PT Jakarta International Container Terminal (JICT) genap sudah berusia 19 tahun, tepatnya hari Minggu 1 April 2018 lalu. Sebagai terminal terbesar dan tersibuk di Indonesia, manajemen JICT terus berupaya melakukan peningkatan service, sesuai dengan perkembangan jaman, dan kepentingan pelanggan. Apalagi di era digitalisasi seperti saat ini, mau tak mau, terminal hasil kerjasama Hutchison dan PT Pelindo II ini, harus juga menyesuaiakan diri. Berbagai system digital secara online pun sudah disiapkan perseroan.

Bahkan, dalam rentan waktu 19 tahun tersebut, ‘JICT Untuk Indonesia’ sudah berhasil menghandle sebanyak 35 juta TEUs. Sebuah prestasi yang patut diapresiasi. Kepada reporter Ocean Week di Kantornya, Senin (16/4), Wakil Dirut JICT Riza Erivan didampingi Indira Lestari, Corporate Affairs Manager JICT, menceritakan banyak hal mengenai apa yang sudah dikerjakan terminal ini, maupun berbagai rencana kedepannya. Berikut petikan eklusif wawancaranya.

Bisa diceritakan, terkait dengan 19 tahun Ulang Tahun JICT?

Ulang tahun JICT yang ke-19 tahun ini kami rayakan sebagai bentuk rasa syukur kami atas apa yang sudah dapat kami raih selama ini. Ada dua hal sebagai apresiasi yakni kepada para karyawan dan stakeholders. Untuk para karyawan, akan kami rayakan pada 18 April ini, bertempat di lapangan parker depan kantor JICT. Sedangkan untuk stakeholders kami, akan dilaksanakan pada 30 April di salah satu hotel di Jakarta.

Selama perjalanan JICT apa yang paling terkesan di bapak?

Mengelola JICT itu lebih rumit dibandingkan dengan perusahaan umum. Karena ‘JICT Untuk Indonesia’ merupakan terminal terbesar di Indonesia, dan letaknya di pusat pemerintahan Indonesia. Gaungnya cepat terdengar oleh pemerintah pusat, ‘Batuk’ sedikit saja langsung telpon dari Sekneg (Sekretariat Negara). Makanya kami mesti bisa menjaga terminal ini supaya kondusif. Namun begitu, tinggal bagaimana kita me-manage-nya saja.

Program pengembangan JICT kedepan?

JICT sudah melakukan beberapa pengembangan infrastruktur. Misalnya membangun joint gate dengan TPK Koja, dan sekarang sudah jalan. Hal ini semata untuk meningkatkan layanan kepada para pelanggan untuk kelancaran lalu lintas barang dari dan ke terminal ini. Selain itu, kami juga telah memberi layanan dengan membuka kerja 24 jam 7 hari sesuai harapan pemerintah, maupun pihak-pihak terkait lainnya.

Selain itu?

Sambil menunggu perpanjangan konsesi pada tahun 2019 nanti, perseroan sudah melakukan pendalaman kolam di dermaga Utara menjadi 16 meter, supaya kapal besar bisa bersandar disitu. Akhir bulan April ini, akan masuk kapal 11 ribu TEUs, rencananya dibuka Presiden Joko Widodo. Sementara untuk dermaga barat diperdalam menjadi 14 meter. Namun untuk di dermaga barat ini sebelumnya dilakukan perkuatan di areal sekitar dermaga lebih dulu. Kedepan, crane-crane penunjang kegiatan bongkar muat petikemas juga perlu peremajaan agar service tetap mampu terjaga yakni 27 pergerakan per box per jam. Untuk mewujudkan semua itu, dibutuhkan dana investasi yang sangat besar, makanya kami menunggu perpanjangan konsesi.

Bagaimana dengan transshipment?

Untuk mewujudkan hub port (transshipment) Tanjung Priok perlu dukungan pemerintah, dan sebenarnya untuk transshipment domestic sudah jalan. Sedangkan transshipment internasional sudah juga siap dan sudah mulai. Misalnya container dari China tujuan Australia, transshipment di JICT. Merealisasikan konsep ini, ada konsekuensinya, bagaimana kita bisa bersaing dengan pelabuhan Singapura kalau biayanya tidak lebih murah dari mereka (Singapura-red). Ini mesti dapat dukungan Pelindo II, dan biaya mesti lebih rendah dari yang selama ini berjalan. Prinsipnya, bagaimana kecepatan/ketepatan waktu, aman, biaya lebih murah, dan lebih baik dari Singapura maupun Negara lain. Untuk transshipment kita kenakan US$ 56, sementara untuk tariff umumnya US$ 83 per container.

Saat ini sedang kembali ramai dwelling time, menurut bapak?

Kami pasti akan support keinginan Presiden Jokowi lewat Menhub Budi Karya agar dweling time di Tanjung Priok 3 hari. Bersyukur di terminal JICT ini sudah mendekati 3 hari. Kami terus berupaya untuk dapat mencapai hal tersebut, sehingga bisa menurunkan cost logistic.

Juni 2018 mendatang DO Online dilaksanakan, menurut bapak?

Untuk JICT tidak ada masalah, karena JICT sudah melakukan program pemerintah ini cukup lama dengan shipping line, bahkan sampai sekarang sudah 19 shipping line yang melakukan ini. Tapi, untuk DO Online antara shipping dengan pemilik barang, JICT tidak ikutan, karena itu domainnya pelayaran. Namun pinginnya JICT, bagaimana digitalisasi online ini antara pengguna jasa dengan terminal saja.

Apa layanan unggulan melalui online system JICT?

Kami sudah memiliki system MyJICT yang dapat di download lewat HP. Isinya masih sebatas moving kapal dan container, baru sebatas itu. Ini adalah salah satu bagian dari peningkatan layanan kemudahan kepada para pelanggan.

Apakah JICT tidak khawatir dengan ketatnya persaingan antar terminal di Tanjung Priok?

Kami rasa, antara terminal di Tanjung Priok sudah memiliki pasar masing-masing, sekarang tinggal bagaimana level of service-nya, lalu bagaimana menjaga hubungan baik dengan customer. Kami pun tidak perlu cemas dengan rencana dibangunnya NPCT2, karena membangun itu selalu dihitung dengan ada tidaknya demand. JICT dengan kapasitas terpasang 3 juta TEUs, sekarang baru tercapai 1,9 juta TEUs.

Harapan bapak dengan munculnya terminal petikemas di Priok ini?

Yah,,kami berharap dapat bersaing secara sehat antara para terminal disini (JICT, TPK Koja, MAL, NPCT1, dan TO3). Nantinya, kalau Patimban juga sudah ada, tak perlu lagi di regulasi, serahkan saja pada pasar (B to B), sehingga para pengguna jasa yang akan memilih dan menentukan dimana mereka berkegiatan. (rs/ow/**)