Kelangkaan kontainer kosong 40 feet bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga sudah menyebar ke seluruh dunia.
Kelangkaan ini menjadikan eksportir mengalami kesulitan dalam mengirimkan barangnya ke luar negeri.
“Kelangkaan container kosong untuk digunakan, tidak terjadi di Indonesia saja, tapi sudah terjadi di seluruh dunia sebagai akibat global pandemic covid19 dan banyak negara lockdown, industri terhenti, container kosong terhambat untuk di reposisioning,” kata Carmelita Hartoto, Ketua Umum DPP INSA, kepada Ocean Week, Rabu sore (2/12), di Jakarta.
Apalagi untuk Indonesia, ujar Meme (panggilannya), volume import menurun dibandingkan dengan export. Sehingga exportir kita kekurangan container kosong untuk dipakai.
“Dalam berbagai FGD (focus group discution) yang mendiskusikan masalah ini, INSA juga memberikan masukan-masukan kepada pemerintah, diantaranya adalah dengan segera memberikan kemudahan-kemudahan bagi operator pelayaran internasional untuk mendatangkan container kosong, baik dalam pengurusannya, maupun biaya kepelabuhanannya,” ujarnya lagi.
Lalu kedepannya, kata Carmelita, perlu menyeimbangkan antara volume export dan import kita.
Menurut Meme, yang lebih penting lagi adalah bagaimana bisa merubah term of trade dari FOB ke CIF. Sebab, dengan CIF maka eksportir memegang kendali pengiriman barang dan mempunyai kedekatan dengan operator pelayaran internasional. Sehingga mendapat prioritas untuk dilayani. Tidak seperti saat ini dengan term FOB, dimana kontrol berada ditangan buyer atau pembeli.
Menjawab apakah term itu untuk Indonesia bisa diubah, Meme menyatakan bisa saja diubah.
“Term of trade itu kan ditentukan oleh perjanjian bisnis antara eksportir dan importir di negara tujuan. Akan tetapi kebanyakan kan eksportir lebih cenderung mengambil yang mudahnya saja, yakni FOB. Karena tidak perlu susah-susah cari alat angkutnya. Begitu barang naik dikapal, L/C bisa dicairkan. Dan terhindar dari resiko barang rusak ditempat tujuan atau direject oleh buyer bila misalnya terjadi offspec,” jelasnya panjang lebar.

Sementara itu, praktisi pelayaran dari PT Samudera Indonesia Capt. Supriyanto membenarkan bahwa saat ini terjadi kelangkaan kontainer 40 feet.
Dia mengatakan untuk bisa mengatasi hal ini, mau tak mau harus ada campur tangan pemerintah. Salah satunya dengan memanfaatkan 1200-an kontainer yang idle di pelabuhan Tanjung Priok dan di pelabuhan Batam.
“Pemerintah bisalah untuk memanfaatkan kontainer-kontainer yang idle di pelabuhan Priok dan pelabuhan Batam untuk mengatasi kelangkaan ini. Teknisnya bagaimana ya,,pemerintahlah yang mesti keluarkan kebijakannya,” ujarnya.
Sedangkan Erwin Taufan, salah satu ketua GINSI kepada Ocean Week, menyatakan bahwa kelangkaan empty container 40 feet untuk ekspor terjadi sejak covid-19. “Banyak negara yang menutup (lockdown), dan itu sangat berdampak untuk kegiatan ekspor dari Indonesia, selain itu karena berkurangnya impor kesini (Indonesia),” katanya.
Taufan berharap, kementerian perdagangan dan pihak terkait turun tangan mengatasi masalah ini. “Ini nggak bisa dibiarkan berlama-lama, karena bisa merugikan Indonesia sendiri,” ujarnya lagi.
Carmelita Hartoto meminta perlunya dicarikan solusi dalam menangani kondisi kekurangan kontainer global yang terjadi saat ini dengan melibatkan seluruh stakeholder pelayaran.
“Kekurangan kontainer global menjadi isu hangat di dunia pelayaran dan logistik saat ini. Para eksportir, termasuk di Indonesia, mengalami kesulitan mendapatkan kontainer untuk mengirimkan barangnya ke luar negeri,” ungkapnya.
Sebelumnya, Carmelita membenarkan jika kekurangan kontainer global ini bermula dari menyebarnya pandemi Covid-19 dari China ke seluruh penjuru dunia, kemudian menyebabkan banyak negara melakukan lockdown dan terjadi penurunan jumlah kargo muatan kapal kontainer.
Sebagai tindakan logis, kata Carmelita, untuk mempertahankan operasional, maka para operator pelayaran kontainer dunia menyusutkan jumlah operasional kapal container untuk memangkas beban biaya perusahaan.
“Namun China terlebih dahulu mengatasi pandemic dan lebih dahulu melakukan aktivitas ekonominya serta kargo sudah mulai tumbuh kembali, Namun kontainer belum tersedia, karena berkurangnya tenaga kerja dari negara-negara yg melakukan lockdown seperti Amerika,” ujarnya lagi.
Akibat kekurangan kontainer ini, mengakibatkan freight pelayaran global mengalami kenaikan.
Menurut Meme, penyebab lainnya karena terjadinya kongesti di Pelabuhan Singapura, Inggris, Tiongkok dan Amerika.
“Kongesti ini mengakibatkan terjadinya delay keberangkatan kapal dan mengubah jadwal pelayaran,” jelasnya.
Untuk itu, DPP INSA meminta perlu ada solusi dari Kementerian Perdagangan untuk membawa kontainer kosong ke Indonesia.
“Infonya sebanyak 1292 kontainer terhambat agar diakomodasi untuk tujuan ekspor ke negara tujuan utama (long haul) seperti ke Eropa dan Amerika,” harapnya.
INSA mengusulkan supaya repo kontainer kosong ke Indonesia untuk dibebaskan biaya bongkar di pelabuhan, selain itu mendorong dibukanya keran impor ke Indonesia, serta eksportir diharapkan mensubstitusi tipe kontainer, dari biasanya menggunakan 40 feet menjadi 20 feet.
“DPP INSA sudah menyampaikan beberapa usulan ini dalam rapat beberapa waktu lalu dengan pemerintah dan stakeholder lainnya,” kata Carmelita. (***)




























