PT Pelindo II mulai menyiapkan diri untuk menjadi trade fasilitator di tahun 2020 nanti.
Bukan hanya itu, BUMN ini juga berobsesi menjadikankan pelabuhan yang dikelolanya sebagai world class.
“Ada 3 hal agar Indonesia jadi negara maritim yakni melalui trilogy maritim, seperti integrated port, network port. Jadi harus ada standarisasi pelabuhan, didukung kawasan industri besar, dan didukung shipping Line (Aliansi),” kata Dirut IPC, Elvyn G Masassya, dalam acara Media Gathering, di Museum Maritim, pelabuhan Tanjung Priok, Senin (18/3).
Menurut Elvyn, saat ini IPC sudah memasuki digital port. “Sistem yang dijalankan Pelindo sudah berbasis elektronik. Misalnya, untuk sistem yang di laut, sudah menerapkan marine operation system (MOS), lalu VTS, dan VMS.
“Untuk terminal sudah melaksanakan elektronik sistem, seperti Terminal Operating System (TOS), Auto talky, dan NPK-TOS,” kata Elvyn.
Elvyn juga menceritakan jika arus petikemas yang ditangani perseroan mencapai 7,64 juta TEUs tahun 2018, naik dibandingkan 2017 yang tercatat 6,92 juta TEUs. “Tahun 2019 targetnya bisa 8 juta TEUs,” ungkapnya.
Sementara itu, untuk non petikemas tercatat 61,97 juta ton (2018), meningkat dibandingkan 2017 yang mencapai 57,09 juta ton
Data juga mencatat, Pelindo II berhasil meraih laba Rp 2,43 triliun di tahun 2018, naik dibandingkan 2017 yang tercatat Rp22,21 triliun. Ebitda Rp 4,17 triliun (2018), dan 2017 tercatat Rp 4,03 triliun.
“Tahun ini, target revenue bisa tumbuh 18%. Laba tumbuh 7,41% yakni Rp 2,61 triliun, ebitda tumbuh 24,2 % jadi Rp 5,18 triliun,” kata Elvyn.
Menjawab mengenai petikemas transhipment, tahun 2019 diharapkan tercapai 1,8 juta TEUs, dari tahun sebelumnya yang tercatat 1,2 juta TEUs.
“Nanti pada semester 2 tahun 2019, fasilitas ex terminal JICT 2 akan dioperasikan untuk transhipment domestik,” ungkapnya. (***)






























