Kementerian Perhubungan akan terus mendorong agar kapal-kapal besar bisa sandar di Pelabuhan Tanjung Priok. Bahkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menargetkan Tanjung Priok menjadi hub internasional pada tahun 2019. Dengan demikian, semua proses ekspor tidak akan lagi melalui Singapura.

Demikian pernyataan Menhub Budi kepada pers disela acara Ekspor Langsung dari Priok ke Los Angeles Amerika Serikat oleh Presiden Jokowi, Selasa (15/5) sore menggunakan kapal CMA CGM Tage.

“Agar lebih banyak kapal besar yang bersandar pertama harus murah,” ujarnya.

Sekarang ini kira-kira 3 juta TEUs kontainer yang ekspor lewat Singapura. “Menurut informasi, sekarang sudah 800.000 yang kita tarik, nah ini kita akan tarik terus, kalau kita bisa narik dua juta saja ini langsung menjadi 9 juta (throughput Priok). Apa yang kita rencanakan dalam dua tahun, naik dengan pertumbuhan 20 persen itu tercapai,” kata Budi Karya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah melepas kapal kontainer raksasa perdana 10.000 TEUs mengangkut sekitar 4.000 TEUs ekspor langsung ke Los Angeles, Amerika Serikat (AS) dari dermaga JICT.

Jokowi mengatakan ekspor langsung ini akan mengefisienkan biaya sebesar US$ 300 per kontainer ukuran 40 kaki (feet). “Ekspor langsung ke negara tujuan akan membuat barang asal Indonesia memiliki daya saing lebih besar ke depannya. Apalagi, selama ini ekspor barang dari Indonesia biasanya harus transit ke pelabuhan lain di kawasan, sebelum dikirim lagi ke negara tujuan,” kata Presiden Jokowi.

Menhub Budi juga menyatakan, langkah yang bisa dilakukan untuk menjadikan Priok hub port, selain murah adalah dengan memberikan insentif. Artinya semakin besar kapal yang bersandar, maka semakin besar pula insentif yang diberikan.

“Ya ini kan satu, kita menghitungnya progresif. Artinya tidak berdasarkan jumlah dari pada TEUs-nya tetapi berapa space yang dia pakai. Nanti PNPB-nya juga gitu. Bukan karena dia besar jadi mahal malah kalau dia besar kita kasih insentif,” ujar Budi Karya.

Strategi lain untuk mengundang kapal-kapal besar ke Priok yakni transparan. Maksudnya, dari sisi biaya dan regulasi, Pelindo II tidak perlu melakukan pungutan pungutan tambahan.

“Yang ketiga pastinya diberikan kemudahan,” ungkap Menhub.

Selain ketiga hal tersebut, menurut Budi Karya, perlu diperhatikan sarana dan pra sarananya harus bagus. Oleh karena itu, pihaknya terus melakukan upaya-upaya perbaikan terhadap pelabuhan-pelabuhan termasuk Priok agar kapal berukuran besar bisa masuk.

“Semua prasarananya harus bagus. Kalau itu sudah tercapai, maka skala ekonomi yang lain akan dengan sendirinya terbangun. Makanya saya push sekali apa yang ada di Priok ini. Selalu saya katakan, lebih murah, lebih mudah, lebih transparan dan lebih cepat. Dengan menciptakan kondisi seperti ini otomatis mereka (kapal besar) tertarik,” tutur Menhub Budi Karya.

Pada acara pelepasan ekspor langsung tersebut, hadir 4 menteri kabinet kerja, yakni Menhub Budi Karya Sumadi, Menneg BUMN Rini Soemarno, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito, dan Menteri Perindustrian Erlangga Hartarto.

Selain itu, hadir pula Dirjen Hubla, Dirjen Bea Cukai, direksi Pelindo II, direksi JICT, serta pada asosiasi terkait kepelabuhanan. (***)