Jika tidak segera dilakukan pengerukan, pelabuhan Pangkalbalam di Bangka-Belitung bakal tidak bisa disandari kapal. Perlu ada alternatif pelabuhan menghadapi persoalan pelabuhan Pangkalbalam yang pendangkalannya cukup tinggi. Pengembangan dinilai tidak perlu difokuskan di Pangkalbalam, tetapi bisa ke Sungailiat, Toboali, Belinyu, dan Sungaiselan.

KSOP Pangkalbalam Izuar menyatakan hal itu kepada wartawan usai pertemuan antara Bappeda provinsi Bangka Belitung (Babel) dengan pihak Pelindo II Cabang Babel, kemarin. “Sendimentasi di alur pelayaran menuju Pelabuhan Pangkalbalam membuat lamanya proses keluar masuk kapal ke pelabuhan. Mesti menunggu waktu air pasang. Dari 24 jam, kapal hanya punya waktu tujuh jam untuk beraktivitas di pelabuhan,” ujarnya.

Menurut Izuar, pihaknya sudah mengusulkan untuk dilakukan pengerukan alur. Karena jika tidak, kapal tidak bisa masuk pelabuhan pada tahun depan karena pendangkalan.

Namun, efektivitas pengerukan juga perlu dipertimbangkan.‎ Mengingat, biaya diperkirakan mencapai lebih dari Rp 100 miliar untuk alur sepanjang dua mil.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitan dan Pengembangan (Bapppeda) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Fery‎ Insani, menanyakan adanya keluhan mengenai mahalnya ongkos angkut barang ke Pelabuhan Pangkalbalam. “Mahal sekali ke Pangkalbalam. Ada yang bilang satu trip ke Pangkalbala‎m sama dengan dua kali ke Pontianak,” kata Fery.

Sedangkan General Manager PT Pelindo cabang Pangkalbalam Nugroho Iwan P men‎gatakan, Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Pelabuhan Pangkalbalam baru saja mendapatkan pengesahan dari Kementerian Perhubungan. “Ini akan menjadi acuan pengembangan pelabuhan ke depan,” ujarnya.

Seperti diketahui, alur pelabuhan Pangkalbalam hanya sekitar 2,8 Lws, sehingga berakibat kapal besar sulit masuk, Bukan itu saja, kapal juga terhalang kanan kiri atas jembatan Emas. “Ini beberapa hal di antaranya yang menyebabkan tingginya biaya yang harus dikeluarkan ketika membawa barang ke Pangkalpinang dibanding wilayah lain,” ungkapnya. (***)