Arus petikemas di sejumlah terminal petikemas di Indonesia mengalami pertumbuhan menggembirakan. Misalnya saja di Tanjung Priok menigkat sekitar 13%, jika pada tahun 2016 mencapai 3.576.750 TEUs, di tahun 2017 (hingga November) sudah tercatat 4.061.373 TEUs.
TPK Koja sudah tembus 1 juta TEUs, sedangkan di JICT marketshare di 2017 ini sekitar 35,89%, padahal tahun 2016 mencapai 55,23%. Begitu pula dengan MAL yang pada 2016 mencapai 9,90%, turun menjadi 7,46%. PTP pun demikian, dari 0.82% menjadi 0,62%.
Kenaikan marketshare cukup signifikan terjadi di TPK Koja, dari 21,04% di tahun 2016 menjadi 24,14% tahun 2017. Mungkin karena terminal ini mendapat pelimpahan pengelolaan dermaga JICT Utara yang akan dioperasikannya hingga Desember 2017 ini. Sedangkan untuk OJA dari 4,08% menjadi 5,30%, dan TSJ sedikit turun, dari 7,92% tahun 2016 menjadi 7,15% tahun ini.
Sementara itu NPCT1, sebagai pendatang baru naik cukup signifikan, sekitar 300% volumenya. Padahal di dua tahun lalu saat mulai beroperasi, terminal ini belum seberapa.
Kata Suparjo, salah satu direksi di NPCT1, volume produksi terminal di pelabuhan Tanjung Priok bertumbuh antara 5-8%.
Di tempat terpisah, Dirut PT Terminal Teluk Lamong (TTL) Dothy menyatakan, bahwa produksi di TTL dari kegiatan di domestik tahun 2017 sebesar 232, 737 box atau 256,997 Teus (Januari-November). Sedangkan untuk pelayaran internasional tercatat 140,342 box atau 186,649 Teus. “Jadi total kegiatan yang dihandle mencapai 443,646 TEus,” ujarnya kepada Ocean Week, Sabtu ini.
Untuk realisasi kunjungan kapal di 2016 tercatat 625 unit atau 6.244.177 GT, padahal taksasi 2017 sekitar 805 unit atau 10.249.206 GT, dan RKAP mengusulkan di tahun 2018 sebesar 924 unit atau 12.249.887 GT.
Dothy juga menyatakan bahwa arus barang curah kering di 2016 tercapai 1.101.416 ton, uncontainerized 4.713 ton, taksasi tahun 2017, tercatat 983.923 ton, dan uncontainerized 6.436 ton, usulan RKAP 2018 sebesar 1.980.000 ton dan 8.907 ton.
“Arus petikemas tercatat 204.862 box atau 242.570 Teus (2016), taksasi 2017 ada 379.000 box atau 459.451 Teus, usulan di tahun 2018 sebesar 445.982 box atau 545.610 Teus,” ucapnya.
Semantara itu Terminal Petikemas Surabaya (TPS) mencatatkan volume penanganan (handling) petikemas internasional hingga Oktober 2017 sebesar 1.076.391 TEUs (twenty-foot equivalent unit). Angka ini naik 4,34% dibanding dengan setahun sebelumnya periode sama yang mencatatkan 1.031.637 TEUs.
Terminal ini mentargetkan dapat tembus 1,4 juta TEUs hingga akhir tahun 2017 ini.
Sedangkan kata Dirut PT Pelindo I Bambang Eka Cahyana, realisasi volume bongkar muat Pelindo I sepanjang Semester I 2017 mencapai 27,5 juta ton atau meningkat 44,78% dibandingkan tahun 2016 periode sama.
Bagaimana dengan proyeksi di 2018 mendatang, apakah produksi yang dihasilkan para terminal tersebut dapat meningkat atau sebaliknya. Namun jika melihat trend pertumbuhan perekonomian, mestinya produksi terminal petikemas lewat pelabuhan meningkat. (***)




























