, Erry Widiastono menyatakan bahwa Pertamina Shipping sekarang berada di bawah Direktorat Logistic Supply Chain Dan Infrastruktur (LSCI).
Saat ini Pertamina Shipping mengoperasikan 274 armada kapal, dan yang dimiliki Pertamina berjumlah 67 kapal.
“Kedepan kita mengupayakan rasio 50% kepemilikan armada kapal pertamina, sehingga Pertamina mempunyai bergaining position. Tahun 2026 kita menargetkan kapal milik berjumlah 107 unit, sisi kemampuan galangan dalam negeri menjadi pertimbangan,” kata Erry acara diskusi panel bertema ‘Peran Strategis Pertamina Shipping Dalam Menjaga Kelangsungan Bisnis Perusahaan’ di Hotel Grand Mercure Kemayoran Jakarta, Sabtu (21/9).
Sementara itu, Gandhi Sriwidodo selaku Direktur Logistik Supply Chain Dan Infrastruktur mengajak pekerja Pertamina untuk low profile dan hamble.
“Pertamina Shipping harus melayani stake holder dengan baik. Kita boleh bangga dengan kebesaran Pertamina, tapi kita harus low profile dan hamble sehingga masyarakat simpati dengan kita,” Kata Gandhi.
Dalam diskusi yang digelar Serikat Pekerja Forum Komunikasi Pekerja Dan Pelaut Aktif (SP FKPPA) tersebut berlangsung tiga hari, setelah diskusi dilanjutkan program kaderisasi sampai hari Minggu 22 September 2019 di Pulau Ayer, Kepulauan Seribu.
Turut hadir dalam diskusi antara lain direksi PT Pertamina, Direktur Logistic, Supply Chain & Infrastruktur Gandhi Sri Widodo, M. Haryo Yunianto yang menjabat Direktur Manajemen Aset serta Senior Vice Presiden Shipping, Erry Widiastono.
Selain itu ada juga, Ugan Gandar pengamat Migas, pengamat ekonomi politik DR Ichsanudin Noorsy, pengamat energi Marwan Batubara, pengamat geopolitik dan ekonomi Salamudin Daeng, dan mantan kepala Badan Intelejen Strategis Laksma (Purn) Soleman B Ponto.
Hadir pula Capt Dwiyono Soeyono sebagai Ketua Umum Ikatan Perwira Pelayaran Niaga, juga Prof Djuajir Sumardi Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanudin (UNHAS).
M. Haryo Yunianto, pejabat Direktur Manajemen Aset PT. Pertamina, menyatakan tidak perlu khawatir bisnis perkapalan tidak di danai. Bahwa banyak potensi bisnis BUMN belum tersentuh oleh Pertamina Perkapalan.
”Perlu komitmen bersama, sinergi bersama,” ucap Haryo.
Pengamat Migas dan Mantan Ketua Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu, Ugan Gandar mengkhawatirkan Pertamina akan menjadi kecil dan terkebiri, sehingga hanya menjadi perusahaan retail dan distribusi.
“Yang dibutuhkan Pertamina adalah Direktorat Perkapalan bukan Direktorat Gas,” kata Ugan. (ti/**)






























