Pelaku usaha kesulitan memprediksi bagaimana pergerakan perdagangan pada tahun 2024 mendatang.
Alasan nya sama yakni pengaruh ekonomi global yang tak menentu, perang Rusia-Ukraina, Palestina-Israel, dan adanya tahun politik serta isu lingkungan.
Ketua ALFI DKI Jakarta Adil Karim, Ketua DPC INSA Semarang Hari Ratmoko, Ketua ALFI Jateng-DIY Teguh Arif Handoko, ketua DPC INSA Dumai Herman Buchori, serta sekretaris GINSI Jateng Yudhi Panca, kompak mengatakan hal itu kepada Ocean Week secara terpisah, Kamis malam.
“Untuk realisasi tahun 2023 ini, sudah pasti masalah yang mempengaruhi adalah global, adanya perang Rusia Ukraina sehingga sulit bertransaksi, masalah nilai tukar mata uang dan lain-lain,” ujar Adil Karim.
Sementara untuk tahun 2024, ungkap Adil, dirinya masih sulit memprediksi, karena kalau bicara perdagangan international ekspor impor pasti berhubungan dengan global, artinya masih adanya perang Rusia dan Ukraina, isu suku bunga yang tinggi, krisis pangan dan lain-lain ini sangat mempengaruhi transaksi global sehingga berdampak terhadap logistik dan suplai chain.
“Tapi kita sebagai pelaku logistik pasti tetap optimis adanya pertumbuhan pada tahun 2024. Untuk domestik masih terjadi pertumbuhan logistik salah satunya dikarenakan adanya pesta demokrasi sehingga barang banyak bergerak untuk pengadaan Pemilu 2024,” jelasnya.
Sedangkan Ketua DPC INSA Semarang memprediksi arus barang melalui pelabuhan Tanjung Emas Semarang khusunya di 2024 masih lesu, dan cenderung menurun, karena pengaruh ekonomi global yang tak menentu, adanya tahun politik dan isu lingkungan.
“Sejujurnya tahun depan (2024) masih lesu, karena kendala seperti tahun politik, situasi ekonomi dunia yang melambat dan adanya Isu lingkungan,” kata Hari Ratmoko.

Sementara itu, ketua ALFI Jateng-DIY menyampaikan bahwa tantangan kedepan untuk pelaku Logistik dan Forwarder di 2024, menurut Teguh, masih wait and see karena ekonomi global yang tidak menentu akibat konflik perang dan juga inflasi.
“Apa yang diperkirakan sebelumnya bahwa tahun 2023 akan terjadi krisis ternyata tidak terjadi,” ujarnya.
Teguh juga mengatakan sesuai data yang ada di Jawa Tengah bahwa ekspor dan impor sampai dengan Oktober 2023 hanya turun sedikit dan tidak mengakibatkan dampak yang berati bagi pebisnis logistik di Jateng dan DIY.
“Sementara untuk 2024 wait and see, karena selain belum membaiknya perekonomian global, juga kita harus mengamati tentang tahun politik di Indonesia, ekspansi perusahaan tentunya perlu perhitungan yang lebih detail di tahun 2024,” jelas Teguh.
Meski begitu, ungkapnya, masih ada peluang lah. “Peluangnya, sektor logistik dalam negeri/lokal tetap akan berjalan baik karena kami yakin bahwa perekonomian di Indonesia bisa lebih baik dibandingkan dengan luar negri, dan juga logistik Pemilu tahun 2024 akan banyak dikerjakan para pebisnis logistik dalam negeri yang saat ini di tahun 2023 tidak terpengaruh ekonomi global yang tidak menentu,” katanya.
Teguh menambahkan bahwa kegiatan perdagangan atau arus barang melalui pelabuhan Tanjung Emas Semarang sampai dengan Oktober 2023 dibandingkan periode sama 2022 hanya sekitar 8%. “Ini juga perlu menjadi perhatian kita, apakah di 2024 makin turun atau membaik,” ujarnya.
Di tempat lain, Sekretaris GINSI Jateng Yudi Panca mengemukakan bahwa kemungkinan terjadi penurunan impor, karena akan adanya kebijakan pengetatan impor melalui Permendag atas barang yang di impor. “Contohnya, banyak barang yang dulunya bebas impor kedepan akan terkena Lartas,” ujarnya.
Sedangkan Ketua DPC INSA Dumai Herman bahwa perdagangan melalui pelabuhan Dumai semakin membaik.
Hanya saja pelabuhan Dumai, menurut Herman, perlu dilakukan pengerukan pada dermaga umum, dan itu harus segera dilakukan terutama dermaga A.
“Sudah sangat dangkal, sudah banyak kapal yang kandas,” ungkapnya.
Mereka semua berharap, perekonomian dunia di tahun mendatang akan membaik, sehingga dampak nya untuk Indonesia juga bagus. “Jika perekonomian membaik, otomatis akan berdampak kepada perekonomian kita,” katanya. (**)






























