Alur pelayaran Pelabuhan Baai Bengkulu terus mendangkal, sehingga kapal-kapal besar tak bisa masuk bersandar di dermaga pelabuhan untuk melakukan kegiatan bongkar muat. Pengerukan alur yang dilakukan oleh Pelindo II pun dinilai molor dari target waktu yang ditentukan.

“Kapal besar sudah nggak bisa lagi sandar di pelabuhan Bengkulu, karena dangkal. Kapal tidak sesuai dengan kondisi alur pulau, karena sampai saat ini draft 5,7 meter Lws,” kata Suharto, Ketua DPC INSA Bengkulu, saat dimintai komentar kondisi pelabuhan Bengkulu saat ini, melalui telpon, Jumat dini hari (1/6).

Suharto minta supaya pihak Pelindo II mengganti kapal keruk untuk percepatan pengerukan alur pelayaran, sehingga pengguna jasa di pelabuhan ini bisa merasa nyaman berkegiatan disini, terutama pelayaran dengan kapal-kapal besar. “Saya minta penggantian kapal keruknya diperhatikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ocean Week yang mencoba mengkonfirmasi hal ini kepada Hambar Wiyadi, GM Pelindo II Cabang Bengkulu, tidak pernah mendapat jawaban. Meski sudah dua kali menanyakannya lewat WhastApp, namun hingga berita ini ditulis belum ada jawaban dari Hambar Wiyadi.

Seperti diketahui, bahwa pihak PT. Pelindo II Cabang Bengkulu Provinsi Bengkulu konon telah mengganti kapal keruk dengan kapasitas lebih besar. Tapi, kapal keruk itu masih dalam proses pemesanan PT Rukindo (Pengerukan Indonesia) sebagai operator pengerukan.

Informasi yang diperoleh Ocean Week, menyebutkan proses pemesanan kurang lebih memakan waktu dua bulan hingga kapal tiba di Bengkulu.

Sebelumnya, pengerukan di pelabuhan Bengkulu ini mengunakan kapal keruk jenis Trailing Suction Hoper Dreger (TSHD) kapasitas 4.000 M3. Sehingga tidak mampu mengeruk alur pelabuhaan yang dipenuhi pasir padat itu.

Saat ini, pihak Rukindo sedang mendatangkan kapal keruk Dleveros dari Swedia yang sebelumnya juga pernah mengeruk di pelabuhan tersebut. Kapal ini akan mengeruk alur pelabuhan hingga mencapai kedalaman 10 LWS dari kondisi saat ini yang hanya 5,6 LWS.

Suharto berharap pengerukan alur pelayaran di pelabuhan Baai ini dapat segera tuntas, sehingga kapal besar pengangkut betubara maupun petikemas dapat kembali normal berkegiatan disini. (***)