Arus petikemas Pelindo tahun 2022 naik 1% dibandingkan tahun sebelumnya.
Data mencatat pada 2022 tercapai 17.2 juta TEUs atau 13,5 juta box. Sementara tahun 2021 tercatat 17,056 juta TEUs atau 13,2 juta box.
Untuk petikemas internasional tahun 2022 tercatat 7.965.736 TEUs atau 5.250.679 box, sedangkan domestik ada 9.254.576 TEUs atau 8.041.423 box.
Sementara pada tahun 2021, untuk petikemas internasional yang ditangani tercatat 7.872.429 TEUs atau 5.230.289 box, dan petikemas domestik ada 9.184.205 TEUs atau 8.003.971 box.
Menurut M. Adji, Dirut Subholding Terminal Petikemas kenaikan itu disebabkan adanya penambahan service regular baru (Meratus Line, RCL, GSL, MSC) dan beberapa kapal adhoc MSC pada IPC TPK Tanjung Priok.
“Lalu meningkatnya volume arus petikemas domestic dari dan ke Pontianak dan Tenau Kupang,” ujarnya usai acara Gathering Pelindo dengan pers, di Jakarta, Rabu.
Adji juga menyampaikan bahwa peningkatan volume muatan terjadi khususnya untuk komodity palawija, beras dan jagung tujuan Belawan, Palembang dan Pontianak. Kemudian meningkatnya jumlah bongkaran semen di Tarakan serta bahan material bendungan ameroro, transmall dan jalan akses Toronipa di Kendari.
Sedangkan arus barang secara YoY naik 9%. Pencapaian tersebut dipengaruhi adanya kenaikan bongkar muat curah kering dengan komoditi food and grain pada Cabang Belawan.
Kemudian adanya kenaikan bongkar muat batubara di Mekar Putih dan kenaikan bongkar muat BBM milik PT AKR Corporindo di Cabang Kotabaru.
“Adanya kerjasama baru handling
batubara pada Cabang Tembilahan. Kenaikan bongkar muat curah cair
BBM di TUKS Pertamina serta bongkar
pasir pada Cabang Biak,” ungkap Arif Suhartono, Dirut Pelindo menambahkan.
Adji juga mengungkapkan jika saat ini untuk layanan di terminal yang dikelola Pelindo sedang dilakukan standarisasi operasional di semua terminal petikemas. “Jadi kedepan layanan operasional antara terminal di Belawan, di Semarang, Pontianak, Tanjung Priok, dan lainnya tak ada bedanya,” jelas Adji.
Dia berharap, apa yang dilakukannya ini menjadikan para pelanggan merasa nyaman, karena produktivitas kinerjanya hampir sama.
Kendali Strategis
Tahun 2022 menjadi tahun perdana paska merger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) dengan keberhasilan perseroan mencatatkan efisiensi dan optimalisasi senilai Rp1,3 Triliun. Capaian ini sebagian besar berasal dari konsolidasi dan optimalisasi kapasitas finansial Pelindo, meliputi optimalisasi pembiayaan, relokasi aset, dan implementasi pengadaan bersama, yang mewujudkan kapasitas finansial yang lebih kuat sekaligus optimalisasi aset yang terintegrasi.
“Capaian ini merupakan cerminan manfaat dari penggabungan Pelindo yang hanya dapat diperoleh melalui sinergi antar entitas Pelindo Group sehingga pengelolaan segenap sumber daya perusahaan dapat dilakukan secara lebih efisien serta memberikan kontribusi pendapatan bagi negara yang maksimal,” ucap Arif Suhartono, Direktur Utama Pelindo, kepada pers di Jakarta, Rabu.

Arif juga menjelaskan dengan pengelolaan yang tersentralisasi, Pelindo kini memiliki kendali strategis yang lebih baik, sehingga memudahkan dalam melakukan transformasi layanan operasi end-to-end seperti menciptakan standarisasi sistem layanan operasional pelabuhan yang sebelumnya berbeda-beda antar pelabuhan.
