Dalam upaya meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas bongkar muat, TPK Berlian yang dikelola oleh PT Terminal Teluk Lamong berhasil mencatatkan peningkatan kinerja signifikan melalui penerapan sistem Hot Seat Management.
Inovasi ini memungkinkan pergantian operator dilakukan langsung di alat tanpa menghentikan aktivitas bongkar muat, sehingga proses operasional dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa adanya waktu jeda.
Penerapan sistem Hot Seat Management mulai diberlakukan sejak 1 Oktober 2025, diawali dengan perubahan pada pola jam istirahat tenaga kerja bongkar muat (TKBM).
Melalui sistem baru ini, dua gang kerja bergantian mengambil waktu istirahat sehingga alat dan kegiatan bongkar muat dapat terus beroperasi tanpa henti. Selain itu, manajemen juga menyiapkan operator standby untuk memastikan tidak terjadi kekosongan posisi saat pergantian shift, serta melakukan pemantauan kinerja per 30 menit untuk meminimalkan potensi waktu idle.
Langkah-langkah strategis tersebut menciptakan pola kerja yang lebih efisien dan terukur. Berdasarkan hasil evaluasi kinerja pada periode 1–13 September 2025 dibandingkan 1–13 Oktober 2025 setelah penerapan sistem baru, produktivitas TPK Berlian menunjukkan peningkatan di hampir seluruh aspek. Rata-rata Box per Ship Hour (BSH Nett) meningkat sebesar enam persen, dari 25,59 menjadi 27,21, sedangkan Box per Crane Hour (BCH Gross) naik tiga persen, dari 14,41 menjadi 14,85.
Kinerja BSH Gross juga mengalami kenaikan sebesar lima persen dari 23,06 menjadi 24,18, dan BCH Nett meningkat tiga persen dari 17,35 menjadi 17,90. Efisiensi waktu sandar kapal turut membaik dengan rasio ET:BT naik dari 82,93 persen menjadi 83,18 persen.
Sementara itu, indikator waktu non-produktif atau NOT2 mencatat penurunan yang sangat signifikan, yakni sebesar 39 persen dari 1,32 jam menjadi hanya 0,81 jam per call. Dampak positif ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan volume produksi, di mana dalam 13 hari pertama Oktober 2025, TPK Berlian berhasil mencatat 23.215 box, meningkat tujuh persen dibandingkan capaian 21.653 box pada bulan sebelumnya.
Menariknya, lonjakan produktivitas justru terjadi pada jam-jam yang sebelumnya tergolong periode non-produktif seperti waktu istirahat dan pergantian shift.
Pada rentang waktu 06.30–06.59, peningkatan produksi mencapai 311 persen, sementara pada pukul 11.30–11.59 meningkat 549 persen, 17.30–17.59 naik 557 persen, dan 23.30–23.59 melonjak hingga 142 persen.
Data ini menunjukkan bahwa implementasi Hot Seat Management efektif menjaga kelangsungan operasi dan mengurangi waktu berhenti alat secara signifikan.

Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David Pandapotan Sirait, memberikan apresiasi atas capaian yang ditorehkan TPK Berlian.
“Keberhasilan TPK Berlian dalam menekan waktu idle hingga 39 persen menjadi bukti nyata komitmen seluruh jajaran terhadap efisiensi dan pelayanan prima kepada pengguna jasa. Inovasi ini sejalan dengan semangat transformasi Pelindo Group dalam menciptakan operasional pelabuhan yang semakin produktif, adaptif, dan berdaya saing tinggi,” ujar David.
TPK Berlian berkomitmen untuk terus mengoptimalkan penerapan Hot Seat Management melalui evaluasi rutin terhadap kinerja operasional serta peningkatan koordinasi antar pihak terkait. Inovasi ini diharapkan menjadi salah satu model efisiensi yang dapat diimplementasikan di terminal-terminal lain yang juga dikelola oleh PT Terminal Teluk Lamong.
Dengan langkah nyata tersebut, TPK Berlian menegaskan perannya sebagai terminal yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada peningkatan kinerja berkelanjutan sekaligus mendukung TTL Evaluasi Kinerja K3L dan Insikator Riaiko Sebagai Bagian Dari Transformasi Budaya.
Standar K3L
PT Terminal Teluk Lamong (TTL) terus menunjukkan konsistensi dalam penerapan standar Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) melalui kegiatan evaluasi kinerja berkala. Agenda ini menjadi forum strategis untuk meninjau capaian dan tantangan implementasi K3L di seluruh lingkungan TTL Group, termasuk TPK Nilam, TPK Berlian, dan TPK Lamong.
“Fokus evaluasi diarahkan pada isu-isu K3L yang dihadapi masing-masing terminal, pemenuhan Key Risk Indicator, serta implementasi safety transformation. Kami memastikan TTL senantiasa konsisten dalam menjaga standar K3L di level tertinggi,” jelas Muhammad Syukur, Direktur Operasi PT Terminal Teluk Lamong.
Transformasi keselamatan di TTL berfokus pada tiga aspek utama, yaitu: Terminal Sterilization, memastikan tidak ada orang atau kendaraan yang tidak berkepentingan memasuki area berisiko tinggi.
Safety Induction, diberikan kepada setiap individu yang beraktivitas di terminal agar memahami potensi risiko yang ada.
Minimum Requirement for Safety, menekankan standarisasi keselamatan dari sisi fasilitas, peralatan, hingga kompetensi pekerja.
Evaluasi terhadap tiga terminal menunjukkan peningkatan signifikan dalam implementasi transformasi budaya K3L.
TPK Nilam mencatat peningkatan kinerja sebesar 33%, TPK Berlian 50%, dan TPK Lamong mencapai 64%. Peningkatan ini menjadi bukti bahwa transformasi budaya K3L di TTL berjalan efektif dan berkelanjutan.
“Evaluasi kinerja K3L ini menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya keselamatan di seluruh lini. Kami memastikan setiap individu memiliki kesadaran dan tanggung jawab K3L yang tinggi,” ungkap Anang Januriandoko, Senior Manager QHSSE PT Terminal Teluk Lamong.
Keselamatan merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya kerja di Terminal Teluk Lamong. TTL berkomitmen untuk tidak hanya patuh terhadap standar K3L, tetapi juga menjadi teladan dalam penerapan budaya kerja yang aman, produktif, dan berkelanjutan.misi besar Pelindo Group dalam memperkuat konektivitas logistik nasional dan efisiensi rantai pasok di Indonesia. (***)






























