Rencana dioperasikannya kembali dermaga JICT 2 pelabuhan Tanjung Priok mendapat ragam penilaian dari para pelaku usaha kepelabuhanan.
Salah satu pelaku usaha di Tanjung Priok, Ogi Haris dari PT Adipurusa mempertayakan, apakah nantinya JICT 2 itu untuk kegiatan domestik atau internasional?. “Kalau untuk domestik, ya menjadi semakin pengkutuban pelayaran kontainer, semakin habis pelayaran domestik nasional, mengarah kepada oligopoli, dikuasai oleh beberapa stakeholder saja,” katanya kepada Ocean Week, Senin (11/3) pagi khawatir.
Menurut pengurus APBMI DKI Jakarta itu, dengan beroperasinya JICT 2 nanti bisa semakin menambah seru persaingan usaha terminal yang ada di pelabuhan Tanjung Priok. “Dengan persaingan sempurna semacam ini akan terseleksi secara alami, terminal-terminal mana yang siap dan punya strategi khusus untuk tetap survive. Tidak perlu dikhawatirkan dengan kehilangan throughput,” ungkapnya.
Ogi juga menyatakan, target throughput Pelindo Tanjung Priok sekarang menuju ke 8 juta TEUs ( total ) atau 4 juta TEUs (domestik), tidak ada yang berkurang dari throughput sekarang yang diterima PBM, artinya kapasitas terminal kontainer domestik sekarang memang dimungkinkan untuk ditambah.
“Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana pelabuhan mengatur kemacetan truk yang akan keluar masuk untuk melakukan proses receiving-delivery,” ujarnya lagi.
Masih kata dia, yang terpenting lagi, kalau Pelindo yang nantinya mengoperasikan sebaiknya jangan dibawah tarif single billing sebagaimana yang berlaku saat ini. “Yang penting perlakuan jasa-jasa yang lain terhadap customer harus sama,” ucapnya.
Kata Ogi, PBM kontainer siap menyambut dan bersaing dalam hal pelayanan terbaik kepada pelanggan dan selalu siap untuk bermitra dengan Pelindo.
Asal Tak High Cost
Sementara itu, Sekretaris Umum ALFI DKI Jakarta Adil Karim mengungkapkan, Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta menyambut baik rencana dioperasikannya kembali JICT 2 yang sudah bertahun-tahun tak berfungsi.

“Saya dengar untuk terminal transshipment kontainer domestik. Sepanjang tidak menimbulkan biaya tinggi, kami mendukungnya,” kata Adil saat dihubungi Ocean Week, pagi ini.
Adil berharap agar biaya-biaya yang muncul sebagai konsekuensi pergerakan peti kemas dari lokasi bongkar domestik ke pelabuhan tujuan ekspor, supaya dihitung dengan cermat. “Kalau bisa nol biaya sebagaimana di pelabuhan Singapura gratis,” ujarnya.
Jadi, ungkapnya, pergerakan petikemas dari dermaga eks JITC 2 ke terminal internasional, baik itu JICT, TPK Koja, Pelabuhan Tanjung Priok 3, New Priok Container Terminal 1 (NPCT1), maupun Mustika Alam Lestari (MAL) tak lagi ada biaya.
Adil mencontohkan, pergerakan truk kontainer dari terminal domestik membutuhkan dokumen pabean untuk masuk ke dalam pelabuhan internasional. Di dalamnya, ada biaya yang harus ditanggung pemilik barang. “Bagi kami yang pasti jangan ada penambahan cost jika pelabuhan tersebut diefektifkan kembali karena lay out-nya setahu saya [kontainer] keluar dulu dari Pelabuhan Eks JICT 2,” katanya.
Seperti diketahui, bahwa JICT 2 sejak 2012 lalu, tidak digunakan lagi untuk aktivitas komersial. Dermaga hanya dipakai untuk sandar kapal-kapal tamu TNI Angkatan Laut dan kapal angkut sapi.
Sewaktu RJ Lino menjabat Dirut Pelindo II, pernah ingin menghidupkan lagi aktivitas petikemas di terminal ini, tetapi belum kesampaian keburu dicopot dari kepemimpinannya di Pelindo II.
Nantinya, Terminal JICT 2 itu dapat digunakan untuk sandar kapal domestik dengan muatan ekspor. “Muatan itu diturunkan, kemudian dipindahkan ke terminal internasional. Sebaliknya, bisa pula dari terminal internasional, kargo impor dipindahkan ke JICT 2, lalu diangkut oleh kapal domestik ke pelabuhan lain di dalam negeri,” ungkap Adil Karim. (***)






























