PT ASDP Fery Indonesia berencana dan menggagas wisata religi menggunakan kapal laut.
Kalau negara Malaysia bisa meluncurkan kapal laut sebagai angkutan ibadah haji ke Tanah suci Mekah, kenapa Indonesia tak bisa.
Karena itu, salah satu perusahaan pelayaran BUMN menggagas untuk itu, karena jaman dulu, masyarakat Indonesia pergi haji dengan menggunakan kapal laut. Anggap saja sebagai wisata religi, bepergian untuk menunaikan rukun Islam, sambil berwisata.
Tapi, kapal yang digunakan untuk angkutan wisata religi tersebut, juga mesti seperti kapal-kapal wisata internasional, sehingga membuat orang-orang yang menaikinya tak berasa diatas laut.
Pertanyaannya apakah gagasan itu dapat diwujudkan, Ocean Week (OW) mencoba mewawancarai Carmelita Hartoto (CH), Ketua Umum DPP Indonesia National Shipowners Association (INSA), berikut petikannya.
OW : Malaysia sekarang sudah meluncurkan kapal wisata religi (angkutan haji ke Mekah), kalau ada perusahaan yang juga berencana untuk mengembangkan wisata religi seperti itu bagaimana menurut Ibu ?
CH : Kalau nggak salah waktu itu di Indonesia juga sudah ada rencana berhaji dengan kapal, tapi masih berupa wacana. Dan mungkin sedang dikaji oleh pemerintah. Kalau ada perusahaan yang mau mengembangkan usaha kesana, ya fine-fine saja. Tapi harus mempunyai kajian yang komprehensive, dari berbagai aspek. Karena ini kan membuka rute baru.
OW : Apakah juga berpotensi bagus jika perusahaan pelayaran menggarap wisata domestik, karena wisata untuk dalam negeri sekarang justru kapal asing, kenapa tidak pelayaran nasional saja yang menggarap itu ?
CH : Loh kalau wisata domestik, kan sudah dijalankan di daerah-daerah wisata bahari seperti Raja Ampat dan Labuhan Bajo serta Indonesia timur lainnya. Sudah banyak kapal2 wisata kecil yang melayani disana. Peluang tujuan wisata bahari kan sudah lama kita gaungkan. Sudah ada sekitar 670 kapal wisata berbendera Indonesia yang terdiri dari Phinisi, Speed Boat, Yacht. Dan ada sekitar 500 kapal dari 670 kapal adalah kapal Live on Board. Lha kalau perihal kapal asing (cruise) yang masuk Indonesia itu untuk melayani kebutuhan wisatawan asing yang melayari berbagai tujuan negara dan singgah di Indonesia. Bukan untuk wisatawan Indonesia. Kalau ada wisatawan Indonesia disana, mereka kebanyakan hanya menikmati perjalanan dan fasilitas cruise tersebut. Mereka boarding dan unboarding di Luat negeri.
OW : Jika kedua hal itu ada yang siap untuk memasuki pasar itu, misalnya ASDP bagaimana pandangan Ibu?
CH : Kalau ASDP atau PELNI sebagai BUMN menggarap wisata domestik, mestinya enggaklah. Kan pariwisata bukan kebutuhan pokok. Tidak ada kewajiban PSO disitu. Akan tetapi kalau untuk berhaji dengan kapal, disitu BUMN bisa hadir.
OW : Apa saran ibu untuk Sekmen pasar wisata tersebut jika ada yang mau garap itu ?
CH : Jawaban saya sama dengan point satu. Pertama harus ada kajian yang komprehensive. Yang kedua tentunya faktor keselamatan diutamakan. Dan selanjutnya tentunya fasilitas kenyamanan. Kan yang diangkut bukan barang.
OW : Sekarang ini sektor wisata kan sedang digalakkan oleh pemerintah RI, seberapa besar peluang nya jika pelayaran menggarap ini ?
CH : Sebagaimana yang sering kita sampaikan diberbagai forum FGD, seminar bahkan dalam INSA Yacht Festival yang merujuk terhadap salah satu program Pemerintah yaitu “Go Beyond Ordinary” yang berfokus pada 3 pilar utama, Marine Tourism, Wellness Tourism, & Gastronomy Tourism; kita selalu gaungkan potensi ini. Dan ini disambut baik oleh pengusaha-pengusaha di Indonesia timur. Banyak kapal-kapal pinisi yang dimodifikasi menjadi kapal wisata bahari seperti di Halong Bay Vietnam.
OW : harapan ibu untuk ini ?
CH : kami berharap supaya ide ini dikaji secara komprehensive, sehingga tidak salah langkah. Kalau untuk haji dengan kapal laut dan itu bisa diwujudkan, bagus sekali. Hanya saja kapal yang digunakan juga harus dibuat senyaman mungkin, sehingga orang-orang yang naik pun nyaman. (ridsaid/ow)





























