INSA Kalimantan Barat dan ALFI Pontianak mengeluhkan pendangkalan alur pelayaran dari dan ke pelabuhan Dwikora Pontianak.
Tjuk Fo Phin (Ketua DPC INSA Kalbar) dan Dharmayadi (Ketua ALFI Pontianak) membenarkan jika alur pelayaran di sungai Kapuas tersebut sudah mulai dangkal, sehingga perlu segera dilakukan pengerukan.
“Apalagi untuk kapal-kapal petikemas, harus menunggu pasang, termasuk juga kapal penumpang (Pelni dan DLU), mesti menunggu air sungai pasang,” ungkap Fo Phin, beberapa waktu lalu kepada Ocean Week per telepon, dibenarkan Dharmayadi.
Mereka berharap, Pelindo bersedia melakukan pengerukan terhadap alur pelayaran sungai Kapuas ini.
Keluhan tersebut pun pernah disampaikan direktur Temas Capt Japie. “Memang alur pelayaran pelabuhan Dwikora yang cukup panjang itu sudah butuh perawatan, pendangkalan sudah terjadi, perlu segera dikeruk. Jangan sampai lalu lintas kapal terhambat, sehingga berdampak pada perekonomian Kalbar,” katanya.
Dia berharap pemerintah (Kemenhub) atau Pelindo segera melakukan pengerukan alur pelayaran tersebut.
Sementara itu, dalam kesempatan berbeda, Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono (BHS) juga menyoal isu pendangkalan alur pelayaran yang dinilainya bisa menghambat arus kapal di Pelabuhan Pontianak.
Karena itu, BHS menyempatkan diri mengunjungi Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Pontianak guna mendengarkan langsung keluhan asosiasi pelayaran itu.
“Saya bertemu dengan pihak KSOP dan Pelindo untuk mendiskusikan keluhan yang dialami saat memasuki alur sungai menuju Pelabuhan Pontianak,” kata owner pelayaran DLU itu dalam keterangannya kepada pers, baru-baru ini.
Bambang Haryo menyampaikan bahwa pendangkalan sepanjang sekitar 3 mil di alur pelayaran Sungai Kapuas telah menghambat kapal-kapal penumpang dan barang yang masuk maupun keluar dari Pelabuhan Pontianak.
“Ini bukan hanya berdampak pada keterlambatan arus logistik, tetapi juga meningkatkan risiko kerusakan kapal,” ungkapnya.
Dia lebih merinci jika pendangkalan tersebut berpotensi merusak komponen vital kapal seperti plat, baling-baling, dan sistem pendingin. Oleh sebab itu, Bambang menekankan pentingnya normalisasi alur dengan pengerukan segera untuk mengembalikan kedalaman yang aman.
“Kondisi ini sangat penting untuk keselamatan pelayaran. Pendangkalan yang tidak ditangani dapat menyebabkan kerusakan serius pada kapal dan membahayakan keselamatan penumpang serta barang yang diangkut,” ujarnya.
Menurut Bambang Haryo, dengan pengerukan dan peningkatan kedalaman alur, kapal-kapal berukuran lebih besar akan dapat berlayar dengan lebih mudah keluar masuk Kalimantan Barat. Dan ini akan membawa dampak positif pada efisiensi angkutan laut, sekaligus menurunkan biaya logistik.
“Dengan kedalaman alur yang lebih baik, biaya logistik dapat ditekan, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat regional dan nasional,” katanya lagi.
Seperti diketahui, melalui program ASEAN Connectivity, Pelabuhan Pontianak memiliki potensi sebagai ikon pelabuhan internasional bagi Indonesia, terutama dengan lokasinya yang strategis.
Anggota DPR RI ini mengaku siap mendorong perbaikan infrastruktur pelayaran dan menyelesaikan berbagai masalah transportasi laut di Kalimantan Barat.
“Pontianak harus siap menjadi pelabuhan hub bagi Indonesia bagian utara. Saya siap membantu dan berkontribusi dalam menyelesaikan masalah transportasi laut di wilayah ini,” katanya.
Untuk diketahui bahwa di sepanjang alur sungai Kapuas tersebut, banyak TUKS, juga ada dermaga yang dioperasikan Pelindo yang konon akan dipindahkan ke Kijing. Selain itu ada pula dermaga yang dioperasikan Temas, dan operator yang lain.
Sungai Kapuas tersebut tak hanya dilalui oleh kapal petikemas, dan kapal angkutan barang non petikemas, namun juga untuk kegiatan kapal penumpang. (***)





























