Pebisnis kepelabuhanan Tanjung Emas Semarang sangat mendukung kelancaran lalu lintas kapal dan barang di pelabuhan. “Saat ini bongkar muat di pelabuhan Tanjung Emas normal-normal saja. Lalu lintas sandar kapal dan kegiatan bongkar muat barang pun ga ada masalah,” kata Putut Sutopo, penasihat APBMI Jawa Tengah, didampingi Romulo Simangunsong, ketua APBMI Jateng, disela membahas rencana Rakernas APBMI, di Jakarta Utara, Selasa (13/8).
Dia berharap kondisi kondusif yang tercipta di pelabuhan Tanjung Emas Semarang dapat dipertahankan. Meski, Pelindo dinilai banyak mengambil kegiatan PBM semenjak keluarnya PM 152 yang menyebutkan bahwa BUP boleh mengerjakan bongkar muat sendiri, tetapi di Tanjung Emas, Pelindo cukup mau berbagi dengan PBM, meski hanya sebagai sub dari Pelindo.
Sebagai tokoh kepelabuhanan di Jawa Tengah, Putut mengaku akan mendukung adanya usulan terhadap penggratisan pas pelabuhan bagi truk-truk yang berkegiatan di pelabuhan, khususnya yang membawa petikemas masuk dan keluar pelabuhan. “Di Surabaya kan sudah ada usul dari Organda untuk hal itu, nah itu bagus juga jika di Tanjung Emas pun begitu,” ujarnya.
Seperti diketahui, Organda Tanjung Perak Surabaya menyatakan memastikan akan menghentikan bayar pas masuk di pelabuhan Tanjung Perak sebesar Rp.12 miliar ke Pelindo III per Agustus 2019. Karena dinilai tidak memiliki dasar dan membebani biaya ekonomi.
Ketua Organda Tanjung Perak Kody Lamahayu Fredy kepada Ocean Week membenarkan hal itu. “Kami dengan segenap anggota Organda akan menolak membayar pas masuk pelabuhan. Di pelabuhan Maspion Gratis, Teluk Lamong juga begitu, mestinya truk-truk petikemas yang angkut barang juga dibebaskan dari pas masuk,” ungkapnya di Jakarta.
Cuma, ungkap beberapa PBM di Jakarta, mestinya truk-truk yang berkegiatan di pelabuhan itu diidentifikasi menggunakan elektronik sistem, sehingga jelas. “Kalau di Tanjung Priok, truk-truk itu sudah didaftar oleh terminal, sehingga nggak ada truk liar, jadi truk yang akan mengangkut petikemas yang sudah dibongkar dan dibawa keluar maupun barang yang masuk, sudah diketahui terminal,” kata salah satu PBM di Priok yang tak mau disebut namanya. (***)






























