PT. Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) Tbk menandatangani Kesepakatan Bersama atau Memorandum of Understanding (MoU) tentang Kerjasama Pengoperasian Car Terminal di Pelabuhan Makassar dan Pelabuhan Samarinda dengan PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero), pada hari Jumat (13/7), bertempat di Makasar.

MoU tersebut ditandatangani oleh Direktur Utama PT. Indonesia Kendaraan Terminal, Tbk/ IPCC Chiefy Adi K dan Direktur Fasilitas dan Peralatan PT Pelindo IV (Persero) Farid Padang.

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero), Doso Agung, bersama Direktur Operasi dan Komersial Riman S. Duyo dan Direktur SDM dan Umum M. Asyahari serta Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis Arif Isnawan, ikut menyaksikan teken MoU itu.

Chiefy Adi K, menyatakan kerja sama bisnis ini dilatarbelakangi harapan ke dua belah pihak untuk merealisasikan potensi bisnis penyediaan jasa pengelolaan terminal kendaraan yang bertaraf internasional, khususnya penanganan bongkar muat kendaraan, alat berat, sparepart di Indonesia Timur yang wilayah operasinya 50% dari wilayah Indonesia untuk memperlancar distribusi nasional dan efektivitas biaya logistik nasional.

“Semangat kerjasama ini adalah mutual trust, mutual understanding, mutual respect dan mutual benefit dengan semua pihak,” kata Chiefy dalam keterangan resminya, yang diterima Ocean Week, siang ini.

Sementara itu, direktur Pelindo IV Farid Padang mengungkapkan, kerjasama pertama ini dimulai dari Makasar dan Samarinda.

Pelabuhan Makasar dan Pelabuhan Samarinda sebagai lokasi yang sangat strategis terletak dalam jalur pelayaran internasional dengan salah satu rute tersibuk di wilayah Indonesia Timur dan telah dikembangkan selama ini sebagai kawasan industri, transhipment dan daerah pariwisata, yang mana kebutuhan konsumsi otomotif dan alat-alat berat dipastikan melalui Pelabuhan Makassar dan Samarinda ini.

Untuk itu penyediaan Terminal khusus kendaraan akan menjadi keharusan dalam menunjang kelancaran pelayanan kepelabuhan secara umum. Lebih jauh lagi pasar pendistribusian alat berat di wilayah Indonesia cukup besar karena keberadaan dan perkembangan industri pertambangan dan pembangunan infrasturktur program pemerintah RI.

Pada kesempatan yang sama Direktur Utama Pelindo IV (Persero) Dodi Agung menyampaikan prospek bisnis terminal kendaraan cukup cerah dikarenakan wilayah Pelindo IV meliputi lebih dari 50% wilayah Indonesia yang mengoperasikan 24 cabang pelabuhan. Potensi bongkar muat alat berat di wilayah Sulawesi dan kalimantan juga cukup tinggi dikarenakan sedang berkembangnya industri tambang dan industri lainnya.

Doso Agung juga mengharapkan dalam waktu dejat dapat menghadirkan Direct Shipment untuk impor kendaraan dan alat berat sehingga dapat menekan harga jual di kawasan Indonesia Timur.

Chiefy Adi K menambahkan, dalam kerjasama dengan Pelindo IV (Persero) ini, PT Indonesia Kendaraan Terminal, Tbk/IPCC memberikan jaminan dalam pengoperasian Car Terminal di Pelabuhan Makassar dan Pelabuhan Samarinda, karena bisnis yang di jalankan IPCC tidak hanya menyediakan jasa terminal untuk mobil, tapi juga untuk alat berat, truk, bus, dan suku cadang.

Jaminan lain adalah IPCC memiliki beberapa keunggulan, di antaranya satu-satunya perusahaan pengelola terminal komersial yang memberikan jasa pelayanan terminal kendaraan di negara terpadat ke-4 di dunia, memiliki 100% captive market untuk ekspor-impor kendaraan, dan margin bisnis menarik, sehingga kerjasama ini diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak yang pada akhirnya memberikan manfaat yang besar bagi Bangsa dan Masyarakat Indonesia.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Elvyn G. Masassya juga menyambut baik kerjasama ini diharapkan dengan sinergi antar BUMN dan anak perusahaan ini dapat memberikan kontribusi nyata untuk Bangsa Indonesia dalam mendukung industri otomotif nasional dengan bentuk pelayanan bongkar muat yang efisien dengan standar internasional sehingga dapat menurunkan biaya logistik. Lebih lanjut Direktur Pengelolaan Anak Perusahaan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Riri S. Jetta MoU ini harus segera ditindaklanjuti dengan realisasi kerjasama secepat mungkin dalam pengoperasian yang nantinya bisa mewujudkan Terminal Kendaraan Indonesia Incorporated di wilayah Indonesia yang berstandar internasional dan terintegrasi.

IKT Layani Jasa Alat Berat

PT Indonesia Kendaraan Terminal, Tbk atau IPCC merupakan anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC). IPCC memberikan jasa pelayanan terminal kendaraan. Jasa pelayanan meliputi Stevedoring, Cargodoring, Receiving, dan Delivery.

IPCC juga melayani pelayanan jasa lainnya, yaitu Vehicle Processing Center (VPC), Equipment Processing Center (EPC), Port Stock dan Transhipment Roro Services.

IPCC tidak hanya menyediakan jasa terminal untuk mobil, tapi juga untuk alat berat, truk, bus, dan suku cadang.

IPCC memiliki beberapa keunggulan, di antaranya satu-satunya perusahaan pengelola terminal komersial yang memberikan jasa pelayanan terminal kendaraan di negara terpadat ke-4 di dunia, memiliki 100% captive market untuk ekspor-impor kendaraan, dan margin bisnis menarik.

IPCC mengelola lahan seluas 31 hektar dengan kapasitas 700.000 unit kendaraan per tahun. Sesuai rencana, pada 2022, IPCC menargetkan lahan seluas 89,5 hektar dengan kapasitas 2,1 juta kendaraan. Dengan demikian, IPCC diproyeksikan menjadi pengelola terminal mobil terbesar ke-5 di dunia.

Dari segi kinerja keuangan IPCC juga menunjukkan hal yang menggembirakan. Pada 2017, misalnya, IPCC membukukan pendapatan Rp. 422,1 miliar, naik 34,3% dibandingkan 2016 sebesar Rp. 314,3 miliar. EBITDA IPCC bertambah 31,5% menjadi Rp. 175,4 miliar dari Rp. 133,4 miliar. Laba kotor naik 26,8% menjadi Rp. 208,6 miliar dari Rp. 164,5 miliar, dan laba bersih IPCC tumbuh 32,2% dari Rp. 98,4 miliar menjadi Rp. 130,1 miliar pada 2017.

Sementara total aset IPCC per Desember 2017 mencapai Rp. 336,3 miliar, naik 26,95% dibandingkan 2016 sebesar Rp. 264,9 miliar. Liabilitas IPCC naik 25% menjadi Rp. 99,2 miliar dari Rp. 79,3 miliar, dan ekuitas tumbuh 27,7% menjadi Rp. 237 miliar dari Rp. 185,6 miliar dan current ratio sebesar 3,3 kali, naik dari 2,4 kali. “Dalam tiga tahun terakhir rata-rata ROA IPCC mencapai 35,4%, margin EBITDA 40,4%, ROE 50,6%, dan ekuitas terhadap aset rata-rata 69,8%,” pungkasnya. (***)