Banyak pelayaran yang berkegiatan di pelabuhan Tanjung Priok komplain, layanan pandu tunda sering terlambat, terutama pada saat jam ‘horor’.

Maksudnya jam horor atau jam kritis itu, pada saat pergantian sheet. “Karena keterlambatan itu, pelayaran jadi delay, dan pelayaran jadi rugi,” kata Munif, Operasional manager PT Bukit Merapin, didampingi Andre BEN Line, kepada Ocean Week, di Jakarta Utara, Jumat (9/3).

Menurut Andre dan Munif, keterlambatan pandu tunda dapat mempengaruhi terhadap window dan sandar bukan saja di pelabuhan disini, namun juga di pelabuhan berikutnya.

Ironinya, kata Ujang, panggilan familiarnya, jika yang terlambat pihak pelayaran dikenai denda, tapi kalau pandu tunda terlambat tidak ada sanksi.

Ujang mencontohkan, hari ini (Jumat, 9/3), ada kapalnya minta pelayanan pandu tunda jam 09.00 wib, baru memperoleh pelayanan jam 02.00 wib.

Pelayaran berharap supaya, pandu tunda ditangani satu komando atau satu atap. “Sekarang memang secara aturan, pandu tunda sudah berada dibawah Pelindo cabang Tanjung Priok, tapi praktiknya masih juga di JAI, khususnya tunda dan perencanaan planner juga dibawah JAI. Kalau bisa satu komando saja,” ujar Bambang Sumaryono, wakil ketua INSA Jaya menambahkan.

Ketiganya membenarkan jika keterlambatan itu, terjadi hampir setiap hari.

“Direksi Pelindo II mesti perhatikan masalah ini,” ungkap mereka.

Sementara itu, direktur PT JAI Capt. Supardi ketika dikonfirmasi mengenai keterlambatan ini menyatakan, kapal tunda tidak mungkin terlambat, karena setiap hari banyak menganggur. “Sudah ada banyak bangat, kalau pandu coba tanya cabang Priok (Pelindo Cabang Tanjung Priok)) karena pandu di bawah cabang priok,” kata Capt. Pardi.

Pardi justru mempertanyakan keterlambatan itu di perencanaan, pandu atau tundanya.

Sebab, ungkap Pardi, baru-baru ini ada komplain dari pelayaran, tapi setelah dijelaskan, pelayaran itu balik mengucapkan terimakasih atas layanan PT JAI. (**)