Kegiatan kapal dan barang melalui pelabuhan Merak Mas (Indah Kiat) Banten belum normal. Saat ini, lebih banyak menangani bongkar muat barang untuk kepentingan sendiri (milik Sinar Mas). Meski begitu, setiap minggu sekali, kapal kontainer masih masuk ke pelabuhan ini, dengan muatan sekitar 300 TEUs.

Johanes Joko, GM Pelabuhan Merak Mas menyatakan, bahwa sejak keluarnya instruksi Dirjenla Nomor: UM.008/99/80/DJPL-17 tanggal 29 Desember 2017 tentang Langkah-Langkah Penertiban Perizinan Terminal Khusus dan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri, aktivitas di pelabuhan ini berkurang banyak.

“Masih sepi, sekarang disini (Pelabuhan Merak Mas) lebih banyak melayani barang untuk kepentingan sendiri (milik Sinar Mas). Tapi kapal kontainer masih masuk seminggu sekali, sekitar 300 TEUs dibawa ke Singapura,” kata Johanes kepada Ocean Week, Kamis (12/4) siang.

Johanes menambahkan, sudah tiga bulanan ini kegiatan break bulk melalui Merak Mas menurun. “Kita lagi urus surat ke pemerintah minta supaya Merak Mas bisa melayani barang umum,” ucapnya.

Ketika ditanya masuknya kembali beras impor yang dibongkar di pelabuhan Merak Mas, Johanes tak mau berkomentar. “Kami hanya menangani kapalnya saja, dan menyiapkan fasilitasnyaKementerian Perdagangan telah membuka pelabuhan Mer, tapi kalau muatannya yang urus perdagangan (Kemendag),” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan mengungkapkan, pelabuhan Merak Mas telah dibuka sebagai tempat untuk bongkar muat barang impor pada bulan ini. Para importir sudah bisa menggunakan pelabuhan tersebut.

“Sudah dibuka, sejak kapan itu kalau nggak salah awal bulan ini,” katanya kepada wartawan, Kamis (12/4).

Menurut Oke, dibukanya pelabuhan Merak Mas tersebut, selain untuk mengurangi kepadatan Tanjung Priok, juga untuk memberi kemudahan kepada para importir. “Bukan dialihkan jadi kita menghindari, memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk tidak berpadat ria di Tanjung Priok,” ucap Oke. (***)