Ketua DPC INSA Pangkal Pinang, Eko Supriyadi menyatakan jika penggunaan sistem portable drop tank yang dilengkapi pompa submersible untuk menangani kargo curah cair dinilainya bagus, lebih cepat, dan port stay kapal menjadi lebih singkat.
“Kami pelayaran lebih cepat untuk port stay nya, karena bongkar muat barangnya juga jadi lebih cepat. Menurut kami bagus sistem itu,” katanya saat dihubungi Ocean Week, pagi ini.
Hanya saja, Eko mengaku prihatin dengan kondisi alur pelayaran yang semakin dangkal, namun tak ada yang memikirkannya. “Untuk pendangkalan alur belum ada yang mikirin,” ucapnya singkat.

Seperti diketahui bahwa PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Non petikemas) terus berinovasi untuk meningkatkan kinerja operasionalnya, terutama pada kargo curah cair.
Salah satunya melalui penggunaan sistem portable drop tank yang dilengkapi pompa submersible untuk menangani kargo curah cair, khususnya CPO (Crude Palm Oil) di PTP Non Petikemas Cabang Pangkal Balam.
Sebelum adanya inovasi ini, transit antara proses bongkar dari truk dan muat ke tongkang menggunakan pola operasi eksisting (truck losing) sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama.
Setelah diimplementasikannya pompa submersible dan drop tank, truck losing diubah menjadi drop tank process yang memperbolehkan 4 truck untuk bongkar muat sekaligus sehingga kargo curah cair yang telah dibongkar dapat dipompa ke tongkang melalui pompa listrik.
Dengan demikian, pola operasi menjadi lebih efektif dan menurunkan port stay serta labor wage.
Perubahan penggunaan fasilitas bongkar muat ini merupakan respons perusahaan terhadap berbagai tantangan operasional untuk mempercepat durasi layanan berthing.
Selain itu, inovasi juga memberikan dampak positif pada aspek HSSE (Health, Safety, Security, & Environment). Dengan bersifat ramah lingkungan, inovasi dapat mencegah terjadinya pencemaran air, udara, dan perairan.
Dwi Rahmad Toto S, Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PTP Non petikemas, menjelaskan bahwa Inovasi terbaru di Pelabuhan Pangkal Balam telah berhasil mengurangi biaya operasional dan meningkatkan kinerja operasional.
“Penggunaan portable drop tank dengan pompa submersible ini berfungsi sebagai media transit untuk proses bongkar dari truk dan pemuatan ke tongkang dengan cara yang lebih efektif dan efisien,” ujar Toto dalam keterangan nya yang diterima Ocean Week, Rabu pagi.
Sementara itu, Branch Manager PTP Non petikemas Cabang Pangkal Balam, Alamsyah menambahkan dengan sistem baru ini, tercatat adanya penurunan biaya operasional dan perawatan dari Rp4.000,- per ton menjadi Rp2.800,- per ton.
Sistem ini juga memungkinkan pemompaan kargo yang lebih efisien melalui pipa, dengan pompa berkapasitas 200 ton per jam dan selang berdiameter 6 inci, yang mempersingkat waktu bongkar muat.
“Sebelumnya, kapasitas pompa hanya 40 ton per jam dengan selang 4 inci. Selain itu, sistem truck losing juga mempercepat waktu bongkar muat, dengan kemampuan melayani empat truk bongkar dalam satu kali kegiatan,” ungkap Alamsyah.
Seiring dengan perluasan lahan sawit di Hinterland Pelabuhan Pangkal Balam yang terus meningkat setiap tahunnya, implementasi inovasi ini membawa perubahan signifikan dalam proses bisnis.
Sebelumnya, tidak ada sistem memantau progres bongkar muat secara Real Time. Dengan adanya sistem ini, progres kegiatan dapat dipantau secara lebih akurat sehingga dapat diupayakan peningkatan kinerja dari waktu ke waktu, dan terintegrasi dengan PTOSM (Pelindo Terminal Operating System Multipurpose).
Selain itu, sejak implementasi sistem Pompa Submersible dan Drop Tank pada semester kedua 2024, kinerja operasional Pelabuhan Pangkal Balam tercatat meningkat signifikan.
Hal ini terlihat dari peningkatan Ton/Gang/Hour (TGH) yang mencapai 114,05 pada tahun 2024, dibandingkan dengan 46,49 pada tahun 2023.
Efisiensi juga tercermin dari penurunan rasio biaya operasional (BOPO) yang tercatat sebesar 68,69% pada Januari 2025, lebih rendah dibandingkan dengan 75,74% pada Januari 2024.
PTP Non petikemas berkomitmen untuk meningkatkan produktivitas bongkar muat melalui berbagai inovasi yang berkelanjutan.
Sebagai terminal non petikemas terkemuka di Indonesia, PTP Non petikemas terus mendukung kelancaran arus logistik dengan menyediakan fasilitas dan layanan berkualitas.
Selain itu, PTP Nonpetikemas juga berfokus pada aspek HSSE (Health, Safety, Security, & Environment) untuk memastikan setiap inovasi yang diterapkan selalu memperhatikan kelestarian lingkungan.
PTP Non petikemas Cabang Pangkal Balam melayani beragam komoditas dari sektor pertanian, perkebunan, dan industri, termasuk pupuk, semen, bahan bangunan, karet, bungkil, cangkang, dan petikemas.
Pelabuhan Pangkal Balam mengoperasikan terminal multipurpose dengan beberapa dermaga, yaitu Dermaga Beton, Dermaga Sheet Pile 1 dan 2, Dermaga Perahu Layar, serta Dermaga Ketapang I. (***)






























