Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyas Wendra membantah adanya kelambanan bongkar muat petikemas di terminal kontainer yang dikelolanya (Berlian & Nilam).
“Tidak ada keterlambatan sama sekali untuk terminal petikemas, yang terjadi adalah adanya keterlambatan bongkar muat curah kering (pupuk) karena faktor ekstrem cuaca tempo hari dan bukan di terminal petikemas kami,” ungkap Wendra (panggilannya) saat dikonfirmasi Ocean Week, Minggu pagi.
Bahkan Wendra memberi data dari TOS kinerja TPK Nilam sampai 31 Januari 2026 sebagai berikut, call kapal : 67
total box : 38.431, total TEUs : 43.948
Avg BT : 15,37, Avg BCH ET : 26,21 (RKAP 25,00), Avg BSH BT : 37,80 (RKAP 34,00).
Sedangkan untuk TPK Berlian adalah call kapal : 181, total box : 82.016, total TEUs : 92.329, Avg BT : 28,08, Avg BCH ET : 16,52, Avg BSH BT : 18,09.
“Sekali lagi untuk di terminal petikemas tak ada keterlambatan. Kalau bongkar muat curah kering memang ada keterlambatan dan itu bukan di TPK kami,” tegas Wendra.
Seperti diketahui bahwa sebelumnya Pengusaha pelayaran mengeluhkan bongkar muat kapal di sejumlah pelabuhan terlambat. Dan itu berdampak pada mahalnya biaya logistik yang mesti ditanggung.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur Sebastian Wibisono dan Ketua DPC Indonesian National Shipowners Association (INSA) Surabaya Steven Lesawengen menyampaikan bahwa di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya proses kapal sandar dan bongkar muat mengalami keterlambatan.
Kapal harus menunggu 5-6 hari untuk dapat bersandar di pelabuhan dan melakukan bongkar muat barang.
Mereka menduga kelambatan layanan bongkar muat di pelabuhan diakibatkan peralatan yang dan sering rusak sehingga produktivitasnya rendah.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur Sebastian Wibisono mengatakan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya proses kapal sandar dan bongkar muat mengalami keterlambatan.
“Biasanya proses bongkar muat cuma butuh 3 hari, sekarang bisa sampai 6 hari. Alat bongkar muat yang tak kunjung dilakukan peremajaan di Terminal Peti Kemas (TPK) Nilam dan TPK Mirah di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya jadi biang kerok keterlambatan tersebut,” ujar Sebastian.
Sebastian menuturkan agar PT Pelindo segera melakukan peremajaan alat bongkar muat di berbagai terminal karena beberapa alat sudah tua sehingga proses bongkar muat menjadi lebih lama.
Idealnya jumlah Container Processing Area (CPA) per jam 30-40 kontainer, sekarang hanya mampu menangani 10 kontainer.
Akibat molornya proses bongkar muat, pengiriman barang juga terkendala. Hal ini menimbulkan terjadinya kelangkaan kontainer atau shortage di beberapa pelabuhan.
Sementara perusahaan-perusahaan forwarder yang sudah memiliki jadwal pengiriman barang yang sudah pasti, menjadi terlambat pengangkutannya.
Biasanya rata-rata setiap hari pihaknya bisa mendapatkan 20-40 kontainer, sekarang hanya dapat 10 kontainer. Dengan 40 kontainer pihaknya dapat mengirimkan sebanyak 1.000 ton per hari. Kini, dengan hanya dapat 10 kontainer, maka hanya 250 ton yang bisa segera terkirim.
“Saya mengirim bahan baku pupuk ke Sampit, sejak Desember sudah sulit dapatkan kontainer kosong. Pengiriman baru bisa dilakukan Januari 2026, itupun hanya sebagian,” ungkap Sebastian.
Sementara itu, Steven Lesawengen mengatakan keterlambatan penanganan bongkar muat kapal juga terjadi di TPK Berlian, Tanjung Perak Surabaya.
“Keterlambatan penanganan bongkar muat kapal di TPK Berlian Pelabuhan Tanjung Perak karena alat belum siap,” kata Steven.
Atas kelambatan tersebut, ALFI maupun INSA, sudah mengadukan ke tiga pelabuhan yakni Merauke, Belawan dan Surabaya. (***)





























