Kalangan usaha pelayaran masih mempertanyakan terhadap konsep integrated network pelabuhan (INP) Indonesia, atau yang ramai dikenal sebagai penetapan 7 pelabuhan menjadi hubport nasional. Apakah konsep itu sejalan dengan Sislognas (Sistem Logistik Nasionaol) yang sudah ada, atau benar-benar sebagai konsep baru?. Hub Nasional bagi sebuah negara sebagai gateway?.
Hal itu diungkapkan Ketua DPP Indonesia National ShipOwner Association (INSA) Carmelita Hartoto, kepada Ocean Week, Jumat pagi (21/6), di Jakarta, menanggapi rencana pemerintah terhadap penetapan 7 hub port nasional.
Menurut Meme (panggilannya), untuk efficientnya sebaiknya hanya 1 pintu gerbang. “Tetapi mengingat luasnya wilayah Indonesia, mungkin harus beberapa gate. Akan tetapi dimana gate itu dibangun, harus dilihat keekonomian daerah disekitarnya dan memperhatikan demand pasar yang ada. Ibarat membangun pusat belanja. Jangan sampai sudah dibangun pasar modern megah, tapi tidak ada pelaku pasar. Alias pasar menjadi sepi,” ujarnya.
Kedatangan kapal asing untuk direct call, kata Meme, belum menjadi indikasi terjadinya mekanisme pasar. “Berapa lama itu terjadi? Apa kita hanya puas dengan kebanggaan saja? Penetapan 7 hubport tersebut harus melalui kajian yang komprehensive, mendalam dan memperhatikan demand supply pasar yang berlaku. Menurut kami, bangun dulu industrinya, keberadaan komoditinya baru pusat belanjanya,” ucap Meme.
Ketua Kadin Indonesia bidang Perhubungan ini juga menyatakan, konsep integrated network pelabuhan nasional tadi seharusnya akan menjadi effisien karena terjadinya alur logistik mulai dari hinterland sentra industri sampai dengan pelabuhan sebagai gateway. “Jadi memang sangat tergantung dari penetapan yang tepat sebuah hub port,” kata Meme.
Sebagaimana diberitakan Ocean Week sebelumnya, Rencana pemerintah membentuk tujuh pelabuhan hub internasional, menjadi jaringan pelabuhan terpadu, terintegrasi dengan kawasan industri, kembali dibahas dalam rapat koordinasi konsep pengembangan Integrated Port Network di Indonesia, yang digelar di Kantor Kemenko Maritim, pada Kamis (20/6), dipimpin Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Ridwan Djamaluddin.
Sekitar 37 institusi terkait seperti Pelindo I-IV, para direktur di Perhubungan Laut Kemenhub, pihak Bea Cukai, Kepala Otoritas Pelabuhan, INSA, ALFI, dan banyak pelayaran diundang untuk turut berkontribusi pemikiran mengenai masalah tersebut.

Menurut Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Perhubungan Laut Capt. Wisnu Handoko, yang dibahas di Kemenko Maritim mengenai Integrated Port Network (IPN) yang diharapkan dapat memotong biaya logistik, serta mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
“Hanya membahas IPN (integrated port network), diharapkan bisa memangkas cost logistik, dan eningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui 3 langkah, yakni sinergi pelabuhan, efisiensi jaringan pelayaran, dan integrasi pelabuhan dan kawasan industri,” kata Capt. Wisnu Handoo saat dikonfirmasi Ocean Week, Jumat pagi (21/6) per telpon.
Capt. Wisnu menyatakan, bahwa pada kesempatan tersebut tidak dibahas tentang subsidi tol laut. “Kita tidak bahas subsidi tol laut. Jadi fokus bahas IPN,” ujarnya lagi.
Sementara itu Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies Denni Friawan, pernah menyatakan bahwa wacana pemerintah membentuk tujuh pelabuhan hub itu mendapat apresiasi berbagai kalangan. Sebab hal itu diprediksi mampu mendongkrak ekspor dan biaya logistik semakin kompetitif.
“Kalau menurut saya, itu rencana yang bagus. Bisa menekan cost logistik. Sehingga, kita gampang masuk ke suply chain di Asia,” ujarnya.
Menurut Denni, saat ini memang dibutuhkan logistik yang cepat. Dengan adanya pelabuhan hub internasional, produk komoditas bisa langsung diekspor ke negara tujuan, tanpa harus singgah di pelabuhan hub yang ada di luar negeri.
“Jadi adanya hub itu akan bisa langsung memperlancar ekspor. Produk yang ada di kawasan industri juga menjadi lebih kompetitif,” katanya.

Di tempat lain, Pengamat Maritim Saut Gurning mengungkapkan, saat ini yang harus diperhatikan adalah kinerja pelabuhan. “Pemerintah harus memperhatikan pelabuhan. Mereka punya sumber kargo. Begitu juga akses dari dan ke pelabuhan juga penting. Saat ini yang jadi masalah adalah kemacetan,” ujarnya.
Kata Saut Gurning, waktu bongkar muat juga harus menjadi perhatian. Kapal tidak boleh lama bersandar. “Juga platform bisnisnya. Kalau kita mau kalahkan Singapura, logistik platform, layanan cepat, aman, dan sebagainya. Di samping juga memperkuat pelabuhan feeder,” ungkapnya.
Ketujuh pelabuhan hub internasional sebagai jaringan pelabuhan terpadu, terintegrasi dengan kawasan industry tersebut, yakni Kuala Tanjung/ Belawan, Kijing, Bitung, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar, dan Sorong. (***)






























