Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar, Batam, sedang bertransformasi menjadi hub logistik internasional dengan investasi mencapai Rp 1,403 triliun untuk peningkatan kapasitas dan teknologi.
Kolaborasi strategis antara PT Persero Batam, BP Batam, dan PT Batu Ampar Container Terminal (BACT) fokus pada percepatan bongkar muat dan digitalisasi.
PT Batu Ampar Container Terminal (BACT) resmi mengoperasikan terminal ini selama 30 tahun, menjalin kemitraan dengan PT Batam Terminal Petikemas (BTP) untuk modernisasi.
Ketua INSA Batam Saptana mengiyakan kalau saat ini dermaga Utara Batu Ampar khususnya terminal petikemas sedang dalam proses transformasi menjadi pelabuhan modern dengan penerapan Single Port Operator.
Diharapkan dengan menjadi pelabuhan modern, bisa meningkatkan efisiensi logistik dan daya saing Batam di tingkat nasional maupun internasional.
Sayangnya, ungkap Saptana, kedalaman kolam dan alur kurang memadai untuk kapal-kapal besar singgah di dermaga tersebut.
“Kami berharap agar proses pedalaman alur dan pelabuhan dipercepat sehingga pelayanan dapat lebih optimal,” katanya, per telpon, Sabtu.
Selain itu, Saptana juga meminta supaya kedepan, semua pelabuhan dibawah BP Batam diterapkan pas pelabuhan secara umum. “Pas pelabuhan ini bukan sekadar biaya masuk, melainkan instrumen untuk mendukung ekosistem logistik di Batam.
Juga dapat meningkatkan keamanan dan ketertiban di pelabuhan,” katanya lagi.
Dia menyebutkan bahwa Pas pelabuhan berfungsi sebagai sistem kontrol akses untuk mengidentifikasi kendaraan, memastikan hanya kendaraan yang berkepentingan yang masuk ke area terbatas (ISPS Code). “Tapi juga bisa menjamin keamanan barang, menjamin lingkungan pelabuhan tetap steril dari pihak luar yang tidak berwenang, guna meminimalkan risiko pencurian atau gangguan operasional,” tegasnya.
Ke depannya, ujar Saptana, INSA juga berharap agar perluasan kapasitas pelabuhan tahap 2 dapat terlaksana dengan cepat, seperti pendalaman kolam dermaga dan perluasan dermaga petikemas seluas 20 hektar di Pelabuhan Batu Ampar Utara.
Menjawab mengenai masalah adanya dugaan korupsi dalam pusaran dermaga tersebut, Saptana menyampaikan bahwa terkait dengan kasus korupsi di pelabuhan yang dimaksud adalah pendalaman dermaga utara batu ampar sudah berproses persidangan Tipikor di pengadilan tinggi Tanjung Pinang.
“Namun, untuk kegiatan kontainer di terminal petikemas batu ampar tetap berjalan dengan baik,” katanya.
Saptana menambahkan bahwa Batu Ampar saat ini menangani sekitar 84% arus peti kemas Batam, dengan volume 797.099 TEUs di tahun 2025.
“Ini menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan seiring meningkatnya aktivitas industri dan perdagangan global, ditambah dengan telah dibukanya layanan direct call ke 6 negara tujuan yaitu China, Vietnam, India, Myanmar, Thailand, dan Malaysia,” jelasnya.
Saptana mengungkapkan dengan adanya kemitraan antara BTP dan BATC, dia berharap dapat mempercepat proses modernisasi pelabuhan Batu Ampar. (***)





























