Direktur Pembinaan Anak Perusahaan Pelindo II Riri Syeried Jetta menegaskan bahwa masuknya anak perusahaan PT Pelindo II (PT JAI dan PT IKT) ke bursa efek diharapkan manajemen pengelolaannya bisa lebih profesional, transparan dan akuntabel.

“Intinya bagi IPC (Pelindo II) bukan sekedar untuk mencari dana untuk expansi di anak perusahaan itu, karena Pelindo juga bisa membiayai anak perusahaannya, namun pada aspek pengelolaan agar lebih transparan dan akuntabel,” kata Riri menjawab Ocean Week, Selasa siang (3/7) di Jakarta mengenai melantainya dua anak perusahaan Pelindo II itu.

Menurut Riri, dengan menjadi perusahaan Tbk diharapkan manajemen anak perusahaan bisa mengelola secara lebih profesional, transparan dan akuntabel sehingga menjadikan anak perusahaan memiliki sustainability growth yang lebih baik.

Seperti diketahui bahwa anak perusahaan Pelindo II pertama yang sudah tercatat di bursa efek adalah PT Jasa Armada Indonesia (JAI), menyusul PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT).

PT JAI sendiri sudah melakukan perdagangan sahamnya sejak tahun lalu, dan hasilnya positif.

Pada tanggal 9 Juli 2018 nanti, giliran PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (berkode IPCC) juga akan melakukan pencatatan perdana sahamnya di bursa efek.’

Perseroan resmi menetapkan harga Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offering/IPO) sebesar Rp 1.640 per lembar saham. Saham yang ditawarkan mencapai 509.147.700 lembar saham dengan free float 28% dari jumlah saham.

Dengan nilai kapitalisasi saham sebesar Rp2,98 trilyun, IPCC akan menerima sebesar Rp 835 milyar.

Sebelumnya, Chiefy Adi Kusmargono, Direktur Utama IKT mengatakan, sebesar 50% dana IPO akan digunakan untuk belanja modal. Sebesar 25% untuk pembayaran kontrak sewa lahan jangka panjang di Jakarta Utara. “Sisanya 25% untuk modal kerja,” kata Chiefy dalam keterangannya kepada pers, di Jakarta.

Chiefy mengaku optimistis terhadap IPO IPCC seiring hasil roadshow yang dilakukan sejak tanggal 23 Mei hingga 22 Juni 2018. Untuk investor dalam negeri, roadshow antara lain dilaksanakan di Jakarta. Sementara itu, untuk investor internasional perseroan melakukan roadshow ke beberapa negara di Asia dan Eropa.

Tidak kurang dari 60 investor institusi telah ditemui oleh manajemen perseroan selama periode roadshow baik investor dalam negeri maupun luar negeri seperti di Singapura, Malaysia, Thailand, Hongkong, Korea Selatan dan Inggris.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah menerbitkan pernyataan efektif untuk IPCC pada tanggal 28 Juni 2018 lalu. Sementara itu, masa penawaran IPCC akan dilakukan pada tanggal 2-3 Juli 2018. IPC Car Terminal juga menunjuk dua perusahaan sebagai penjamin pelaksana emisi efek yaitu PT Bahana Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas. Adapun RHB bertindak sebagai Agen Penjual Internasional.

Chiefy menambahkan, pada 2017, IKT (IPCC) membukukan pendapatan sebesar Rp422,1 milyar, meningkat dibandingkan 2016 yang sebesar Rp314,3 milyar. EBITDA naik menjadi Rp175,4 miliar dari Rp133,4 milyar. Laba kotor naik menjadi Rp208,6 milyar dari Rp164,5 milyar, dan laba bersih melonjak menjadi Rp130,1 milyar dari Rp98,4 milyar. (***)