Program Tol laut sudah berjalan lima tahunan. Salah satu program yang selalu menjadi konsen presiden Jokowi ini terus dilakukan evaluasi untuk perbaikan kualitas layanan kedepannya.
Upaya yang dilakukan yakni dengan membuat aplikasi Sistem Informasi Tol Laut (Sitolaut) yang rencananya akan diluncurkan Desember tahun 2020 ini.
Menurut Kasubdit Angkutan Laut Khusus dan Usaha Jasa Terkait, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Capt. Bharto Ari Raharjo, aplikasi Sitolaut merupakan pengembangan dari Logistic Communication System (LCS) untuk memudahkan para pengguna jasa Tol Laut dalam mengakses sistem Tol Laut melalui media elektronik.
Selama ini pengguna jasa Tol Laut untuk mendapat informasi dan layanan hanya menggunakan komputer. Namun, dengan adanya aplikasi Sitolaut ini penggunaan jasa bisa mengakses seluruh layanan tol laut.
“Dengan aplikasi ini layanan semakin sederhana, cepat, dan aman dalam proses pengiriman barang dari lokasi asal sampai ke tujuan barang,” kata Capt. Bharto kepada Ocean Week, Senin sore (30/11).
Dengan Sitolaut, ujar Bharto, para pengguna jasa tol laut dapat cepat mengakses dengan moda lainnya baik udara, darat yang sudah masuk dalam sistem ini.
“Melalui Tol Laut layanan muatan dari tempat asal akan bisa dilayani dengan berbagai moda sampai ke tujuannya di pelosok-pelosok daerah sebagai mana yang selama ini disebut pada daerah terpencil, terluar, terdepan,” jelasnya.
Aplikasi Sitolaut diharapkan dapat mendorong hasil-hasil bumi di wilayah pedalaman bisa dipasarkan ke wilayah daerah lainnya. Sehingga kesejahteraan di wilayah pegunungan, misalnya, bukan hanya dari sisi konsumtif saja, melainkan juga dari sisi eksplorasi sumber dayanya dikuatkan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di wilayah pedalaman tersebut.
Dalam aplikasi Tol Laut tersebut terdapat fitur-fitur sebagai berikut:
Sitolaut Ternak – Pembuatan aplikasi yang diperuntukan untuk logistik ternak, sehingga Sitolaut ternak pun akan dapat dimonitoring oleh regulator secara sistem.
Tarif Control – Mengontrol dan memonitoring tarif jasa ekspedisi yang diinput oleh shipper sebagai biaya jasa pengiriman.
Consigne Zone – Membuat consignee hanya bisa melakukan transaksi untuk daerahnya sendiri, kecuali untuk muatan balik.
Vessel Tracking – Menampilkan semua kapal-kapal Tol Laut di maps dan dapat menginfokan detail muatannya di semua entitas user.
Selain itu, ada juga fitur-fitur pengembangan antara lain; master harga/tarif (dry/reefer/curah, box) sehingga operator tidak perlu memasukkan harga (sesuai KM 4 Tahun 2020).
Kemudian master kontrak bagi operator. Master kapal berfungsi untuk mendata dan menentukan kapal utama dan kapal pengganti.
Berikutnya master trayek yang berfungsi untuk penyeragaman pemberian nama trayek, menentukan trayek berangkat dan trayek balik.
Menu report (tambahan reporting untuk kebutuhan regulasi). Fitur operator untuk mengubah nomor kontainer dan menginput kontainer kosong.
Selanjutnya fitur shipper untuk mengubah jenis dan muatan (edit packing list). Sedangkan jadwal kapal diinput untuk masing-masing pelabuhan.
Muatan general gargo (curah dan box), dimana pemilihan pelabuhan bongkar disesuaikan menurut pakta integritas, sehingga consignee hanya dapat menjadi penerima muatan di pelabuhan yang telah mendapat pakta integritas.
Pemberian akses kepada OP/KSOP/UPP, Dinas Perdagangan, dan Direktorat Perhubungan Darat (Dithubdat). Pengitegrasian fitur pembayaran melalui BRIVA (BRI Virtual Account).
Sedangkan manfaat yang diperoleh dari adanya Tol Laut khususnya di Kabupaten Mimika, Bharto mengungkapkan bahwa sumber daya yang ada di Mimika bisa dieksplor ke wilayah Indonesia bagian barat. Selain itu, Kemenhub juga mendorong Tol Laut hingga menjangkau wilayah pegunungan.
“Tol laut itu sudah berkolaborasi dengan moda udara, maupun darat. Diharapkan bisa juga mendorong hasil bumi di wilayah pegunungan dapat dieksplor keluar Mimika. Sehingga kesejahteraan yang ada di wilayah pegunungan bukan dari sisi konsumtifnya saja, tapi dari sisi ekspolarasi,” ungkapnya lagi.
Pastinya, Sitolaut bertujuan memberikan informasi mengenai trayek dan jadwal kapal serta biaya pengiriman (freight container). Selain itu, jug menyediakan sistem tracking distribusi logistik dari supplier sampai resseler yang bisa diakses oleh user atau stakeholder berdasarkan hak aksesnya.
“Dengan Sitolaut, pemerintah dapat mengontrol dan memonitor secara langsung untuk harga logistik, tracking kapal, dan juga stakeholder yang ikut berkontribusi dalam program pemerintah memajukan logistik Indonesia,” kata Bharto.
Sementara itu, Teddy Arif Setiawan, direktur PT Tempuran Emas Tbk menyatakan bahwa tol laut dapat memudahkan masyarakat di pedalaman, terluar, melakukan pengiriman barang.
“Apalagi sekarang ini kapal-kapal tol laut sudah mempunyai jadwal memasuki ke suatu wilayah di pelosok negeri,” katanya.
Sebagai salah satu operator tol laut swasta, Teddy mengaku bahwa pihaknya akan terus mendukung program ini. “Selagi masih dipercaya, kami akan terus mendukungnya,” ungkapnya. (***)




























