Pelabuhan Batang sejak dioperasikan pada 13 Oktober 2025 lalu, hingga saat ini sudah melayani 11 kapal (tongkang) dari keempat mitranya yakni PT KCC Glass Indonesia, PT Rumah Keramik Indonesia, dan PT Merak Jaya Beton.
“KCC rutin per bulan tiga kapal masuk sini (pelabuhan Batang), tapi kalau kondisi pelabuhan Batang masih belum memenuhi syarat, mereka akan memindahkan kegiatannya ke Tanjung Emas Semarang,” ujar Capt Joko S Branch Manager PT PMT kepada Ocean Week di Semarang, akhir pekan lalu.
Joko memaklumi jika kegiatan PT KCC akan menggunakan Tanjung Emas, karena di pelabuhan ini fasilitasnya lebih lengkap, juga lebih efisien. “Kami nggak masalah, sebab operasional di pelabuhan Batang juga yang menangani PMT,” ungkapnya.
Ocean Week yang pada Kamis Minggu lalu berkesempatan melihat langsung pelabuhan Batang, ditemani deputi Branch Manager PMT Abidin, bahwa akses ke pelabuhan sudah sangat bagus, industri di kawasan Batang tersebut juga sudah banyak yang berproduksi.
Sebenarnya, posisi pelabuhan Batang sebagai penopang kawasan industri Batang sudah tepat.
Sayangnya, break water belum ada, sehingga jika ombak besar, bongkar muat barang terganggu.
Kondisi ombak besar juga sempat terlihat, dan hal itu pasti akan membuat tongkang yang rata-rata memuat batubara 7 ribu ton sulit membongkarnya.
Menurut Abidin, barang yang selama dilayani di pelabuhan Batang antara lain, batu split dan lainnya. “Kapal besar belum bisa karena draft nya 5 meter,” ungkapnya.
Tadinya, kata Abidin, ada rencana barang berupa besi mau masuk dari China, tapi nggak jadi karena draftnya. “Akhirnya pindah ke Tanjung Emas,” katanya. (***)





























