Pelabuhan Marunda di Jakarta Utara, dari hari ke hari semakin ramai dengan kunjungan kapal. Paling tidak, sekitar 300 call per bulan, kapal-kapal itu keluar masuk di 4 terminal pelabuhan Marunda, yakni Marunda Center Terminal (MCT), Kaliblencong, Alfa, dan KCN.

Data mencatat bahwa kapal yang masuk di tahun 2017 mencapai 7.908 unit, atau naik 11% dibandingkan tahun 2016 yang ada 7.091 unit. Sementara, kapal yang berangkat di tahun 2016 tercatat 7.087 unit, dan pada tahun 2017 mencapai 7.904 unit.

“Sedangkan total barang yang dibongkar muat tahun 2017 mencapai 21.809.491 ton,” kata Anggiat Douglas, KSOP Marunda, kepada Ocean Week, di Kantornya, kemarin.

Anggiat optimistis, pada tahun ini (2018) kegiatan di pelabuhan Marunda akan meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Anggiat, komoditi yang masuk keluar di pelabuhan ini, selain break bulk, juga ada pulp, offshore, dan kendaraan maupun alat berat. “Di MCT misalnya, kegiatan disini ada CPO, batubara, pasir, dan kendaraan,” ujar Anggiat.

Sedangkan di dermaga Alfa, ungkap Anggiat, lebih banyak untuk kegiatan kapal-kapal offshore. “Untuk dermaga KCN dan Blencong lebih didominasi batubara, dan pasir,” ucapnya lagi.

Anggiat juga mengiyakan jika Kemenhub telah mewajibkan perairan Marunda sebagai wajib pandu tunda. “Surat keputusan untuk pelimpahan wajib pandu tunda baru saja dikeluarkan oleh pemerintah (Kemenhub) kepada KBS sebagai pelaksana pandu tunda di Marunda,” tuturnya.

Ketua Umum INSA, Carmelita Hartoto ketika dimintai tanggapannya mengenai pelabuhan Marunda, menyatakan seharusnya pelabuhan Marunda menjadi back up pelabuhan Tanjung Priok. “Mestinya Marunda harus dianggap bagian dari kegiatan Tanjung Priok,” kata Carmelita saat dikonfirmasi Ocean Week, Kamis sore (12/4).

Selama ini, ungkap Meme (panggilannya) kita terlalu fokus dengan pelabuhan petikemas, dimana banyak orang yang berpikiran dan menganggap kebutuhan kapal curah itu sedikit. “Itu salah, karena masih banyak kargo yang tidak bisa kita masukkan ke kontainer, sehingga dermaga untuk kegiatan break bulk sangat dibutuhkan, dan kita mesti perhatikan juga itu,” ujar Carmelita.

Meme mencontohkan bahwa di pelabuhan curah itu, mayoritas kapal-kapal masih harus menunggu cukup lama untuk bersandar. “Makanya harus ditingkatkan fasilitasnya,” ungkapnya.

Di tempat terpisah, Banu Amza, salah satu pengusaha di pelabuhan Marunda membenarkan jika aktivitas kapal dan barang di pelabuhan ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Dia memisalkan, di dermaga Blencong setiap hari antara tiga sampai 4 kapal sandar untuk membongkar muatannya. Apalagi di dermaga KCN, lebih banyak lagi.

“Setiap bulan, sekitar 50 kapal yang saya tangani masuk ke Marunda. Cuma sayang, akses jalan ke pelabuhan ini sering rusak. Kita berharap, para pihak yang berwenang segera bisa memperbaikinya,” ungkap Banu dari pelayaran Sayusan Bahari.

Dukungan Dua Kawasan Industri

Sementara itu Aulia Febri, Direktur MCT, menyataan siap memberikan layanan prima kepada para pengguna jasanya. Pihaknya juga berencana melakukan pengembangan fasilitas untuk mendukung aktivitas di terminalnya.

“Kami sudah mendapat konsesi pada tahun lalu,” ungkapnya.

Ketua Umum ABUPI ini menilai bahwa pelabuhan Marunda memiliki prospek bagus dimasa mendatang. “Ada dua kawasan industri sebagai hinterland pelabuhan ini,” ucapnya.

Menurut Febri, Marunda Center Terminal (MCT) berlokasi di dalam Kawasan Industri Marunda Center di Bekasi, Jawa Barat dan merupakan terminal serbaguna (multi purpose terminal) untuk melayani beberapa jenis kargo yaitu antara lain kargo Curah Cair, kargo Curah Kering, Kargo Umum dan kendaraan.

“MCT terdiri dari Terminal 1A dan Terminal 1B. Terminal 1A telah di operasikan sejak Q3 tahun 2014 dengan panjang dermaga 600 meter, kedalaman kolam pelabuhan 6.5 meter LWS, dan mampu melayani sandar kapal sampai dengan ukuran 10.000 DWT,” katanya.

Sedangkan Terminal 1B memiliki panjang dermaga 1.020 meter, kedalaman kolam pelabuhan 9.5 meter LWS, dan mampu melayani sandar kapal sampai dengan ukuran 40.000 DWT.

Selain fasilitas dermaga, juga dilengkapi fasilitas Rack Pipa yang dapat digunakan untuk kargo jenis curah cair, fasilitas penyimpanan barang yang memadai sesuai dengan jenis kargo.

Marunda Center Terminal juga telah memiliki sertifikasi international yaitu International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code. Fasilitas lainnya yang tersedia adalah SMART Gate system, CCTV monitor, dan Pengawasan udara tanpa awak (Drone Surveillance).

Seluruh kegiatan operasional terminal dilakukan oleh sumber daya manusia yang professional dan bersertifikasi serta di dukung oleh sistem operasi terminal yang bernama sistem Marunda On Line.

Terminal ini, dapat mendukung para pengguna jasa pelabuhan yang ada di dalam Kawasan Industri Marunda Center dan diharapkan berfungsi sebagai salah satu pilihan pintu gerbang terhadap kawasan industri di wilayah Bekasi, Cibitung, Cikarang, Karawang, dan lainnya. Dengan demikian Marunda Center Terminal memiliki peranan penting untuk mendukung program Tol Laut. (***)