Beberapa sistem yang distandarisasi adalah TOS Nusantara untuk layanan peti kemas, NPK TOS untuk layanan non peti kemas dan Phinisi untuk layanan kapal.
“Transformasi tersebut telah mendatangkan benefit untuk berbagai pihak. Bagi Pelindo sendiri misalnya, terjadi peningkatan efisiensi biaya operasional, potensi penambahan trafik, peningkatan kompetensi dan knowledge. Bagi pelanggan, dengan adanya pengurangan port stay dan cargo stay misalnya, dapat membantu pada penghematan biaya sewa dan operasional kapal bagi perusahaan shipping line yang pada akhirnya diharapkan dapat berkontribusi terhadap penurunan biaya logistik dan mendukung konektivitas maritim,” tambahnya.
Salah satu hasil nyata penggabungan Pelindo di bidang operasional adalah adanya peningkatan kinerja dan produktivitas di sejumlah pelabuhan. Dimana peningkatan produktivitas bongkar muat diukur dengan parameter boks per kapal per jam (BSH) & pengurangan port stay (waktu sandar kapal di pelabuhan) yg diukur dengan jumlah hari.
Sebagai contoh di Terminal Peti Kemas (TPK) Belawan, jumlah bongkar muat naik lebih dari dua kali lipat dari 20 boks per kapal per jam hingga 60 boks per kapal per jam dalam kondisi optimum. Kecepatan bongkar muat itu membuat waktu sandar kapal dapat berkurang menjadi setengahnya, dari dua hari menjadi hanya satu hari. Peningkatan kinerja juga terjadi di TPK Makassar dan Terminal Makassar New Port, di mana waktu sandar dapat berkurang dari dua menjadi satu hari. Peningkatan kinerja terbaik ada di Terminal Peti Kemas Pelabuhan Ambon, dimana kecepatan bongkar muat naik hampir tiga kali lipat, dari 12 boks per kapal per jam menjadi 34 boks dalam kondisi optimum.
Dampaknya, jumlah waktu sandar kapal dapat terpangkas menjadi dua bahkan satu hari.
Secara keseluruhan, peningkatan produktivitas operasional mulai tercermin pada kinerja perseroan tahun 2022, dimana arus peti kemas tercatat sebesar 17,2 juta TEUs atau naik 2% dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan untuk arus barang mencapai 160 juta ton dengan kenaikan 9%, arus kapal mencapai 1,2 miliar GT meningkat 1%, dan arus penumpang menembus 15 juta orang dengan kenaikan 86% dibandingkan periode yang sama.
Selain itu, paska penggabungan, Pelindo tidak hanya berfokus pada pengoperasian pelabuhan, namun juga mengambil peran strategis untuk mendukung pertumbuhan industri. Salah satunya melalui integrasi antara pelabuhan dengan kawasan industri, sehingga menciptakan biaya logistik yang lebih efisien. Milestone yang telah dicapai yaitu penyelesaian pembangunan dan pengoperasian Jalan Tol Cibitung Cilincing (JTCC) yang dibangun untuk meningkatkan konektivitas Pelabuhan Tanjung Priok & Area Hinterland / Kawasan Industri di timur Jakarta.
Langkah ini diharapkan akan mengurangi risiko kongesti di jalan eksisting, sehingga dapat memberikan layanan logistik yang lebih efisien.
“Kami akan melanjutkan program paska merger untuk membawa manfaat yang lebih besar bagi masyarakat terutama bagi Indonesia. Untuk tahun 2023, kami memiliki beberapa fokus utama salah satunya melanjutkan transformasi pelabuhan melalui kegiatan standarisasi dan sistemisasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan,” ungkap Arif.
Fokus lain perusahaan pada tahun 2023 yaitu melakukan ekspansi bisnis melalui strategic partnership dengan global market leaders, penataan bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan kompetensi masing-masing unit bisnis, dan penyelesaian proyek strategis untuk mendukung pembangunan nasional seperti Bali Maritime Tourism Hub (BMTH), Kawasan Pendukung Pelabuhan Kijing, Makassar New Port, dan New Priok Eastern Access. (***)





























