PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) melakukan pengembangan pelabuhan Tanjung Emas Semarang senilai Rp 1,6 triliun untuk proses reklamasi di wilayah Kalibaru Barat seluas 22 hektar, sebagai dukungan program tol laut pemerintahan Joko Widodo.

Saat ini pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas memasuki tahap pra reklamasi, dimana area pelabuhan termasuk yang telah dilakukan reklamasi nantinya akan menerapkan sistem zonasi sebagai zona curah, zona peti kemas internasional, zona terminal penumpang, dan cruise.

Untuk rencana pengembangan wilayahitu, Pelindo III telah mengantongi Surat Kelayakan Lingkungan Hidup Rencana Kegiatan Reklamasi (SKL) dan Izin Lingkungan (IL) yang ditetapkan pada tahun 2017 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Selama ini pengembangan terminal terhambat karena SKL dan IL yang dimiliki oleh Pelindo III tengah digugat. Tentunya hal ini tidak menyurutkan niat Pelindo III untuk tetap melanjutkan proses perijinan di Kementerian Perhubungan,” kata M. Iqbal, Commercial and Operational Director Pelindo III.

Menurut dia, pengembangan Pelabuhan Semarang ini bertujuan untuk memperkuat kegiatan bongkar muat di pelabuhan sekaligus mendukung perekonomian Provinsi Jawa Tengah yang semakin meningkat sejak tahun 2012.

“Tentunya peningkatan perekonomian di Jawa Tengah menginisiasi Pelindo III untuk mengembangkan pelabuhan yang dikelolanya dalam mendukung ekonomi Negara. Apalagi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang menjadi salah satu dari 24 pelabuhan feeder bagi pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul dari rangkaian jalur tol laut sehingga dengan adanya terminal baru maka proses pemindahan barang bisa dilakukan di dalam area pelabuhan,” ungkapnya.

Sementara itu, GM Pelindo III Tanjung Emas, Ardhy Wahyu Basuki, menyatakan kinerja di pelabuhan ini menunjukkan tren positif. Hal itu terlihat pada realisasi arus kapal selama triwulan I tahun 2018 sebesar 6,1 juta gros ton atau 103% di atas target yang sebesar 6 juta gros ton. Juga di atas realisasi periode yang sama tahun lalu sebesar 5,7 juta gros ton atau meningkat sebesar 8%.

Untuk arus barang di triwulan I juga melebihi target. Tercatat sebesar 1,14 juta ton dan 193 ribu meter kubik di tahun 2017, meningkat menjadi 1,26 juta ton dan 226,7 ribu meter kubik di tahun 2018 ini. “Tercapainya target arus barang dikarenakan peningkatan barang-barang impor general cargo, khususnya heavy cargo seperti roda-roda mesin dan besi baja. Untuk peningkatan arus barang dalam negeri di dermaga umum, berupa komoditas curah kering seperti batubara dan pasir,” kata Ardhy.

Untuk diketahui, pelabuhan yang cukup potensi ini sayangnya terus digerus dengan turunnya tanah setiap tahun, termasuk belum ditemukannya solusi mengatasi banjir Rob air laut yang hampir setiap saat menggenangi pelabuhan ini, sehingga sering mengganggu aktivitas di Tanjung Emas tersebut. (pld3/***)