Sesuai dengan Program Nawa Cita Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan mengingat Indonesia adalah salah satu dari negara kepulauan terbesar di dunia, menjalin konektivitas nusantara melalui transportasi maritim menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi poros maritim dunia.

Demikian disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Perhubungan Bidang Hubungan Internasional, Duta Besar Dewa Made Sastrawan saat bertindak selaku salah satu panelis pada perhelatan Asia-Europe (ASEM) Conference on Green Shiphing, Blue Business Moving Together, yang berlangsung di Singapura, pada tanggal 26-27 April 2018 lalu.

Seiring dengan upaya membangun konektivitas, Dewa Made menyampaikan bahwa Indonesia juga tetap menjunjung komitmennya untuk menjaga perlindungan lingkungan maritim.

“Indonesia membangun infrastruktur-infrastruktur Maritim yang ramah lingkungan dengan tetap mempertahankan semangat Paris Agreement dalam isu Green House Gases (GHG) untuk mengurangi gas rumah kaca dan mendukung terwujudnya Sustainable Development Goals (SDG’s)”, ungkap Dewa, sebagaimana rilis yang dikirim ke Ocean Week, Rabu pagi ini.

Selanjutnya, terkait Green Shipping, Dewa Made menyatakan bahwa sebagai anggota Internasional Maritime Organisation (IMO), Indonesia merancang regulasi penerapan Green Shipping sesuai dengan ketentuan Organisasi tersebut.

Menurut Dewa Made, Indonesia memerlukan kerjasama investasi untuk menerapkan Green Shipping Technology. Untuk itu Indonesia perlu menjalin kerjasama teknik (technical cooperation) dengan negara-negara anggota ASEM.

“Kerjasama ini dapat mempermudah proses adaptasi Indonesia untuk mengimplementasikan ketentuan dan aturan IMO terkait Green Shipping. Dalam hal ini keberhasilan proyek tahap pertama IMO-Norwegian Agency for Development Cooperation (NORAD) untuk perlindungan lingkungan laut di Asia Tenggara (Marine Environment Protection of South East Asia Sea/MEPSEAS) dapat dijadikan model kerjasama teknik yang baik untuk memfasilitasi investasi penerapan green shipping technology di Indonesia,” jelas Dewa Made.

Lebih lanjut Dewa Made juga menyatakan bahwa kehadiran Indonesia dalam Konferensi ini menunjukan konsistensi kepemimpinan Indonesia dalam upaya mengurangi dampak emisi gas rumah kaca di Kawasan ASEAN.

Adapun terkait dengan peningkatan kerjasama teknik untuk mempersiapkan Indonesia melakukan kerjasama investasi green shipping ini, ditemui di kantornya di Jakarta, Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Junaidi menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan High Level Regional Meeting of MEPSEAS Project yang akan diselenggarakan di Bali pada akhir Juni 2018.

Pertemuan ini bertujuan untuk memulai fase kedua proyek kerjasama teknik perlindungan lingkungan hidup di alur pelayaran Asia Tenggara berdasarkan ketentuan IMO yang dilaksanakan dengan bantuan pendanaan dari NORAD.

“Melalui Pertemuan MEPSEAS di Bali nanti, kami akan mengusulkan program IMO-NORAD untuk capacity building guna mempersiapkan regulasi dan meningkatkan kemampuan regulator dalam penanganan program pengurangan emisi gas rumah kaca pada pelayaran melalui efisiensi energi,” ujar Junaidi.

Sebagai informasi, ASEM Conference on Green Shipping diselenggarakan oleh Pemerintah Norwegia untuk mengajak dan mendorong negara-negara ASEAN dan ASEM melakukan kerjasama teknis guna mengimplementasikan regulasi IMO dalam mewujudkan pelayaran yang ramah lingkungan (Green Shipping).

Dalam hal ini, Pemerintah Norwegia, melalui NORAD, menyediakan dana bantuan capacity building untuk implemetasi Green Shipping di Kawasan laut ASEAN melalui Proyek MEPSEAS. (hub/***)