Pengusaha truk mengeluhkan terhadap sepinya order angkutan. Bahkan Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menyatakan adanya wabah COVID 19 di Indonesia yang berjalan sekitar 3 bulan, menjadikan 60% dari total nasional 6,5 juta armada truk tak beroperasi.
“Kalau kedepan masih juga belum ada kepastian kapan wabah Corona ini berakhir, paling truk yang beroperasi hanya tinggal 20%,” kata Gemilang Tarigan, ketua Umum Aptrindo saat dikonfirmasi Ocean Week, di Kantornya, di Jakarta Utara, Senin sore (18/5).
Makanya untuk mensiasati membanjirnya gelombang PHK terhadap para sopir, menurut Tarigan, para sopir jalan secara bergantian. “Misalnya perusahaan A punya truk 10, yang jalan cuma 4, itu sopirnya giliran, hari ini sopir x besuk kalau narik ganti sopir xx. Itu untuk menghindari PHK,” ujarnya sedih.
Tarigan mengakui bahwa saat ini pebisnis trucking menghadapi ketidak pastian. “Order berkurang drastis. Apalagi hampir kegiatan di pelabuhan (truk kontainer) turun, begitu pula di depo petikemas semakin sepi,” ungkapnya.
Ditanya kesiapan menghadapi Lebaran 2020, Tarigan mengatakan pihaknya selalu siap sepanjang ada order barang yang diangkut. “Kalau tak ada barang (kontainer) yang diangkut apa harus dipaksakan tetap jalan. Apalagi mulai tanggal 21 Mei sudah libur, dan pelabuhan juga sudah mulai sepi,” katanya.
Namun, kalau truk non kontainer terutama angkutan Sembako tetap masih jalan.
Tarigan berharap supaya wabah Corona ini cepat berlalu dari Indonesia. “Kami juga berharap pemerintah tetap konsisten memberi stimulus kepada pengusaha trucking,” katanya. (**)






























