Sebagai negara kepulauan yang konsen pada pengembangan sektor kemaritiman, Indonesia memiliki potensi besar untuk menggarap usaha wisata Bahari melalui kapal-kapal wisata besar berteknologi canggih dan mumpuni.
Tak hanya untuk destinasi Domestik, peluang itu juga terbuka lebar untuk destinasi mancanegara, sebagaimana yang dilakukan oleh Malaysia, khususnya wisata religi seperti Umroh maupun Haji.
Apalagi, Indonesia mayoritas (lebih dari 90%) berpenduduk muslim. Umroh adalah salah satu ibadah dan wisata religi ke Kota Makkah & Madinah yang sangat diminati oleh umat Islam.
Berdasarkan data dari Kementerian Agama RI, jumlah Umat Islam Indonesia yang melaksanakan Umroh rata-rata dalam beberapa tahun terakhir mencapai 1,8 juta orang pertahun. Menempati urutan ke-2 setelah Pakistan.
Nah, potensi dan peluang besar usaha wisata Bahari dan wisata religi di Indonesia itu diakui oleh salah seorang anggota ASTINDO (Asosiasi Travel Agent Indonesia), M. Izam.
Menurut Izam, potensi dan peluang besar di sektor wisata Bahari dan religi itu bisa ditangkap oleh Perusahaan pelayaran yang ingin melirik usaha di sektor ini.

Bisa saja dilaksanakan oleh Perusahaan pelayaran besar yang notabene BUMN yang selama ini sudah melayani angkutan penumpang, seperti Pelni (Pelayaran Nasional Indonesia) atau PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).
“Tentu saja dengan beberapa hal yang harus jadi perhatian,” ujar Izam, kepada wartawan, kemarin.
Izam juga mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menuju ke sana. Misalnya, kesiapan kapalnya, lalu menjalin kerjasama dengan para pelaku usaha travel, khususnya biro perjalanan Umroh. “Perlu duduk bersama dengan beberapa stakeholder untuk melakukan kajian, sejauh mana potensinya,” ungkapnya.
Izam menjelaskan, untuk wisata religi Umroh yang diperkirakan memakan waktu perjalanan sekurangnya 15 hari dari Indonesia ke Saudi Arabia (Mekah dan Madinah) diperlukan sebuah kapal yang lengkap dengan kebutuhan wisata, seperti kolam renang, tempat belanja, sarana ibadah yang memadai dan lainnya sehingga peserta dibuat nyaman selama perjalanan.
“Bila perlu, nanti bisa transit ke India atau lanjut naik ke Cordoba,” Kata Izam meyakinkan.
Sementara, tambah Izam, untuk potensi wisata Bahari domestik, ada banyak destinasi, seperti Bali, Labuan Bajo dan Raja Ampat serta beberapa destinasi lainnya di wilayah Indonesia yang sangat luas.
Secara terpisah, Ketua Umum DPP Indonesia National Shipowners Association (INSA) Carmelita Hartoto, menyampaikan kalau di Indonesia juga sudah ada rencana berhaji dengan kapal, meskipun itu masih sebatas wacana. “Mungkin sedang dikaji oleh pemerintah. Kalau ada perusahaan yang mau mengembangkan usaha kesana, ya fine-fine saja. Tapi harus mempunyai kajian yang komprehensive, dari berbagai aspek. Karena ini kan membuka rute baru,” ujarnya.
Terkait dengan wisata domestik, Carmelita Hartoto mengungkapkan bahwa hal itu sudah dijalankan didaerah-daerah wisata bahari seperti Raja Ampat dan Labuhan Bajo serta Indonesia timur lainnya.
“Sudah banyak kapal-kapal wisata kecil yang melayani disana. Peluang tujuan wisata bahari kan sudah lama kita gaungkan. Sudah ada sekitar 670 kapal wisata berbendera Indonesia yang terdiri dari Phinisi, Speed Boat, Yacht. Dan ada sekitar 500 kapal dari 670 kapal adalah kapal Live on Board,” kata Carmelita.
Perihal kapal-kapal asing (cruise) yang selama ini mendominasi, Carmelita menilai bahwa kapal asing (cruise) yang masuk Indonesia itu untuk melayani kebutuhan wisatawan asing yang melayari berbagai tujuan negara dan singgah di Indonesia.
“Bukan untuk wisatawan Indonesia. Kalau ada wisatawan Indonesia disana, mereka kebanyakan hanya menikmati perjalanan dan fasilitas cruise tersebut. Mereka boarding dan unboarding di Luar Negeri,” ujarnya.
Carmelita menyarankan agar pihak yang ingin menggarap pasar ini, harus mengkaji secara komprehensive. “Perlu pula mempertimbangkan faktor keselamatan, kenyamanan, karena mengangkut manusia,” katanya. (**/adv)






























