Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Jawa Tengah menyatakan keberatan dengan rencana Pelindo III mengalihfungsikan dermaga pelabuhan Tanjung Emas sepanjang 570 meter menjadi terminal petikemas.

“Kacau itu Pelindo (PT Pelindo III), dermaga samudera sepanjang 570 meter, mau dialih fungsikan yang 325 meter jadi dermaga terminal petikemas, tinggal sisa 250 meter. Artinya swasta maritim akan digeser, tinggal tunggu waktu saja,” kata Ketua APBMI Jateng Romulo Simangunsong kepada Ocean Week, Senin (4/6) sore menanggapi rencana pengembangan Tanjung Emas yang akan dilakukan Pelindo III Tanjung Emas.

Mestinya, ungkap Romulo, Pelindo membuat dermaga baru lagi sepanjang 325 meter lagi, supaya tambah panjang, bukan malah mengurangi yang sudah ada. Karena dengan dermaga sekarang aja sudah ribut antrean, apalagi dikurangi lagi, dan tanpa solusi kan repot,” ungkapnya lagi.

Sebelumnya, Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Tengah (Jateng) menyatakan mendukung terhadap rencana investasi Pelindo III mengembangkan pelabuhan Tanjung Emas maupun pelabuhan di Kendal.

“Kita dukung rencana bagus itu, karena untuk kepentingan dunia usaha juga, kalau pelabuhannya bagus, aktivitasnya kan menjadi lancar,” kata Ari Wibowo, Ketua ALFI Jateng kepada Ocean Week, per telpon, baru-baru ini.

Kata owner PT Arindo ini, ALFI Jateng juga mengapresiasi positif program aplikasi home terminal yang dicetuskan BUMN tersebut. “Karena dengan home terminal, kita bisa pesan truk atau permintaan sandar kapal atau lainnya hanya lewat HP android, sehingga sangat memudahkan bagi kami pengguna jasa,” ucap Ari Wibowo.

Cuma, Ari mengingatkan, kalau Tanjung Emas dibangun untuk curah, lalu pelabuhan Batang juga beroperasi untuk PLTU, bagaimana nantinya.

Sementara itu, Commercial and Operational Director Pelindo III Mohammad Iqbal, saat dikonfirmasi Ocean Week sehubungan Tanjung Emas kedepan, dinyatakan bahwa pelabuhan di Semarang ini difokuskan untuk curah cair dan curah kering.

“Tanjung Emas tetap terus dikembangkan sesuai rencana induk pelabuhan (RIP). Sedangkan Kendal akan dikembangkan untuk penambahan kapasitas kontainer dan kawasan industri,” ungkap Iqbal.

Untuk diketahui, PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) menggelontorkan dana sebesar Rp 1,6 triliun untuk pengembangan pelabuhan Tanjung Emas Semarang, dan Rp 2,2 triliun untuk pengembangan pelabuhan di Kendal.

“Saat ini pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas memasuki tahap pra reklamasi, dimana area pelabuhan termasuk yang telah dilakukan reklamasi nantinya akan menerapkan sistem zonasi sebagai zona curah, zona peti kemas internasional, zona terminal penumpang, dan cruise,” kata Iqbal.

Untuk rencana pengembangan wilayah itu, Pelindo III telah mengantongi Surat Kelayakan Lingkungan Hidup Rencana Kegiatan Reklamasi (SKL) dan Izin Lingkungan (IL) yang ditetapkan pada tahun 2017 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Selama ini pengembangan terminal terhambat karena SKL dan IL yang dimiliki oleh Pelindo III tengah digugat. Tentunya hal ini tidak menyurutkan niat Pelindo III untuk tetap melanjutkan proses perijinan di Kementerian Perhubungan,” kata M. Iqbal.

Menurut dia, pengembangan Pelabuhan Semarang ini bertujuan untuk memperkuat kegiatan bongkar muat di pelabuhan sekaligus mendukung perekonomian Provinsi Jawa Tengah yang semakin meningkat sejak tahun 2012. (***)