CEO MAERSK Vincent Clerc memperkirakan gangguan pelayaran global akibat serangan terhadap kapal di Laut Merah kemungkinan akan berlanjut selama beberapa bulan.
Menanggapi serangan pasukan Houthi yang didukung Iran, Maersk dan perusahaan pelayaran besar lainnya telah mengarahkan ratusan kapal komersial untuk menghindari Laut Merah, dan memilih rute yang lebih panjang mengelilingi Afrika.
“Jadi bagi kami ini berarti waktu transit yang lebih lama dan mungkin gangguan pada rantai pasokan setidaknya selama beberapa bulan, mudah-mudahan lebih singkat, tapi bisa juga lebih lama karena perkembangan situasi ini sangat tidak dapat diprediksi,” kata Clerc, seperti dilansir Reuters.
Menurut Clerc, tarif angkutan telah meningkat dua kali lipat sejak awal Desember.
Sementara sumber asuransi mengatakan premi asuransi risiko perang untuk pengiriman melalui Laut Merah juga meningkat.
Para eksekutif perbankan juga telah menyatakan bahwa mereka khawatir krisis ini akan menciptakan tekanan inflasi yang pada akhirnya dapat menunda atau membalikkan penurunan suku bunga.
“Hal ini sangat mengganggu karena hampir 20 persen perdagangan global transit melalui Selat Bab al-Mandab. Ini adalah salah satu arteri terpenting dalam perdagangan global dan rantai pasokan global, dan saat ini sedang tersumbat,” kata Clerc.
Biaya Naik
Serangan milisi Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah berakibat jalur pelayaran besar mengambil rute yang lebih panjang melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan (Afsel).
Malaysia sudah merasakan dampak dari perang tersebut. Perusahaan pelayaran mengaku mengalami kenaikan biaya pengiriman dari Port Klang ke pelabuhan utama Eropa, Rotterdam.
Misalnya untuk kontainer 29 feet tadinya US$975 (Rp 15 juta) menjadi US$3.300 (Rp 51 juta) atau naik 238%. Sedangkan biaya pengiriman kontainer berukuran 40 kaki meningkat dari US$1.650 (Rp 25,9 juta) menjadi US$5.100 (Rp 80 juta) atau naik 209%.
“Harga naik karena risiko, premi asuransi, dan pengalihan rute pengiriman. Hal ini akan diteruskan ke konsumen jika mereka tetap bertahan,” kata ekonom setempat, Geoffrey Williams, dikutip dari Free Malaysia Today (FMT).
Serangan Houthi sejak November tahun lalu berakibat terganggunya jalur perdagangan Eropa, Amerika, termasuk Malaysia dan Asean.
Sementara itu, Federasi Produsen Malaysia (FMM) telah memperingatkan eksportir dan importir bahwa tarif angkutan kemungkinan akan meningkat, dan bisa saja hingga tiga kali lipat untuk tahun ini.
Manajer Umum Otoritas Pelabuhan Klang K Subramaniam mengatakan krisis Laut Merah akan mengurangi kapal yang singgah di pelabuhan Klang Malaysia.
Perjalanan dari Port Klang ke Rotterdam pulang pergi biasanya memakan waktu 65 hari melalui Laut Merah dan Terusan Suez. Karena kini mengambil rute mengitari Tanjung Harapan, perlu waktu 85 hari untuk perjalanan pulang pergi.
Sedangkan Mohd Afzanizam, salah satu pengamat ekonomi Malaysia mengungkapkan, memanasnya laut Merah telah mempengaruhi harga barang-barang impor di Malaysia.
“Harga barang impor juga akan mulai naik karena biaya pengiriman yang lebih tinggi, sebab kapal kontainer terpaksa menempuh rute jauh lebih panjang melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan dibandingkan dengan Laut Merah,” kata Mohd Afzanizam, dikutip dari Strait Times.
Data menyebutkan bahwa ekspor dan impor Malaysia melalui laut masing-masing berjumlah sekitar 53,5% dan 60% dari total ekspor dan impor.
Beberapa waktu lalu, Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto mengatakan bahwa Indonesia belum terdampak dengan memanasnya peristiwa di laut merah, akibat perang Israel-Palestina. “Indonesia masih aman, belum terdampak dari situasional laut merah,” katanya.
Namun, Capt. Subandi (ketua umum GINSI) mengingatkan agar masyarakat Indonesia tak kaget jika harga barang naik. Sebab, ongkos pengapalan barang impor juga ikutan naik. (**)






























